29

AUG 19

Tim writer GoodLife

Kamu Berhak Bahagia! Ini Caranya Berdamai Dengan Masa Lalu

Masa lalu yang kelam meninggalkan luka batin mendalam. Tetapi hidup harus terus berjalan dan kamu berhak bahagia.

Andai saja kita bisa memilih, pasti kita hanya ingin memenuhi otak kita dengan kenangan-kenangan indah. Tetapi kenyataannya, otak kita pun tidak bisa begitu saja menghapus kenangan masa lalu yang menyisakan luka batin.

Putus cinta, perselingkuhan, KDRT, pertengkaran dengan orang tua, mimpi yang kandas, bisnis yang bangkrut, sakit keras, dan sebagainya. Semua hal itu membuat trauma yang mendalam.

Tapi hidup toh harus terus berjalan, dan kamu tentu saja berhak merasa bahagia. Psikolog Ruang Tumbuh, Irma Gustiana, M.Psi.Psi., memberikan beberapa cara yang bisa kamu coba untuk berdamai dengan masa lalu.

1.  Self Acceptance

“Harus ada yang namanya menerima diri sendiri bahwa saya memang mengalami kegagalan di masa lalu. Dengan menerima, kita bisa sadar dengan diri sendiri bahwa itu masa lalu dan sekarang saatnya saya harus melihat ke masa depan saya,” ujar Irma.

2.  Buang Barang Kenangan

Kalau luka batinnya masih sangat dalam, itu harus diminimalisir. Apapun yang ada kaitannya dengan, misalnya si mantan pacar, sebisa mungkin ditiadakan. Misalnya, foto bersama, barang-barang pemberian dia, atau apapun yang memiliki kenangan.

“Karena ketika kita melihat barang-barang tersebut akan mengembalikan memori masa lalu dan itu tidak baik secara jiwa. Lain hal jika kamu melihat dan merasa biasa saja, artinya sudah bisa berdamai.

Bagaimana dengan media sosial? “Sebaiknya unfollow media sosialnya dan jangan stalking-stalking. Ini proses penyembuhan yang panjang, lo,” tegas Irma.

3.  Komunikasikan Dengan Pasangan

Komunikasikan dengan pasangan akan datang bahwa kamu pernah mengalami trauma masa lalu. Tujuannya, pasangan baru diharapkan bisa menolong menyembuhkan rasa yang tidak menyenangkan ini.

4.  Fokus Pada Pasangan

Jika traumanya soal relationship dan sekarang sudah kembali menjalin hubungan, fokuslah pada pasangan yang sekarang. “Dan juga selalu menyadari setiap orang ada kelebihan dan kekurangan,” cetus Irma.

5.  Ciptakan Bahagia

Yang penting diingat, kita sendiri yang harus mengcreate bahagia untuk menyembuhkan pikiran kita, “Karena kita tidak bisa selalu menuntut orang lain untuk membantu kita.”

6.  Bantuan Profesional

Kalau traumanya sangat parah dan tidak hilang-hilang, bahkan mengarah ke arah kecemasan dan depresi. “Misalnya, jadi enggak mau nikah atau pacaran lagi karena takut banget kayak dulu. Itu artinya kamu butuh bantuan profesional, bisa berupa psikoterapi atau psikoedukasi. Tujuannya, melupakan dan menjadikan itu proses belajar,” saran Irma.

 

Jadi, yuk, berdamai dengan masa lalu. Jangan menyerah untuh terus meraih kebahagiaan. Ingat yaaa, bahagia itu kita sendiri yang ciptakan.

 

Recommended Articles