18

JAN 20

Tim writer GoodLife

Duh, Pasangan Masih Suka Stalking Mantannya…

Apa yang harus dilakukan jika pasangan ternyata ketahuan masih suka stalking alias intip-intip medsos milik mantannya?

Stalking rasanya sudah menjadi istilah umum dan banyak dilakukan orang, entah dengan memakai akun beneran atau akun yang sengaja dibuat untuk stalking. Entah untuk mengintip akun orang lain maupun mantan kekasih. 

Bagaimana jika yang suka stalking adalah pasangan kita dan yang ‘diintip’ adalah mantannya? “Berarti ketahuannya telat, setelah jadi pacar. Alangkah lebih baik apabila sudah diketahui dari sebelum jadian. Apalagi kalau ini terjadi setelah menikah, bisa lebih rumit,” jelas psikolog Fenny Junita, M.Psi., Psikolog. “Ini lebih menunjukkan bahwa sebenarnya pasangan masih punya urusan emosional yang belum selesai dengan mantannya.” 

Selain ada urusan emosional yang belum selesai, ini juga berarti pasangan punya kisah happy bersama mantannya. Fenny menjelaskan, otak manusia cenderung bekerja mencari kesenangan yang pernah dialami atau dirasakan. Ia juga akan berusaha mencari kembali kesenangan tadi walaupun realitasnya tidak berefek sama seperti dulu (ketika masih menjalin hubungan dengan mantan). Yang ada bisa-bisa malah menambah penderitaan karena perpisahan tadi. 

Stalking bisa juga terdorong oleh rasa kangen atau penasaran, mau tahu perkembangan mantan sekarang seperti apa. “Selain itu, stalking juga merupakan salah satu upaya mengatasi stres akibat perpisahan itu sendiri,” lanjut Fenny.

Apa yang harus dilakukan? Tentu, sebagai pasangan, respons pertama kita pasti emosional. “Coba tenangkan diri lebih dulu supaya bisa dibicarakan baik-baik dengan pasangan,” saran Fenny. Misal, tanyakan apa alasan pasangan masih suka stalking mantannya, sampaikan keberatan dan rasa nggak nyaman, tanpa perlu emosi apalagi sampai berantem. Beri pengertian tentang pentingnya membangun kepercayaan dalam sebuah hubungan.

Pacar yang tahu bahwa pasangannya suka stalking mantannya, kadangkala membuatnya membandingkan diri dengan mantan dari pasangannya. “Nah, daripada sibuk membandingkan-bandingkan diri, lebih baik fokus meningkatkan kualitas diri, mengembangkan diri, menjaga penampilan dan kesehatan supaya kita menjadi pribadi yang lebih baik dan menarik,” kata Fenny menyarankan.

Melarang juga bukan cara efektif untuk mengendalikan perilaku pasangan. “Melarang juga percuma, kalau sudah niat, tetap bisa dilakukan dimana saja, kan?” kata Fenny. Daripada melarang, lebih baik arahkan pasangan untuk melakukan hal-hal yang produktif. Kalau pasangan masih sempat stalking, bisa jadi ia punya waktu luang yang kontraproduktif. 

“Ajak ia untuk melakukan aktivitas yang bermanfaat. Tak cuma aktivitas yang ia suka, tetapi juga bermanfaat untuk orang lain dan bisa membantu menyalurkan aktualisasi dirinya,” tambah Fenny.

Tetapi, jika pasangan masih juga stalking, tak ada salahnya mempertimbangkan untuk melanjutkan atau memutuskan hubungan. Apalagi jika hubungan sudah serius dan mau menikah, ini menjadi isu krusial dan sensitif. “Ia masih membawa ‘bagasi’ dari masa lalunya. Tunggu ia healing, baru benar-benar fokus menjalin relationship yang sekarang. Kalau masih stalking, pikiranya pasti akan terpecah,” jelas Fenny.

Idealnya, ketika menjalin hubungan yang baru, kedua pihak sudah selesai dengan hubungan sebelumnya secara emosional. Jadi, benar-benar bisa fokus pada hubungan yang sekarang, lebih enjoy, dan tidak membawa isu masa lalu ke hubungan yang sekarang. “Kalau tidak, akan sangat memengaruhi jalannya hubungan,” kata Fenny. 

Kita tentu tak bisa menjalin sebuah hubungan dengan orang yang belum selesai dengan masa lalunya, bukan?

Recommended Articles