03

OCT 19

Tim writer GoodLife

Bila Rekan Kerja Dapat Promosi Lebih Dulu...

Duh! Kok, Dia Dapet Promosi Duluan Sih?

“Kenapa ya si Selvi bisa  dapet promosi? Padahal, anaknya kan, biasa-biasa saja. Apa kabar gue yang udah kerja lama tapi begini-begini aja.” curhat Bella ke temannya.

 

Yah memang perjalanan karier seseorang ditentukan oleh banyak faktor. Selain soal jam terbang, kemampuan, keterampilan, dan networking juga sangat menentukan. Tak jarang, karier teman seangkatan melesat mendahului karier kita sehingga timbul pertanyaan ‘bagaimana bisa?’ seolah tak bisa menerima. 

Apakah perjalanan karier teman, apalagi jika ia kemudian menjadi bos kita, itu menimbulkan rasa iri atau membuat hubungan pertemanan terganggu sangat ditentukan oleh sifat dan kepribadian masing-masing. Bagi karyawan pria barangkali persoalan seperti ini tak begitu mengganggu. Selama ada penjelasan rasional, hubungan personal maupun profesional tidak akan terganggu. 

Agak berbeda jika ini terjadi pada karyawan perempuan yang lebih banyak memakai perasaan. “Kalau bisa bersikap dewasa, urusan karier yang didahului teman seperti ini tidak akan mengganggu hubungan,” kata Elly Nagasaputra, MK, CHt., konseling keluarga dari www.konselingkeluarga.com. Semuanya, kata Elly, kembali ke kedewasaan dan pribadi masing-masing. “Ada yang bisa menerima, ada yang sulit. Di Indonesia mungkin lebih sulit karena orangnya lebih baperan, khususnya pada perempuan.”

Karier teman yang melesat juga bisa menjadi ganjalan bagi pertemanan jika yang didahului merasa lebih kapabel dibandingkan teman yang mendapat promosi tadi. Kalau temannya yang mendapat promosi lebih kapabel, mungkin masih bisa menerima. Tetapi kalau dia merasa lebih mampu dan lebih banyak memberikan berkontribusi dan berprestasi baik, ini bisa menimbulkan perasaan iri. Akibatnya, hubungan pertemanan pun menjadi terganggu. 

Yang mendapat promosi harus mampu bersikap profesional dan mengikuti job desk, bahkan seandainya temannya menjadi anak buahnya. “Sementara bagi yang kariernya didahului, juga harus bisa menerima dan bekerja dengan baik, sekalipun bosya adalah teman akrabnya sendiri,” lanjut Elly.

Bisa juga, pihak yang merasa didahului menanyakan kepada atasan atau pihak HRD, kriteria apa saja yang menentukan seorang karyawan mendapat promosi jabatan. “Siapa tahu ternyata temannya memang mendapat penilaian lebih di aspek lain. Jadikan masukan dari atasan atau HRD ini sebagai feedback untuk bekerja lebih baik mengejar promosi juga.”

Yang kedua, pihak yang didahului harus bisa membedakan mana urusan personal dan mana urusan profesional. Kalau sudah mendapat penjelasan dari atasan atau HRD, sebaiknya bisa legowo dan menerima promosi yang diterima rekan kerjanya tadi. 

Yang ketiga, jika setelah mendapat penjelasan dari atasan atau HRd masih merasa promosi yang dterima teman tadi tetap tidak adil, Elly menyarankan, “It’s oke to find another job, daripada bekerja tak nyaman dan malah stres.” Malah, jika diterus-teruskan bisa berkembang menjadi politik kantor yang tidak baik. 

Yang terakhir, dan ini sering terjadi, jika teman yang mendapat promosi tadi ternyata menjadi berubah sikap dan terkesan menjauh, tidak masalah jika terpaksa harus membatasi hubungan pertemanan. “Ya sudah, kalau si teman tadi misalnya jadi sombong dan menjaga jarak seteah promosi, sebaiknya tetap bekerja secara profesional saja,” saran Elly. 

>>>>

Bagaimanapun, bekerja dengan banyak orang membutuhkan kemampuan fisik dan mental supaya tidak stres. Jika kita bisa bekerja dengan happy, maka fisik dan mental pun akan happy juga. 

Recommended Articles