16

AUG 19

Tim writer GoodLife

Sebelum Ada Aplikasi jodoh, Ini Dia Tradisi Cari Jodoh Di Daerah Indonesia

Yang masih single merapat!

Sekarang, mencari jodoh kini bisa dilakukan lewat aplikasi maupun online. Sebut saja Tinder, Hinge, Match.com, dan sebagainya. Tapi, sejak zaman dulu pun nenek moyang kita sebetulnya sudah memiliki cara mencari jodoh lewat tradisi turun temurun yang sarat makna. Disarikan dari berbagai sumber, berikut ini beberapa di antaranya.

 

Kabuenga Wakatobi

Kabuenga, yang berarti ayunan, merupakan tradisi pencarian jodoh di Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Tradisi yang diadakan setahun sekali ini berawal ketika para pria lajang warga Wakatobi jarang bertemu gadis-gadis karena harus pergi berlayar. Melalui kabuenga, setiap kali pulang berlayar, para pria ini akan disambut gadis-gadis yang membawakan minuman. Saat itu juga menjadi kesempatan bagi mereka untuk saling mengenal dan mencari kecocokan.  

( Image : www.sportourism.id.jpg )

Jika cocok, mereka bisa melanjutkan hubungan ke pelaminan. Pasangan yang sudah berikrar untuk menjalin hubungan ini kemudian akan diantar ke ayunan yang sudah disiapkan. Setelah itu mereka akan diayun oleh pemangku adat sambil dinyanyikan syair dan pantun. 

 

Gredoan 

Masyarakat Using di Banyuwangi juga memiliki tradisi mencari jodoh unik yang disebut gredoan. Dalam bahasa Using gredoan berarti menggoda. Tradisi ini dilakukan pada setiap malam perayaan Maulud Nabi. 

(Image: www.bombastis.com)

Memulai acara, warga kampung akan berkumpul, termasuk para pria lajang yang pulang dari merantau ke berbagai daerah. Si pria yang sempat berkenalan dengan si gadis kemudian akan memasukkan lidi ke celah dinding bambu dapur rumah sang gadis. Jika si gadis berkenan, ia akan memberi balasan dengan menarik lidi, sementara jika tidak berkenan, si gadis akan mematahkan lidi tersebut. Jika diterima, si pria dibolehkan bertamu dan berkenalan dengan orang tua dan keluarga si gadis.

 

Omed-omedan

Omed-omedan dalam bahasa Bali bermakna tarik menarik. Tradisi yang sudah dimulai sejak abad ke-17 ini berlangsung di Banjar Kaja, Sesetan, Denpasar, dan dilakukan setiap tahun setelah Hari Raya Nyepi.( Image : @balitop_instagram.jpg )

Awalnya, pasangan pria dan wanita lajang digiring menuju lokasi yang sudah dibasahi air dan iringan tarian. Pasangan ini kemudian dibopong dan dipertemukan di tengah-tengah kerumunan masyarakat sambil diguyur air. Setelah bertemu di tengah kerumunan, si pria akan berusaha mencium dan memeluk si gadis. Sementara si gadis akan berusaha menghindar. Selain untuk mencari jodoh, tradisi ini juga memiliki makna pentingnya hidup rukun dan saling mengasihi. 

 

Bibit, Bobot, Bebet

Masyarakat Jawa biasanya akan memperhitungkan bobot, bibit, dan bebet untuk memilih dan menentukan jodoh. Kriteria ini menjadi acuan orang tua untuk memilihkan jodoh yang baik bagi anaknya, khususnya anak perempuan

Bobot mengacu pada kualitas diri calon pasangan, lahir dan batin. Ini termasuk akhlak, pendidikan, keimanan, kecakapan. Terpenuhinya kriteria bobot berarti si calon siap meminang sepenuhnya. Sementara bibit adalah mengenal asal-usul dan latar belakang calon pasangan, termasuk keluarganya. Ini penting untuk memastikan bahwa calon yang dipilih berasal dari keluarga yang jelas asal-usul dan cara mendidiknya. 

Kriteria terakhir adalah bebet, yang berasal dari kata bebed atau cara berpakaian (penampilan) yang mengacu pada status sosial seseorang, meskipun bukan kriteria yang utama. 

 

Ngarot

Tradisi ngarot sebetulnya merupakan ungkapan syukur warga Indramayu atas hasil panen kedua menjelang musim tanam. Namun, upacara ini sekaligus juga dijadikan ajang pria lajang dan gadis mencari jodoh.

Acara dimulai dengan berkumpulnya warga di balai desa, dilanjutkan arak-arakan keliling desa. Para gadis mengenakan kebaya lengkap dengan hiasan bunga di rambut mereka, sementara para pria mengenakan busana tradisional yang tak kalah menarik. Setelah arak-arakan, mereka akan kembali ke balai desa untuk mendapat wejangan. Pada saat inilah mereka akan saling mengenal.

 

Kamomose

(Image: www.boombastis.com)

Tradisi pencarian jodoh di Buton yang disebut kamomose ini sangat unik. Para gadis yang yang sudah siap menikah akan berbaris rapi sambil memegang wadah untuk menampung kacang yang dilemparkan para pria. Setelah itu, si pria akan berputar mengelilingi barisan para gadis sambil melempar kacang ke gadis idaman mereka. Selanjutnya mereka bisa memilih untuk melanjutkan ke perkenalan selanjutnya atau tidak.

 

Konde Tompa

Tradisi mencari jodoh juga bisa ditemukan di Toandona, Sangia Wambulu, Buton Tengah. Tradisi ini dilakukan setelah Hari Raya Idul Fitri. Prosesi diawali oleh keluarga yang menyiapkan makanan tradisional dan meletakknanya di atas nampan. Para gadis lah yang kemudian menunggui nampan tersebut dan menunggu kedatangan para pria. 

(Image: Defriatno Neke/Kompas.com)

Para pria yang sudah menunggu di depan rumah kemudian akan masuk dan duduk di depan gadis-gadis tadi. Pada kesempatan itu mereka akan berbincang, sambil si gadis menyuapkan makanan pada sang pria. Jika cocok mereka akan melanjutkan hubungan.

 

Kalau tradisi perjodohan di daerah kamu apa?

Recommended Articles