10

OCT 19

Tim writer GoodLife

Alasan Milenial Malas Kerja Dan Trik Mengatasinya

Memanggil kaum milenial, bener gak nih?

Banyak yang menganggap kalau kaum milenial sebagai orang-orang malas. Yah tanpa kita sadari, kita lebih banyak beraktivitas menggunakan jari kita. Contoh, jaman dulu orang jika ingin belanja langsung ke storenya,  kalau sekarang rasanya mendingan buka aplikasi e-commerce dan menunggu kurir datang antar pesanan kita.

Komunikasi pun sekarang juga sudah jauh berubah, kita lebih terbiasa menggunakan teks dan video call ke teman daripada langsung main ke rumahnya. Males masak tinggal order ojek online, gak sempat cuci baju sudah ada laundry pakaian. Wah.. benar-benar dimanjakan dan jadi bikin malas gerak ya. 

Sebenarnya kenapa sih alasan milenial menjadi malas?

Yang pertama adalah melek teknologi. Mungkin ini salah satu kelebihan yang dimiliki. Mereka hidup di era dimana hampir semua aspek kehidupan memakai teknologi. Contohnya, belanja, makan, dan sebagainya. “Nah, karena mereka lahir di zaman ketika internet adalah sesuatu yang sudah very common, ibarat oksigen buat mereka, mereka jadi sangat well adapt terhadap teknologi dan sangat bisa menggunakan teknologi tersebut,” kata Elly Nagasaputra, MK, CHt., konselor keluarga dari www.konselingkeluarga.com

Yang kedua, anak-anak milenial juga lebih kreatif. Mereka bisa memikirkan sesuatu yang 

sebelumnya dirasa tidak mungkin dan belum terpikirkan. Mereka bisa memikirkan jalan pintas, sementara generasi sebelumnya masih memakai cara konvensional yang 10 tahun lalu mungkin belum terlintas di benak. 

Kelebihan berikutnya, mereka lebih cepat beradaptasi dengan perubahan. Ketika ada sesuatu yang baru, mereka lebih easy to adapt. “Sementara generasi sebelumnya masih kolot, lebih suka curiga terhadap hak-hal baru,” lanjut Elly sambil menambahkan, kelebihan lain anak milenial adalah lebih berani. “Mungkin karena mereka ini easy going, jadi tidak terlalu memikikan resiko. Pokoknya hayo aja dulu, nggak terlalu berpikir panjang.” 

Toh, meski punya banyak kelebihan, generasi milenial juga memiliki banyak kelemahan. Yang pertama, daya juang mereka rendah dan kurang gigih. “Mereka lebih gampang putus asa sehingga depresi,” kata Elly.

Selain daya juang yang kurang, generasi milenial juga sangat menginginkan hasil cepat atau instan. “Bisa jadi mereka terkesan malas karena kurang gigih dan kurang daya juang. Mereka juga cepat bosan,” ujar Elly. 

Dalam hal pekerjaan, begitu merasa pekerjaan tidak sesusai dengan yang mereka mau atau harapkan, mereka bisa dengan cepat memutuskan resign dan pindah kerja. “Kariernya kutu loncat, padahal belum matang di satu tempat. Mereka selalu pengin segala hal bisa sesuai seperti yang mereka mau.”

Faktor lingkungan, khususnya orangtua, sangat berpengaruh terhadap karakter anak milenial. Lingkungan sekarang juga jauh lebih nyaman. “Mereka ini dilahirkan di dunia yang sudah nyaman dan segalanya ada. Mau makan tinggal pesan online, belanja juga tak perlu beranjak dari rumah,” kata Elly. 

Orangtua sebaiknya tidak terlalu permisif dan melatih anak agar lebih punya daya juang serta mandiri. Salah satu caranya adalah membiasakan mengerjakan sendiri pekerjaan rumah sehari-hari. “Yang akan menguji ketangguhan mereka adalah fase hidup yang mereka alami,” kata Elly. 

Recommended Articles