26

AUG 19

Tim writer GoodLife

Tips Mengelola Penghasilan Generasi Milenial

Generasi milenial dikenal sebagai generasi yang kreatif, mandiri, dan suka nasis. Bagaimana dalam hal pengelolaan keuangan?

 

Generasi milenial berbeda dengan generasi sebelumnya. Dalam hal pengelolaan gaji atau penghasilan, misalnya. Pada generasi sebelumya, karena penghasilan kebanyakan hanya dari gaji, maka pengaturan atau pengelolaannya lebih simpel. Yakni dialokasikan untuk tabungan, asuransi, investasi, maupun pensiun (10-30%), melunasi hutang (30%), sisanya dihabiskan untuk kebutuhan hidup sehari-hari (40-60%).

“Kalau tidak diatur, hampir 90% penghasilan dari gaji akan habis untuk biaya kebutuhan hidup sehari-hari, sisanya buat nyicil hutang. Nggak sempat nabung atau berinvestasi,” kata perencana keuangan dari MRE, Mike R. Sutikno, CFP. 

Sementara pada generasi milenial, sumber penghasilan bisa jadi tak hanya dari gaji. Sangat bervariasinya business model zaman sekarang, selain gaji, milenial kebanyakan juga punya penghasilan sampingan. Contohnya dari bisnis jasa titip (jastip). “Sehingga kalau mindset dan pengelolaan keuangannya tidak mendukung, mau berapa pun sumber penghasilan tetap akan habis begitu saja. Tak punya tabungan atau investasi,” lanjut Mike.

Yang pertama harus dilakukan milenial untuk mengelola penghasilnanya adalah mengetahui dari mana saja sumber penghasilannya, berapa jumlahnya, digunakan untuk apa saja, dan hasilnya apa? “Kadang-kadang, dapetnya banyak, penghasilannya besar, sumbernya tak hanya gaji tetapi juga bisnis online misalnya. Mereka tahu dipakai untuk apa saja, tetapi giliran ditanya hasilnya apa, bisa-bisa hanya foto Instagram jalan-jalan ke luar negri,” urai Mike. 

Begitu dilihat lagi, saldo tabungan menipis, investasi tak punya, dana untuk pensiun pun tak ada. “Padahal, seharusnya mereka juga fokus ke tabungan, investasi, asuransi, persiapan pensiun, maupun aset (rumah, kendaraan). Hasilnya harusnya ini. Kebahagiaan  atau kesejahteraan seseorang itu kan, bisa ada nilai angkanya.” 

Jika punya sumber penghasilan lain selain gaji, misalnya bisnis jasa titip, pengelolaannya harus dipisah atau dibedakan. Yang satu untuk gaji, satu lagi untuk bisnis jastip. Sebagian penghasilan dari bisnis jastip dimasukkan juga ke rekening gaji (10%) dan selebihnya mengikuti pola pengelolaan keuangan yang di atas, yaitu 10%-30% gaji plus keuntungan bisnis jastip dialokasikan untuk tabungan, investasi, asuransi, dan pensiun. 

“Sisanya untuk cicilan hutang dan biaya kebutuhan hidup sehari-hari. Dengan pemisahan seperti ini, bisnis bisa dikelola secara profesional dan keuntungannya bisa dialokasikan untuk memperbesar tabungan maupun aset,” ujar Mike.

 

Memang, hal yang paling sulit dalam hal menabung adalah memulainya. Semoga dengan membaca tips mengatur keuangan ini bisa membantu kamu dalam mengembangkan strategi sederhana dan realistis, sehingga kamu bisa menyisihkan penghasilan untuk menabung jangka pendek maupun jangka panjang.

 

Recommended Articles