23

AUG 19

Tim writer GoodLife

Generasi Milenial Ternyata Lebih Rentan Depresi

Salah satunya masalah berat badan

Banyak hal yang memicu stres dan depresi pada milenial, termasuk urusan berat badan.  

Penelitian menunjukkan generasi milenial cenderung lebih mudah stres dan depresi. Faktor penyebabnya beragam, mulai dari tingkat kompetisi yang tinggi, kebutuhan yang semakin banyak, kehidupan yang kini bergerak lebih cepat, dan sebagainya

Karena tumbuh di saat teknologi berkembang sangat cepat, generasi milenial memiiki ciri khas, di antaranya sangat kreatif dan open minded. Mereka akan mencari cara yang bisa memudahkan mereka memenuhi semua kebutuhan mereka. Mereka tumbuh menjadi orang-orang yang kreatif karena terbiasa dengan hal-hal yang serba instan. “Karena open minded, mereka akan mencari informasi lebih dulu di internet,” kata psikolog LightHOUSE, Tara de Thouars.

Stres juga bisa muncul karena mereka sangat mudah bosan dan cenderung tidak sabaran. Padahal, ketika ada hal-hal yang tak sesuai dengan keinginan mereka, bukan berarti harus mencari hal baru tapi tetap mencoba dan tak gampang menyerah. “Kesuksesan terkadang baru bisa diraih dengan konsistensi dan kesabaran,” katanya.

Tara menyarakan, generasi milenial bisa memanfaatkan potensi positif seperti kreativitas dan open minded agar bisa membuat diri mereka lebih baik dan menggali potensi lebih dalam lagi. 

Tak cuma itu, generasi milenial juga mudah stres akibat masalah berat badan. “Mereka ini pengin berat badannya ideal. Merasa kegemukan, padahal setelah dicek body compositionnya, berat badannya tak ada masalah,” kata dr. Cindiawaty Pudjiadi, MARS, Sp.GK dari RS Medistra dan CBC Beauty Care.

Yang terjadi, ternyata massa ototnya ada di bawah angka normal, lemaknya berlebih, sementara asupan protein sangat kurang sehingga tidak balance. “Mereka nggak mau makan banyak karena takut gemuk. Mereka juga sering keliru memilih makanan.” Ujar ibu Cindy.

Memang segalanya akan terasa lebih menantang ketika depresi datang, dari berangkat beraktivitas, bersosialisasi bahkan untuk bangun tidur pun terasa berat. But hey, kamu harus ingat banyak hal positive yang dapat dilakukan yang dapat meningkatkan kualitas hidup kita.

Salah satu nya, coba pikirkan hal-hal yang ingin kamu lakukan ketika sedang bahagia. Kemudian, ketika rasa sedih itu datang, cobalah salah satu dari kegiatan itu. Just remind yourself, that its okay not to be perfect. 

 

Recommended Articles