01

NOV 19

Tim writer GoodLife

Racik Jamu Sendiri di Workshop Suwe Ora Jamu

Mau bikin jamu sendiri di rumah? Workshop yang diadakan Suwe Ora Jamu ini bisa jadi pilihan.

Pagi itu, suasana di dalam kedai Suwe Ora Jamu (SOJ) di bilangan Petogogan, Jakarta Selatan, terlihat ramai. Hari itu, Selasa (29/10), SOJ menggelar Jamu Introduction Workshop. Di area belakang kedai, terlihat 4 pasang meja kursi berjajar rapi, sementara di bagian ujung ruangan terdapat sebuah meja panjang dengan beberapa produk SOJ dan bahan-bahan pembuatan jamu diletakkan di atasnya.

Menurut Nova Dewi, founder SOJ yang hari itu memberikan materi, workshop hari itu merupakan workshop Pengenalan Dasar Jamu untuk umum. Materi yang diberikan antara lain pengenalan tentang jamu, sejarah jamu, bahan-bahan tradisional untuk membuat jamu seperti kunyit, kencur, jahe, brotowali, dan sebagainya, dan di bagian akhir, para peserta workshop diberi kesempatan untuk meracik jamu sendiri.“Jamu berasal dari kata jampi atau doa dan usodo yang berarti kesehatan,” ujar Nova membuka workshop yang diikuti 10 peserta, sebagian berasal dari luar negri seperti Filipina, Zimbabwe, dan Jepang. 

Para peserta yang rata-rata baru sekali mengikuti workshop terihat antusias mengikuti event yang dimulai sekitar pukul 10 hingga 14.00 sore. Seorang peserta dari Zimbabwe, Jackie, mengaku diajak ikut workshop oleh temannya setelah memperoleh pengalaman minum jamu saat mengunjungi kawasan Candi Borobudur, Magelang. 

“Waktu itu saya lagi nggak enak badan. Pas sarapan di hotel, saya diberi 2 minuman, katanya obat,” kata Jackie yang terlihat menikmati paparan yang disampaikan Nova. “Saya nggak tahu itu jamu apa, tapi yang satu rasanya sangat pahit,” ujarnya mengenang pengalamannya sambil tergelak. 

 Ternyata, lanjut Jackie, tubuhnya terasa lebih enakan setelah minum jamu. “Di negara saya juga ada tanaman untuk obat, misalnya jahe atau daun pepaya, tapi jamu nggak ada.” Jackie mengatakan, sering menemukan bahan-bahan pembuat jamu di supermarket, tetapi tidak tahu nama dan kegunaannya sehingga sering bingung.

 Setelah mengikuti workshop, Jackie mengaku memiliki tambahan pengetahuan. “Saya jadi tahu nama bahan-bahan jamu. Saya akan bawa pengetahuan tentang jamu ke negara saya, dan akan selalu sediakan bahan-bahannya di dapur. Saya akan beritahu teman-teman juga. Kebetulan iklim di Zimbabwe hampir sama dengan Indonesia,” ujar perempuan berusia 47 tahun ini. 

 “Saya akan coba meracik sendiri juga,” lanjut Jackie yang selama workshop menyempatkan diri mengirim IG story tentang workshop yang ia ikuti ke teman-temannya di luar negri. “Mereka bilang keren banget dan menunggu cerita dari saya.”

Tak berbeda dengan Jackie, peserta lain yang juga merasakan manfaat workshop adalah Natasha. Ibu 3 anak berusia 36 tahun ini juga tertarik mengikuti workshop karena ingin tahu lebih banyak mengenai jamu. 

 “Zaman sekarang ini kan, banyak sekali bahan-bahan kimia di sekitar kita, bahkan di dalam makanan juga. Sebagai ibu dari 3 anak, saya pengin menjaga kesehatan keluarga saya dengan cara yang sehat, salah satunya dengan jamu,” kata perempuan yang tinggal di bilangan Kelapa Gading ini.

 Lagipula, Natasaha sudah merasakan sendiri manfaat jamu. “Aya saya pasien liver, setiap hari beliau minum temulawak dan ternyata sangat baik bagi kesehatan liverya,’ kata Natasha. 

“Saya jadi tertarik untuk tahu lebih banyak tentang jamu. Saya berharap generasi mendatang lebih banyak mengenal jamu. Kalau orang luar negeri saja tertarik, kenapa kita tidak?” lanjutnya.

Harapan Natasha senada dengan harapan dan misi Nova ketika membuka SOJ. “Misi saya adalah menjadikan jamu lebih dikenal anak-anak muda. Mindset tentang jamu yang selama ini beredar adalah bahwa jamu itu obat, nggak enak, pahit, dan sebagainya. Nah, saya coba mengubah mind set itu,”’ uja Nova. Agar generasi muda mau minum jamu, Nova meracik jamu dengan berbagai rasa yang lebih disukai anak-anak muda, selain tentu saja juga meracik jamu rasa orisinal. 

 Workshop jamu sendiri mulai dibuka sejak tahun 2013 lalu. Selain kelas umum, SOJ juga membuka kelas lain yang lebih khusus. “Semua ada 12 model kelas khusus, mulai kelas khusus kunyit asem, kelas kunyit, kencur, jahe, temulawak, herbal healing, kelas health and beauty, mixology, mocktail, serta kelas khusus untuk kesehatan wanita juga,” jelas Nova. 

Setiap kali dibuka kelas, respons selalu baik, bahkan hampir selalu diikuti peserta dari luar negeri. Komposisi pesertanya 50% lokal dan 50% peserta dari luar negeri. Selain wisatawan, kebanyakan mereka ini ekspatriat yang tinggal di indonesia. 

 Lewat workshop, “Mereka bisa memilih mana jamu yang baik, bisa bikin jamu, sekaligus mengenalkan kebudayan asli Indonesia ini ke luar negri. Itu sebabnya, kami selalu memperkenalkan dan menjaga image jamu supaya tidak rusak sehingga bisa dikenal di dan menjadi warisan tradisional kebanggaan Indonesia,” tutup Nova.

Tertarik untuk ikutan class nya? Cek Instagramnya Suwe Ora Jamu  ya!

 

Baca Juga :

Minum Jamu Kini Gak Lagi Malu

5 Kafe Jamu Seru Buat Hangout Asik

Melihat Dari Dekat Pembuatan Jamu di Desa Wisata Jamu

WORKSHOP SUWE ORA JAMU SOJ HERBAL JAMU

Recommended Articles