21

AUG 19

Tim writer GoodLife

Punya Pasangan ‘Anak Mami’, Harus Bagaimana ?

Lanjut atau.....

Apa-apa maunya tanya mama dulu. Duuuh, kesal banget deh punya pasangan ‘anak mami.’ 

 

Setiap mau memutuskan sesuatu, Farrel selalu bertanya dulu pada mamanya. Membeli baju harus mengajak mama. Setiap weekend wajib datang ke rumah mama, atau jalan-jalan bareng mama. Lama-lama Kalian sang pacar, kesal juga dong. Harus bagaimana sih menghadapi Farrel yang ‘anak mami’ ini?

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, Denrich Suryadi, M.Psi., Psikolog, menjelaskan ‘anak mami’ biasanya merupakan julukan yang diberikan pada orang dewasa yang sangat bergantung kepada sosok ibunya. 

Ciri-ciri ‘anak mami’ yang paling terlihat adalah tidak berani mengambil keputusan. “Ini disebabkan mereka cenderung sering diatur ibunya dan tidak tahu harus melakukan apa karena hanya menunggu instruksi,” tutur Denrich. Ciri lainnya, emosi ‘anak mami’ biasanya tidak stabil sehingga sedikit-sedikit marah atau ngambek.

 

Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang menjadi ‘anak mami.’ Pertama, orang tua yang overprotective karena takut kehilangan anaknya begitu dewasa. Kedua, pengalaman masa lalu orang tua yang diperlakukan dengan pola asuh seperti itu. Ketiga, orang tua tidak sadar telah bersikap overprotective. 

Bagaimana jika kita memiliki pasangan ‘anak mami’? “Jika memiliki  pasangan ‘anak mami’, baik laki-laki maupun perempuan, kamu sebaiknya membantu dia untuk belajar menjadi lebih dewasa dan melepas titel ‘anak mami’,” saran Denrich. Caranya?

 

BIASAKAN INISIATIF DAN MANDIRI

Cobalah melibatkan pasangan dalam mengambil keputusan yang penting. Sebab ‘anak mami’ biasanya bersikap manja, dependen, mengikuti kata maminya. 

“Maka biasakanlah ‘si anak mami’ untuk bisa berinisiatif dan mandiri. Misalnya, saat mau pergi biarkan dia yang berinisiatif mau pergi ke mana,” papar Denrich.

 

AJAK DISKUSI & SELESAIKAN KONFLIK

‘Anak mami’ saat dilanda masalah dan harus menyelesaikan biasanya cenderung menghindar atau malah marah. Sebab biasanya ibunyalah yang menyelesaikan masalah dia. Dengan kata lain, ‘anak mami’ lebih suka yang gampang-gampang saja alias serba manis.

“Jadi ketika ada konflik, terlebih konflik dalam hubungan, selalu ajaklah dia untuk berdiskusi supaya lama kelamaan dia berani mengemukakan pendapatnya sendiri. Konflik dalam hubungan jika tidak segera diselesaikan akan berlarut-larut dan memperburuk relasi,” saran Denrich.

Terutama yang laki-laki, sebagai kepala keluarga nantinya akan menjadi kurang termotivasi, malas bekerja keras, saat konflik meminta nasihat terus pada ibunya, serta menyerahkan peran rumah tangga pada istri. “Jangan salah, lho, sekarang ini tren perceraian banyak diajukan oleh perempuan karena suami-suami malas bekerja,” tukas Denrich.

 

Nah, jadi mulai sekarang, yuk bicarakan baik-baik dengan pasangan yang ‘anak mami’ agar hubungan berkembang dengan baik hingga di kemudian hari.

Recommended Articles