Benarkah Work-Life Balance Cuma Mitos? Ini Penjelasannya

Di tengah budaya serba cepat yang memuja produktivitas tanpa henti, semakin banyak orang mulai bertanya: benarkah work-life balance itu nyata, atau hanya konsep ideal yang sulit diwujudkan dalam ritme hidup modern?

Istilah work-life balance terdengar ideal: kerja produktif, hidup tetap bermakna, tubuh dan mental tetap sehat. Namun dalam praktiknya, banyak orang justru merasa semakin lelah saat mencoba “menyeimbangkan” semuanya. Pertanyaannya: apakah work-life balance memang ilusi, atau kita yang keliru memaknainya?

Sebagai dokter yang sehari-hari menangani keluhan kelelahan kronis, gangguan tidur, hingga burnout, saya melihat satu pola yang konsisten: masalahnya bukan pada konsep keseimbangan itu sendiri, melainkan ekspektasi yang tidak realistis terhadapnya.

Sponsored Links

Apa Itu Work-Life Balance?

Dalam literatur psikologi kesehatan kerja, keseimbangan kerja-hidup bukan berarti pembagian waktu 50:50 antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Konsep ini lebih tepat dipahami sebagai role satisfaction, tingkat kepuasan dan kontrol seseorang terhadap peran-peran yang ia jalani.

Menurut model Job Demand–Control yang diperkenalkan oleh Robert Karasek, stres kerja muncul ketika tuntutan tinggi tidak diimbangi dengan kontrol atau otonomi. Artinya, seseorang bisa saja bekerja 10–12 jam sehari tanpa merasa “tidak seimbang”, selama ia memiliki kendali atas ritme dan batasannya.

Sebaliknya, jam kerja normal pun bisa terasa menghancurkan jika disertai tekanan konstan dan ekspektasi tak berujung.

kerja 4 hari
Work Life Balance sering dibicarakan di masyarakat urban (Foto: Pexels)

Mengapa Banyak Orang Merasa Itu Ilusi?

1. Budaya Hustle dan Validasi Sosial

Era digital menciptakan glorifikasi produktivitas. Platform seperti Instagram dan TikTok dipenuhi narasi “bangun jam 5 pagi”, “side hustle”, dan “no days off”. Tanpa sadar, standar ini menggeser definisi sehat menjadi sekadar sibuk.

Secara neurobiologis, validasi sosial memicu pelepasan dopamin. Namun dopamin yang terus dipacu tanpa fase pemulihan akan meningkatkan risiko kelelahan mental dan disregulasi emosi.

2. Otak Tidak Dirancang untuk Mode Siaga 24 Jam

Paparan notifikasi konstan membuat sistem saraf simpatis, yang bertanggung jawab pada respons fight or flight, tetap aktif. Hormon stres seperti kortisol meningkat. Jika berlangsung kronis, ini berkontribusi pada:

  • Gangguan tidur
  • Penurunan imunitas
  • Resistensi insulin
  • Kecemasan dan iritabilitas

Tubuh membutuhkan parasympathetic activation untuk pulih. Tanpa jeda, “keseimbangan” memang terasa mustahil.

3. Salah Kaprah tentang Kata “Balance”

Keseimbangan bukan kondisi statis. Ia dinamis dan berubah sesuai fase hidup. Saat merintis karier, porsi kerja mungkin lebih dominan. Saat mengalami krisis kesehatan atau keluarga, prioritas bergeser. Masalah muncul ketika kita memaksakan keseimbangan yang kaku.

Ilusi atau Evolusi Konsep?

Beberapa psikolog kini lebih menyarankan istilah work-life integration dibanding work-life balance. Artinya bukan memisahkan secara rigid, tetapi menciptakan harmoni berbasis nilai pribadi.

Contoh konkret:

  • Menentukan jam tanpa notifikasi kerja
  • Mengintegrasikan aktivitas fisik ke rutinitas harian
  • Mengambil micro-break 5–10 menit untuk regulasi napas

Dalam praktik klinis, intervensi kecil namun konsisten lebih efektif daripada perubahan drastis yang tidak berkelanjutan.

Organisasi seperti World Health Organization telah mengklasifikasikan burnout sebagai fenomena okupasional akibat stres kerja kronis yang tidak dikelola dengan baik. Gejalanya meliputi:

  1. Kelelahan emosional
  2. Sinisme atau jarak mental dari pekerjaan
  3. Penurunan performa profesional

Jika dibiarkan, kondisi ini dapat berkembang menjadi gangguan kecemasan, depresi, bahkan penyakit metabolik.

Jadi, Apakah Work-Life Balance Itu Ilusi?

Bukan ilusi. Yang ilusi adalah gagasan bahwa keseimbangan berarti semuanya harus sempurna dan proporsional setiap saat.

Keseimbangan sejati bersifat adaptif. Ia menuntut kesadaran diri, batas yang tegas, serta kemampuan mengatakan “cukup”. Dalam kerangka medis, keseimbangan berarti sistem saraf mendapat waktu untuk pulih, hormon stres tidak terus-menerus tinggi, dan kualitas tidur tetap terjaga.

Pertanyaannya bukan lagi “bagaimana membagi waktu secara adil?”, melainkan: apakah ritme hidup saat ini memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk benar-benar pulih?

Karena pada akhirnya, produktivitas tanpa pemulihan bukanlah ambisi tapi tiket menuju kelelahan kronis.