08

AUG 19

Tim writer GoodLife

Minum Jamu Kini Tak Lagi Malu, Kok Bisa?

Bisa dong! Coba ke kafe ini.

Berbagai racikan jamu, baik yang pahitan, godhogan, maupun dalam kemasan botol bisa ditemukan dan diminum di kafe Suwe Ora Jamu (SOJ) yang didirikan oleh Nova Dewi Setiabudi dan sang suami, Uwi Mathovani.  Dan jangan salah, pelanggannya pun bukan lagi orangtua, melainkan anak-anak muda kekinian. Ya, mereka kini tak lagi malu-malu minum jamu. 

Semua berawal ketika Nova pindah dari Surabaya ke Jakarta dan melihat betapa budaya minum jamu sudah hilang dari kalangan anak-anak muda. “Sejak kecil, saya dibiasakan minum jamu oleh keluarga. Lama-lama saya jadi punya interest terhadap minuman tradisional Indonesia ini,” kata Nova. 

Di Jakarta, Nova mengaku kesulitan mencari tempat minum jamu yang nyaman. Anak-anak muda, termasuk yang sekantor dengannya, pun nggak ada yang minum jamu. “Masih banyak yang beranggapan bahwa jamu itu minuman untuk orangtua, jamu itu obat, pahit, kuno, dan sebagainya,” tambah Nova.

Nova sadar, ternyata masih banyak orang yang tidak paham sebenarnya jamu itu apa, serta khasiatnya apa. Dari situ, timbul semangatnya untuk memperkenalkan kembali jamu sekaligus berbagi pengetahuan tentang jamu. 

Awalnya, kata Nova, “Kami hanya menyediakan tempat untuk minum jamu. Ternyata di sana kami bisa bertemu orang-orang yang masih kangen minum jamu. Mereka inilah pasar kami di awal berdirinya SOJ, meskipun mereka bingung juga, kok minum jamu di kafe.” Itu sebab, kafe ini diberi nama Suwe Ora Jamu, karena memang kafe di bilangan Petogogan, Jakarta, ini menjadi tempat untuk berbagi cerita dan kangen-kangenan minum jamu. 

Nova membuka kafe SOJ tahun 2013. Awalnya ia membuat standar dan meracik sendiri jamu-jamunya. “Saya kemudian juga belajar tentang nutrisi, teknologi pangan, dan lain-lainnya,” ujarnya. 

Di tahap awal, Nova lebih ke memperkenalkan kembali jamu ke anak-anak muda dengan menyajikan jamu dengan rasa yang tidak terlalu pekat atau pahit. “Kami bikin menu supaya anak-anak muda ini mau nyoba. Misalnya, dengan mencampurkan buah atau sayuran sehingga tak terlalu ‘jamu banget.’ Ternyata mereka suka,” kata Nova yang rajin memperkenalkan jamu melalui berbagai event seperti festival musik, bazar, maupun menjadi pembicara. 

Selain minum di tempat, SOJ juga membuat jamu kemasan dalam botol kaca yang lebih higienis. “Desainnya pun kekinian sehingga bisa diterima anak-anak muda,” akunya. Bagaimana soal khasiatnya? Khasiat jamu tetap tidak berubah, “Yang penting adalah proses pembuatan dari awalnya. Kami tidak mengurangi khasiatnya, tetapi malah menambah dengan bahan campuran seperti buah dan sayur atau yang kami sebut mocktail,” tambahnya. 

Nova sangat sadar, jika ia menawarkan minuman yang ‘jamu banget,’ anak-anak muda nggak bakal doyan. “Kalau nggak dikomposisikan dengan tepat, nggak mungkin jadi produk yang enak. Saya coba-coba dulu, misalnya buah yang cocok dengan rosella apa. Ketemulah potongan apel, dan sebagainya,” kata perempuan yang tengah menulis buku tentang jamu dan intens membangun kesadaran untuk melestarikan budaya jamu beserta alam yang menopangnya. 

“Orang luar saja pengin banget mengenal budaya kita, masak kita malah nggak kenal budaya sendiri. Bagaimana mau bangga dan menghargai?” ujarnya.

SUWE ORA JAMU KAFE JAMU HERBAL

Recommended Articles