30

NOV 19

Tim writer GoodLife

Mengenal P-DTR, Teknik Pengobatan yang Memanfaatkan Kekuatan Syaraf Otak.

Otak punya kekuatan yang tidak terduga. Dan siapa sangka, ini bisa digunakan untuk menyelesaikan banyak masalah tubuh.  

Kamu pernah terkilir atau cedera otot/sendi? Atau yang lebih parah lagi, pernah mengalami kecelakaan yang membuat pergerakan tubuh tidak bisa kembali normal? Yang ringan saja bisa menghambat aktifitas sehari-hari, apalagi yang berat, bisa jadi membuat orang jadi tidak berdaya. Hufft!

Banyak metode terapi yang bisa dicoba untuk mengatasi berbagai masalah ini. Salah satunya yang akan dibahas di sini adalah P-DTR, yaitu Proprioceptive Deep Tendon Reflex. Kami bicara langsung dengan Kimberly Limon, primary instructor P-DTR dari Washington DC yang bertanggung jawab di area Asia, Kanada bagian timur dan Amerika Serikat. 

Image : (Romy Palar/goodlife.id)

Image : (Romy Palar/goodlife.id)

Di sela-sela padatnya training di Singapura, Kimberly menyempatkan terbang ke Jakarta untuk memperkenalkan P-DTR ke khalayak Indonesia di Studio Pilates Soul Jalan Wijaya I No. 73.

 

Apa itu P-DTR?

Bayangkan kamu pernah mengalami terkilir di pergelangan kaki. Terjadi kerusakan jaringan ligamen di seputar sendi. Setelah proses pemulihan, jaringan tersebut sudah sembuh. Tapi pergelangan kaki biasanya jadi lebih sensitif, bahkan bisa lebih dari sebelum insiden terkilir terjadi. 

Jangankan dipakai buat berlari, diregangkan sedikit saja sudah terasa sakit, kan? Sensitivitas yang berlebihan ini lah yang bikin kamu jadi berisiko mengalami terkilir lagi di masa depan.

Nah, P-DTR ini sederhananya adalah proses evaluasi ulang informasi dalam sistem sensorik kita. Betapa informasi yang dikirim oleh reseptor sensorik ke sistem syaraf otak sangat berpengaruh ke respon syaraf dan otot yang dihasilkan ke seluruh tubuh. Kalau infonya tidak tepat, responnya bisa berupa rasa sakit atau disfungsi bagian tubuh. Makanya, perlu dikirim info yang tepat.

Image : (Romy Palar/goodlife.id)

Image : (Romy Palar/goodlife.id)

Dengan menghadirkan stimulus tertentu, terjadi proses kalibrasi ulang sistem informasi antara reseptor dan sel syaraf ini sehingga output responnya pun berbeda. Singkatnya, kaki yang pernah terkilir tadi pun tidak terasa sakit lagi saat diregangkan atau dipakai berlari.

Oh iya, metode ini ditemukan oleh Dr. Jose Palomar, seorang dokter ortopedik asal Meksiko yang sudah banyak menangani kasus ortopedik di Meksiko dan Amerika Serikat.

 

Apa Metode Yang Dilakukan?

Masih bingung? Wajar, kok! Kim kembali memberi contoh-contoh yang mudah dipahami, tentunya sambil memeragakannya ke seorang pasien. Metode ini diawali dengan praktisi yang mengases kondisi pasien, seperti keluhan sakit apa, di bagian tubuh mana, dan gerakan apa yang memicu sakitnya. Pasien diminta memperagakan gerakan yang membuat sakit tersebut. Misalnya, seorang pasien pernah mengalami jatuh di bagian bahu. Alhasil, saat mengangkat tangan ke atas, gerakannya jadi terbatas dan kalau dipaksakan akan terasa sakit. 

Nah, yang dilakukan praktisi P-DTR adalah memeriksa area tulang selangka untuk mengetahui reseptor sensorik yang berhubungan dengan gerakan menyakitkan itu. Ia mengakses seberapa sensitif keadaannya dengan mencari tahu frekuensi otot yang bekerja. Caranya yaitu dengan menghadirkan stimulus, bisa berupa tekanan, pijatan, getaran atau peregangan. 

Image : (Romy Palar/goodlife.id)

Image : (Romy Palar/goodlife.id)

Kemudian, saatnya mengkalibrasi ulang sistem sensorik dengan lagi-lagi menggunakan stimulus yang sama. Selain yang sudah disebutkan di atas, stimulus bisa juga berupa tusuk gigi yang dititikkan ke area tertentu (tapi prosesnya tidak menyakitkan).  

Beberapa saat kemudian, pasien tidak bereaksi berlebihan terhadap stimulus-stimulus tadi. Singkatnya, gerakan tersebut pun sudah tidak semenyakitkan sebelumnya. 

Ajaib? Bisa dibilang begitu. Ada pasien yang bilang seperti ketok magic, malah. Tapi sejujurnya ini pure science (seperti ketok magic juga sebenarnya menggunakan prinsip ilmu fisika.) Yang diperlukan adalah memahami sistem anatomi tubuh dan sistem syaraf serta hubungan antara keduanya. 

 

Bisa Diterapkan Ke Kasus Apa Saja?

Kimberly bilang, metode P-DTR bisa diterapkan ke banyak kasus. Tidak hanya bisa mengurangi sakit atau memperbaiki motorik tubuh, bisa juga diterapkan ke masalah pencernaan. Ia pernah menangani anak yang susah menelan pil. Usia pasien juga tidak terbatas. Kim juga pernah menangani bayi usia 2 minggu sampai orang tua berusia 93 tahun. 

Kalau kamu mau tahu kasus-kasus yang pernah ditangani dengan metode P-DTR ini bisa buka https://P-DTR-global.com

Image : (Romy Palar/goodlife.id)

Image : (Romy Palar/goodlife.id)

Milennials seperti kita pun bisa memanfaatkan metode P-DTR. Kimberly bilang, banyak pasien milennials-nya di Washington DC yang terbiasa kerja kantoran punya masalah serupa yaitu postur tubuh yang buruk. Ini bisa berupa seperti bahu/punggung yang membungkuk atau bagian leher yang tegang karena terbiasa duduk dan fokus ke komputer. Hmm, jangan-jangan kamu juga?

Sampai saat ini, P-DTR hanya bisa dilakukan oleh praktisi yang berpengalaman dan sayangnya di Indonesia belum ada. Tapi P-DTR membuka peluang training untuk profesional medis yang tertarik untuk menjadi praktisi P-DTR ini. Ada 3 level yang harus dilalui, dari foundation, intermediate sampai advanced. Tergantung progress yang dicapai tiap calon praktisi, proses training rata-rata memakan waktu dua tahun. 

P-DTR KIMBERLY LIMON

Recommended Articles