21

DEC 19

Tim writer GoodLife

Berburu Kuliner Tradisional Jadul Di Pasar Unik Indonesia

Makan-makan di restoran atau mal sudah nggak zamannya lagi. Kini, ada tempat berburu kuliner jadul dengan suasana yang tak kalah jadul. Keren.

Setiap kali mendengar kata ‘pasar’, bayangan sebagian besar orang bisa jadi lokasiyang becek dan sumpek. Tapi, tidak untuk pasar yang berikut ini. Pasar-pasar di bawah ini merupakan pasar kuliner tradisional dengan konsep unik dan layak dikunjungi. Berikut beberapa di antaranya, seperti dikutip dari berbagai sumber. 

 

Pasar Dhoplang

Di Kampung Kembar, Desa Pandan, Slogohimo, Wonogiri, Jawa Tengah, kita bisa menemukan sebuah pasar kuliner unik, yaitu Pasar Dhoplang. Salah satu keunikan pasar ini adalah pemakaian daun jati atau daun pisang sebagai pembungkus makanan. Bahkan, untuk jajan atau oleh-oleh, para pedagang dan pengelola Pasar Dhoplang memilih menyediakan tas kain dengan desain buatan sendiri. 

Keunikan lain adalah pemakaian koin dari kayu sebagai alat transaksi. Bentuk koinnya bulat dengan tulisan nominal berwarna biru kehijauan. Tapi perlu dicatat, bagi yang tak menguasai Bahasa Jawa sebaiknya mengajak teman yang bisa berbahasa Jawa saat berkunjung ke pasar ini, ya. Pasalnya, setiap pengunjung diwajibkan berkomunikasi dalam bahasa Jawa, termasuk kepada penjual. Ini makin dikuatkan dengan penampilan para pedagang yang mengenakan baju tradisional Jawa seperti kebaya dan lurik. 

Para pengunjung bisa menikmati aneka sajian kuliner di atas tikar yang digelar di antara pohon jati dimana Pasar Dhoplang berada. Suasana tradisional sangat terasa ketika kita memasuki dan menikmati kuliner di pasar yang oleh pengelolanya dibangun dengan tujuan melestarikan budaya Jawa.

 

Pasar Papringan

Masih di daerah Jawa Tengah, tepatnya di Dusun Ngadiprono, Desa Ngadimulyo, Temanggung, berdiri Pasar Papringan yang menjual berbagai menu kuliner tradisional dengan konsep pasar yang tak kalah unik. 

Nama papringan sendiri berasal dari bahasa Jawa ‘pring’ yang berarti bambu. Tak sekedar nama, tetapi pasar ini memang berlokasi di hutan bambu yang rindang. Pemandangan utama yang akan kita temui tentu saja pohon bambu di hampir seluruh areal pasar.

Untuk mencapai lokasi, pengunjung harus berjalan kaki sejauh sekitar 1 km dari tempat parkir. Di areal pasar disediakan bangku-bangku bambu bagi para pengunjung untuk menikmati kuliner yang ditawarkan. Tak hanya tempat duduk, perlengkapan makan juga terbuat dari bahan tradisional yang ramah lingkungan seperti batok kelapa, daun pisang, dan mata uang koin dari potongan bambu. 

Pasar ini menjual berbagai penganan atau camilan tradisional seperti apem, cenil, combro, lontong mangut, gudeg, pecel, dan banyak lagi. Dan sama seperti Pasar Dhplang, Pasar Papringan juga tidak menyediakan kantung plastik, khususnya bagi pengunjung yang akan membeli makanan atau barang kerajinan. Jadi, sebaiknya siapkan kantung belaja sendiri, ya.

 

Sar Londho

Pasar kuliner unik lain yang bisa menjadi pilihan wisata kuliner adalah Sar Londho (Pasar Belanda). Sesuai namanya, Sar Londho sudah ada sejak zaman Belanda, namun seiring perjalanan waktu pasar tersebut sempat ‘hilang.’ Kini, kenangan pasar tradisional kembali dikulik oleh warga setempat dengan membuka kembali Sar Londho. Kali ini konsepnya adalah pasar tradisional lama dengan makanan atau jajanan tempo dulu.

Di Sar Londho, pengunjung bisa menikmati berbagai jajanan dan makanan tempo dulu khas Magetan seperti rangin, gethuk, cenil, jenang grendul, dan lain-lain. Tak hanya camilan atau jajanan tempo dulu, Sar Londho juga menyediakan makanan seperti nasi menok, nasi bancakan, dan yang lainnya. Salah satu hidangan favorit yang banyak dicari pengunjung saking sudah langkanya adalah nasi menok. Menok adalah nasi yang dimasak memakai santan, dibungkus daun pisang dan dikukus lagi. Kemudian disajikan dengan bothok atau pake lento. 

Bangunan-bangunan di Sar Londho terbuat dari bambu dan atap jerami kering. Kedai penjual juga dibangun dari anyaman bambu, sementara tempat duduk terbuat dari kayu. Untuk semakin mendukung suasana zaman dulu, lampu-lampu yang dipasang pun dipilih yang berwarna kuning kecokelatan. Pengelola juga menghadirkan hiburan musik keroncong sehingga kenangan akan pasar tradisional akan terbangun di benak pengunjung. 

Selain soal kuliner, aspek ramah lingkungan juga menjadi perhatian pengelola dengan menghadirkan pasar tanpa plastik. Sebagian besar perabot dan perlengkapan terbuat dari tanah (gerabah). 

 

Nah, keren, kan?.. 

PASAR UNIK KULINER PASAR KULINER JADUL

Recommended Articles