22

APR 20

Tim writer GoodLife

Belajar Menjalin Hubungan Sehat Dari Drama The World of the Married

Goodpeeps, apa kamu juga salah satu penonton Kdrama The World of the Married? Yah, drama yang satu ini memang sedang sangat naik daun ya. Kisah pernikahan Jin Sun Woo dengan Lee Tae oh yang harus berakhir karena drama perselingkuhan suaminya dengan perempuan cantik Yeo da Kyung. Harus diakui, kisah perselingkuhan memang bisa menguras emosi, bahkan banyak juga yang sampai terbawa perasaan, seperti perasaan takut menikah karena takut diselingkuhi.

Well, jangan sampai gara-gara nonton drama kamu malah jadi takut untuk menjalin hubungan ya goodpeeps. Untuk kamu yang kini belum atau sedang menjalani hubungan, sangat diperlukan menjalin hubungan sehat agar kita terhindar dari godaan orang ketiga. Goodlife coba mengangkat sisi pandang hubungan sehat itu yang seperti apa sih?

Selingkuh 1

Kali ini psikolog serta founder dari Meliora Learning Academy, Henny Wirawan coba memberikan penjelasan kepada goodpeeps tentang "Healthy Relationship".

Healthy Relationsip

Manusia adalah makhluk sosial (homo socius) yang perlu dan akan berhubungan dengan manusia lainnya, suka atau tidak suka, di dalam beragam segmen kehidupan. Ada orang-orang yang membutuhkan waktu dan episode hidup lebih banyak untuk berada bersama dengan orang lain. Ada juga yang lebih suka menyendiri, sehingga relasi sosialnya sangat selektif. Itu terkait dengan ciri kepribadiannya.

Namun, bagaimana pun ciri personal kita, kadangkala hubungan dengan mereka yang ada di sekitar kita itu akan mendatangkan beragam rasa dan warna. Kadangkala kita merasa senang dan bangga, kita merasa dihargai dan diperhatikan sangat baik. Namun adakalanya kita jengkel, sakit hati, sedih, tersinggung, kecewa, atau marah, dengan mereka yang berurusan dengan kita.

Healthy relationship

Selidik punya selidik, kita bahkan lebih banyak menghayati keanekaragaman rasa itu ketika kita sedang bersama dengan mereka yang dekat dengan kita, orang-orang yang bermakna buat kita. Misalnya dengan teman atau dengan pasangan kita sendiri. Mengapa demikian? Karena kita memiliki ekspektasi alias harapan. Kita berharap mereka bisa memahami dan menerima kita apa adanya, karena mereka orang yang dekat dengan kita. Kita berharap mereka tidak mengecewakan atau tidak menyakiti kita, karena mereka orang yang dekat dengan kita.

Namun ternyata, tidak selamanya kedekatan kita dalam suatu hubungan membuahkan kebaikan. Nah, di dalam situasi-situasi tertentu itu, sepertinya kita perlu mengevaluasi, jangan-jangan kita sedang terlibat dalam relasi yang kurang sehat atau bahkan tidak sehat.

 

Apa sih ciri-ciri dan fakta dari hubungan yang sehat? 

1. Ada kepercayaan (trust).

Kita percaya dia tidak akan berbuat atau berkata jahat terhadap kita, bahkan berpikir jahat pun tidak. Jadi ketika kita bertemu dengan teman atau dengan pasangan yang ngomongnya mencla mencle, sehingga kita berkali-kali harus berpikir “Dia lagi ngomong bener atau lagi ngasal ya? Dia ngebohongin saya lagi gak ya?” atau yang sejenis itu, artinya kepercayaan kita terhadapnya mulai terkoyak. Kalau terjadi terus menerus seperti ini, ujung-ujungnya adalah hilang rasa percaya. Atau dia ngerjain kita bolak-balik, contohnya pinjam uang atau barang tapi tidak pernah dikembalikan, sampai ke menggunakan nama kita untuk keperluannya, atau mengakui karya kita sebagai karyanya. Punahlah kepercayaan kita kepadanya. Ya toh?

2. Ada kejujuran (honesty)

Ini satu paket dengan ciri pertama tadi. Kita bisa percaya orang lain karena dia terbiasa jujur. Kalau dia sudah tidak jujur, susah kali ya untuk tetap percaya. Memang ada sih, orang-orang yang “senang” dibohongi, karena mereka pun tak berani menghadapi kenyataan bahwa kebenaran itu tidak menyenangkan, tidak seindah yang diduga. Tapi itu pun bukan kebiasaan yang sehat. Jalinan hubungan yang sehat perlu diisi oleh kejujuran, walaupun ada rasa pahit-pahitnya gimana gitu. Apa susahnya bicara yang sebenarnya, bertindak yang sebenarnya, tanpa bungkusan atau polesan, apalagi dengan mereka yang bermakna kepada kita.

3. Ada rasa saling menghargai (mutual respect)

respect

Kalau teman atau pasangan kita bisa dipercaya dan jujur, biasanya untuk saling menghargai itu gampanglah ya. Namun rasa penghargaan kita juga akan diskon banyak, ketika kita berurusan dengan mereka yang pembohong, penipu, manipulator, atau kebiasaannya ngerjain orang. Hubungan yang sehat lazimnya akan diisi dengan kebiasaan saling memuji dan berterima kasih satu sama lain sebagai perwujudan rasa saling menghargai. Bukan sekadar take it for granted, alias menganggap suatu hal sebagai semestinya atau sepatutnya terjadi begitu saja.

4. Ada komunikasi yang terbuka, intim, dan bebas berbicara apa saja

Orang yang menjalin relasi yang sehat akan merasa nyaman untuk berbicara apa saja dengan orang yang menjadi teman atau sahabat dekatnya, apalagi dengan pasangan hidupnya. Semestinya tidak ada hal-hal yang ditutup-tutupi, kecuali memang terkait dengan rahasia jabatan/kerja profesional. Apabila Anda sukar bertukar pikiran dengan partner Anda, bahkan merasa takut akan dinilai, dicela, ditertawakan, atau diabaikan, berarti ada yang perlu diperbaiki dalam hubungan Anda.

5. Ada batasan (boundaries) yang bisa ditetapkan dalam relasi

Kita dengan nyaman bisa berkata “tidak, tidak boleh, tidak suka, tidak mau” tanpa merasa takut atau merasa bersalah. Namun apabila dalam hubungan kita tidak sanggup berkata tidak, harus selalu iya, ok, atau mungkin dalam hati “apa kata elu lah” karena sudah lelah dipaksa-paksa, artinya ada yang tidak beres dengan hubungan kita. Seistimewa apapun hubungan kita, “private space” dan “me time” itu tetap perlu ada, dan kedua belah pihak perlu sama-sama menyadari kebutuhan tersebut dan menyepakatinya.

6. Terhindar dari kekerasan, baik fisik, verbal, sosial, maupun finansial

Terhindar dari kekerasan

Hubungan yang sehat adalah hubungan yang diwarnai dengan mutualisme, timbal balik, dan arahnya adalah positif. Sehingga, ketika salah satu sudah mulai melakukan kekerasan fisik (termasuk di dalamnya memukul, menampar, mendorong, melempar dengan benda), atau kekerasan verbal (misalnya: ancaman, caci maki, kata-kata yang merendahkan atau meremehkan), atau kekerasan sosial (misalnya: larangan atau pembatasan untuk bertemu dengan seseorang atau sekelompok orang,  atau bepergian ke suatu tempat tanpa pengawalan), atau kekerasan finansial (termasuk di dalamnya tindakan membatasi atau memaksakan pengeluaran, meminjam uang/barang) artinya hubungan sudah tidak sehat lagi. Individu yang tetap bertahan di dalam relasi seperti itu akan berdampak mengalami rasa rendah diri atau kehilangan kepercayaan diri, bahkan berpotensi mengalami kecemasan, depresi, atau gangguan psikologis lainnya.

7. Hubungan akan dipersepsikan sebagai menyenangkan dan menyegarkan

Setiap kali terjadi pertemuan ada rasa puas dan nyaman, dan tentunya akan membangkitkan semangat serta meningkatkan produktivitas. Sementara itu, jika setiap kali bertemu yang terjadi adalah pertengkaran bahkan perkelahian, debat dengan nada tinggi, atau bahkan akhirnya masing-masing cuma buang muka atau ”gencatan senjata” karena masing-masing merasa dongkol, jengkel, atau muak dengan teman atau pasangannya, artinya hubungan sedang dalam keadaan berbahaya.

8. Ada minat dan selera yang mirip

Mirip bukan berarti harus selalu sama. Namun jika dalam semua hal terjadi perbedaan, artinya komunikasi akan terkendala. Bagaimana pun perlu ada satu atau beberapa hal yang sama-sama diminati, sama-sama disukai. Misalnya jika keduanya menyukai menu makanan tertentu, hunting makanan bersama akan menjadi momen yang menyenangkan. Atau jika keduanya sama-sama menyenangi kegiatan travelling, nyasar di dalam perjalanan pun akan dianggap lucu dan mengesankan. Berbagai hal yang dikerjakan bersama-sama akan mendatangkan kenikmatan, dan akan menimbulkan kesan manis yang sukar dilupakan untuk jangka waktu panjang.

 

Pertanyaannya, seberapa banyak ciri hubungan yang sehat yang sesuai dengan kamu dalam relasi kamu saat ini? Jika kamu saat ini sedang menjalin hubungan yang kurang sehat, atau bahkan yang beracun (toxic relationship), ada baiknya berpikir kembali, mau dibawa ke mana hubungan ini? Akankah terus berlanjut tanpa usaha perubahan sama sekali? Masih bisakah diperbaiki dengan konsultasi berpasangan? Ataukah lebih baik disudahi saja? Pertimbangkan semua risikonya, dan ambillah keputusan terbaik kamu.

 

Selamat menjalin hubungan yang sehat. Jadilah orang-orang yang makin produktif dan bersemangat.

Recommended Articles