27

JUL 19

Tim writer GoodLife

Berutang Boleh Asal . . .

Generasi millennial disebut-sebut sebagai generasi yang konsumtif. Demi mengikuti tren, berutang pun menjadi hal lumrah. Sebenarnya berutang bukan tabu untuk dilakukan, asal mengikuti aturannya.

Menurut financial planner, Tejasari Asad dari Tatadana Consulting, berutang untuk belanja konsumtif sebaiknya dibatasi karena biasanya tidak menjadi aset dan bukan merupakan kebutuhan pokok.

 

Ada beberapa aturan yang harus dipahami ketika kamu ingin berutang, yaitu:

 

1.   Standar Utang

Ternyata standard utang apapun bentuknya (misalnya, utang konsumtif, utang cicilan rumah, dan sebagainya) maksimal setiap bulannya adalah 30% dari penghasilan.

 

2.   10% Utang Konsumtif

Khusus untuk utang konsumtif maksimal 10% dari penghasilan. “Yang termasuk utang konsumtif di antaranya cicilan HP, cicilan tiket jalan-jalan, biaya nongkrong dan ngopi,” papar Teja.

 

3.   Utang Aset

Daripada memperbesar utang konsumtif, lebih baik berutang yang bisa menjadi aset, seperti cicilan rumah, cicilan mobil, dan sebagainya.

 

4.   Kurangi Pengeluaran Pribadi

Bagaimana jika utang konsumtif melebihi batasan 10%? “Jika memang harus begitu, siasati dengan mengurangi pengeluaran pribadi, seperti belanja baju, perawatan salon atau gym,” saran Teja.

 

5.   Tekadkan Untuk Nabung

Menabung memang harus dipaksakan. Perhitungannya, sambung Teja, dari gaji setiap bulan kita harus menyisihkan 10% untuk menabung, 30% untuk segala jenis utang, 60 % pengeluaran rutin dan pribadi. 

“Nah, biasanya karena utang konsumtifnya besar, orang jadi tidak bisa menabung. Bayangkan kalau jatah 30% utang plus 10% menabung setiap bulannya kita pakai untuk kebutuhan konsumtif saja, kapan kita punya aset? Maka sebaiknya mulailah menabung dan berutanglah untuk hal yang penting dan bisa menjadi aset,” saran Teja.

Recommended Articles