28

NOV 19

Tim writer GoodLife

Pasif Agresif di Dunia Kerja, Ini Maksudnya

Menurut Zahrasari Lukita Dewi, S.Psi. Msi, psikolog sekaligus dosen di Unika Atmajaya ini, perilaku pasif agresif sama dengan agresif. “Bedanya adalah kemarahannya tidak dikemukakan atau dieskpresikan secara langsung dengan berbagai pertimbangan.”

Orang dengan perilaku pasif agresif ini juga bisa kita jumpai di dunia kerja. Biasanya perilaku pasif agresif ini karena ia mempertimbangkan jika menunjukkan ketidaksukaannya secara blak-blakan, maka akan menanggung konsekuensinya, misalnya dipecat.

“Kenapa dibilang pasif karena (ekspresi emosinya) terselubung. Misalnya diminta meeting after office hour, dia enggak datang, disuruh setor pekerjaannya, menghilang atau enggak bisa dihubungi,” terang Zahrasari atau yang sering disapa Aya ini.

Ciri lain perilaku pasif agresif ini adalah jika ada masalah lebih suka mendiamkan orang lain dibanding menyelesaikan secara langsung.

“Yang berbahaya kalau dia ingin ‘melawan’ atasan atau temannya dengan menghasut supaya membantu dia untuk melawan atasan/teman tadi. Atau bisa juga dia menghasut agar rekan satu timnya tidak memberikan performa yang baik dengan memberikan isu negatif. Istilahnya sabotase,” kata Aya.

Perilaku pasif agresif ini, menurut Aya, sudah berpola dan selalu berulang. Setiap ia merasa tidak suka atau marah terhadap sesuatu, tidak diekspresikan secara langsung tapi dengan diam-diam, misalnya mengganggu kinerja tim dengan cara yang sangat ‘halus’.

Cara untuk menghadapi teman yang berperilaku pasif agresif?

Menurut Aya sangat sulit, “Karena perilaku ini memang sudah berpola dan selalu berulang. Untuk mengubahnya sangat sulit karena kompleks. Seperti kamu mengubah orang pendiam disuruh jadi lebih aktif atau ekspresif.”

Yang bisa kamu lakukan adalah menjadi mediator atau media untuk si pasif agresif ini menyalurkan emosinya. “Kalau kamu cukup dekat dengan dia, ajak dia bicara. “Kamu mau enggak kalau saya yang sampaikan soal keberatan atau keluhan kamu pada atasan?” sehingga kita jadi mediator aja.”

Atau jika si pasif agresif ini adalah rekan satu tim dan perilakunya jika dibiarkan bisa menghambat performa kerja, kamu bisa membantunya menyelesaikan tugasnya.

“Kamu bisa membantu mem-back up pekerjaannya kalau dia tiba-tiba menghilang dan enggak bisa dihubungi. Tapi kemudian aja bicara, “Ini kerjaan lo kita bantuin ya tapi lain kali kalau enggak setuju atau keberatan, bilang ya supaya enggak mengganggu kinerja tim.”

Dengan membantunya sebagai mediator, si pasif agresif ini lama-lama akan terbiasa berani mengekspresikan perasaannya. Karena yang namanya kerja, dibutuhkan kerja sama dan kekompakan antar anggota. 

Jika ada yang keberatan atau enggak suka, sebaiknya memang dibicarakan agar dicarikan solusinya dan bikin tim makin kompak. Setuju?

PASIF AGRESIF DUNIA KERJA

Recommended Articles