08

JUL 19

Tim writer GoodLife

Penyakit Autoimun Siap Menghantui Milenial, Kenali yuk Penyebabnya!

Eat less junk food.

Tak perlu kaget jika kini banyak pasien stroke atau serangan jantung yang masih berusia muda. Generasi milenial memang kini menghadapi berbagai ancaman kesehatan. Apa penyebabnya?

 

Benarkah generasi milenial lebih rentan terkena berbagai penyakit? “Ya, karena generasi milenial saat ini menghadapi berbagai perubahan gaya hidup, pola makan, maupun lingkungan. Sangat banyak perbedaan dibandingkan generasi sebelumnya,” kata dr. Febri Kurniawati, Sp.PD, Spesialis Penyakit Dalam dari RS Medika Permata Hijau, Jakarta, 

Penyebab generasi milenial memiliki gaya hidup yang cenderung tidak sehat memang multifaktorial, di antaranya faktor genetik atau bawaan. Faktor bawaan ini memiliki peran penting. Misalnya adanya riwayat kesehatan keluarga seperti riwayat hipertensi, diabetes mellitus, atau riwayat penyakit-penyakit lain yang secara langsung diturunkan atau hanya beresiko. 

Faktor kedua adalah gaya hidup sehari-hari yang kini cenderung kurang aktif, kurang banyak gerak, makan junk food berlebihan, dan sebagainya. Aktivitas fisik sekarang jauh lebih sedikit dibandingkan generasi sebelumnya. “Sekarang apa-apa serba mudah, tak perlu bergerak. Orang nggak mau jalan kaki,” kata Febri. 

Makanan pun berpengaruh. Makanan sekarang jauh lebih banyak macamnya. Jika dulu cenderung lebih banyak konsumsi sayuran dan buah-buahan yang alami, generasi milenial lebih suka junk food, makanan instan, pakai zat pengawet, dan tinggi kalori. Burger misalnya, kandungan kalori setiap satu urger bisa mencapai 1000kkal, padahal kebutuhan kalori orang dewasa sekitar 2000-3000kkal per hari. 

“Jadi tidak seimbang antara kalori yang masuk dan outputnya. Akibatnya, kalori akan tertumpuk di dalam tubuh dan menjadi lemak yang menimbulkan sindroma metabolik, seperti obesitas (khususnya obesitas sentral; lingkar perut lebih dari ukuran normal), 

hipertensi, toleransi glukosa yang terganggu yang bisa menyebabkan diabetes maupun pre diabetes, dislipidemia atau gangguan metabolisme kolesterol,” lanjutnya.

Febri melanjutkan, komponen-komponen sindroma metabolik ini biasanya muncul satu paket. “Kalau sudah gemuk, biasanya gulanya terganggu, pre hipertensi, dan sebagainya.” 

Selain penyakit-penyakit akibat sindroma metabolik, kecenderungan pasien sekarang juga mulai berbeda. Dulu, penyakit jantung maupun stroke lebih banyak menyerang orang berusia 50-60 tahun, tetapi sekarang tak sedikit pasien stroke maupun penyakit jantung yang masih muda, usia 30 tahunan. “Dan sekarang tak hanya laki-laki yang kena, perempuan muda pun mulai banyak yang terkena penyakit ini.” 

 

Padahal, penyakit stroke atau penyakit jantung misalnya, tidak menyerang tiba-tiba, tapi butuh proses 5-10 tahun. “Tidak mendadak serangan jantung atau stroke, lho. Ini karena faktor-faktor resiko tadi, dari mulai obesitas, dislipidemia, gangguan metabolisme gula, hiperten, merokok, serta riwayat keluarga.” 

Ini semua berproses selama sekian tahun, dan baru kemudian bermanifestasi menjadi penyakit. Artinya, lanjut Febri, “Mereka yang terkena stroke atau sakit jantung sebetulnya sudah sejak 5-10 tahu nsebelumnya metabolismenya kacau.” 

Selain itu, sekarang juga mulai terjadi pergeseran penyakit dari penyakit akibat infeksi ke penyakit-penyakit autoimun. “Penyakit autoimun adalah penyakit akibat sistem kekebalan tubuh yang menyerang diri sendiri. Kalau sebelumnya trennya adalah penyakit-penyakit infeksi, tapi setelah muncul antibiotiknya, kini mulai tren penyakit-penyakit autoimun tadi.” 

 

Wah, ternyata agak menyeramkan ya masalah kesehatan yang menghantui kita selama ini. Yuk, mulai dari sekarang coba kurang-kurangin makan junk food, ganti sedikit demi sedikit dengan makanan yang lebih sehat. We can do it!

Recommended Articles