06

AUG 19

Tim writer GoodLife

Menarik, Penamaan Unik di Balik Makanan Indonesia

Ada - ada saja ya ternyata

Selain rasanya enak, nama unik makanan khas Indonesia, seperti pempek, cuanki, lodeh, dan tumpeng ternyata punya cerita yang menarik.

 

1.  Pempek

Alkisah, di masa Kesultanan Palembang, pempek yang awalnya bernama kelesan merupakan makanan adat. Kelesan artinya makanan tahan lama disimpan (dikeles). Orang asli Palembang kemudian menjual kelesan kepada orang-orang China yang jago berdagang.

Orang-orang China tersebut menjual kelesan berkeliling dari kampung ke kampung. Pembeli yang kebanyakan anak muda memanggil penjual dengan sebutan “Empek”. Akhirnya, nama pempek lebih dikenal ketimbang kelesan.

 

2.  Cuanki

Cuanki, kedengarannya seperti bahasa China. Padahal ternyata bukan, lo. Banyak yang belum tahu kalau kuliner khas Bandung yang berisi siomay kering, bakso, tahu putih dan kuah asin ini berasal dari singkatan Cari Uang Jalan Kaki.

Ini dikarenakan para penjual cuanki memanggul dagangannya sambil jalan kaki, bukan memakai gerobak dorong. Kreatif, ya!

 

3.  Lodeh

Ada beberapa versi asal usul nama sayur lodeh. Versi pertama, sayur berkuah santan gurih dengan isian labu, kacang panjang, dan terong ini berawal dari cerita pasukan Mataram yang menyerang Belanda di Batavia. Pejuang dari berbagai daerah, seperti Betawi dan Cirebon pun ikut serta.

Sayang penyerangan tidak berhasil, dan malah tentara Belanda membakar gudang makanan tentara Mataram. Dalam keadaan kelaparan di hutan, para tentara memasak beberapa bahan makanan yang tersisa tanpa resep. Ternyata, sayuran campuran ala kadarnya itu terasa lezat. Tentara-tentara itu saling bertanya, apa nama sayur itu. “Terserah lo deh mau dikasih nama apa,” celetuk tentara asal Betawi. Itulah asal mula nama sayur lodeh.

Versi lainnya, sayur lodeh berasal dari Yogyakarta dan dibuat sebagai penolak bala. Sayur lodeh berisi 12 bahan makanan, yaitu labu kuning, kacang panjang, terong, kluwih, daun melinjo, kulit melinjo, labu siam, papaya muda, nangka muda, kubis, sayur bayung serta kecambah kedelai dan dihidangkan pada upacara selametan.

Konon, di setiap masa sulit sejak berpuluh tahun lalu Sultan selalu mengajak rakyat memasak sayur lodeh. Bahkan, pada tahun 2005 saat badai besar di pesisir Australia bergerak ke arah pulau Jawa, Sri Sultan Hamengku Buwono X memerintahkan seluruh nelayan di pesisir Kulon Progo untuk memasak sayur lodeh.

 

4.  Tumpeng

Kata tumpeng berasal dari singkatan “yen metu kudu mempeng” yang artinya, ketika keluar harus sungguh-sungguh semangat. Maknanya, manusia sejak terlahir harus menjalani hidup dengan penuh kesungguhan, semangat serta keyakinan.

photo:  The Jakarta Post

Konon, masyarakat di Jawa mempersembahkan tumpeng sebagai bentuk penghormatan para leluhur di tempat bersemayamnya (gunung). Karena itulah bentuk tumpeng kerucut.

Recommended Articles