Beberapa minggu setelah euforia Tunjangan Hari Raya (THR) berlalu, tidak sedikit orang mulai merasakan kegelisahan baru ketika saldo rekening menipis sementara tagihan dan kebutuhan bulanan kembali berjalan seperti biasa atau bahkan melonjak lebih tinggi.
Euforia menerima Tunjangan Hari Raya (THR) sering kali datang bersama rasa lega. Ada ruang bernapas setelah berbulan-bulan bekerja. Namun beberapa minggu setelahnya, banyak orang justru mulai merasakan tekanan baru: saldo menipis, tagihan mulai berdatangan, dan rasa cemas muncul setiap kali membuka aplikasi mobile banking. Fenomena ini dikenal sebagai financial stress, tekanan psikologis yang dipicu oleh kondisi keuangan yang tidak stabil.
Dalam praktik kesehatan modern, stres finansial bukan lagi sekadar isu ekonomi. Banyak penelitian menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap uang berkaitan erat dengan peningkatan hormon stres seperti kortisol. Ketika berlangsung terus-menerus, kondisi ini dapat memicu gangguan tidur, penurunan konsentrasi, mudah lelah, bahkan memicu kecemasan berkepanjangan. Artinya, cara kita mengelola uang juga berdampak langsung pada kualitas kesehatan.
Dapat THR Langsung Belanja
Pasca-THR, pola pengeluaran sering berubah drastis. Sebagian besar dana digunakan untuk mudik, belanja kebutuhan keluarga, memberi hadiah, hingga gaya hidup yang meningkat selama libur panjang. Secara psikologis, momen hari raya memang mendorong perilaku konsumtif karena ada dorongan sosial untuk berbagi dan merayakan. Masalahnya, ketika pengeluaran tersebut tidak direncanakan sejak awal, kondisi finansial setelahnya bisa terasa “jatuh bebas”.
Yang perlu diingat: THR mungkin diterima secara utuh, tapi di bulan berikutnya potongan pajak pada THR akan dikenakan pada gaji. Artinya, satu bulan setelah Lebaran gaji akan dikenakan pajak ganda (satu dari penghasilan, satu lagi dari THR).
Financial stress biasanya muncul dalam bentuk yang sederhana tetapi berulang. Misalnya rasa khawatir menjelang tanggal gajian berikutnya, kebiasaan mengecek saldo berulang kali, atau mulai menunda pembayaran tagihan tertentu. Jika tidak dikelola dengan baik, pola ini bisa membentuk lingkaran stres: keuangan yang tidak stabil memicu kecemasan, sementara kecemasan membuat seseorang semakin sulit mengambil keputusan finansial yang rasional.

Salah satu strategi paling sederhana untuk mencegah kondisi ini adalah membagi THR sejak awal dengan prinsip alokasi yang jelas. Idealnya, dana tersebut tidak langsung habis untuk konsumsi. Sebagian bisa dialokasikan untuk kebutuhan hari raya, sebagian untuk tabungan, dan sebagian lagi untuk dana darurat. Pendekatan ini sering disebut sebagai mental budgeting, teknik sederhana yang membantu otak membedakan mana uang untuk kesenangan, mana untuk keamanan finansial.
Dana darurat menjadi komponen penting yang sering diabaikan. Dalam perspektif kesehatan finansial, dana darurat berfungsi seperti “sistem imun” dalam tubuh. Ia melindungi dari guncangan mendadak, seperti kebutuhan medis, kehilangan pekerjaan, atau pengeluaran tak terduga. Tanpa perlindungan ini, setiap masalah kecil berpotensi berubah menjadi sumber stres besar.
Langkah lain yang tidak kalah penting adalah melakukan financial reset setelah periode pengeluaran besar seperti Lebaran. Ini bisa dimulai dengan mencatat kembali kondisi keuangan secara jujur: berapa sisa dana, berapa tagihan yang harus dibayar, dan apa saja pengeluaran yang masih bisa dikendalikan. Proses ini mungkin terasa tidak nyaman, tetapi justru membantu otak keluar dari ketidakpastian, salah satu pemicu utama stres.
Selain itu, membangun kebiasaan finansial kecil juga terbukti efektif menurunkan tekanan psikologis. Misalnya menetapkan batas pengeluaran mingguan, menunda pembelian impulsif selama 24 jam, atau menggunakan sistem tabungan otomatis. Kebiasaan-kebiasaan sederhana ini memberi rasa kontrol terhadap uang, dan rasa kontrol adalah faktor penting dalam menjaga kesehatan mental.
Pada akhirnya, kesehatan tidak hanya ditentukan oleh pola makan atau olahraga. Cara seseorang mengelola uang juga memainkan peran yang tidak kalah besar dalam menjaga keseimbangan hidup. THR seharusnya menjadi momen untuk memperkuat kondisi finansial, bukan justru memicu stres setelah perayaan usai.
Karena itu, setelah euforia hari raya berlalu, mungkin ini saat yang tepat untuk bertanya pada diri sendiri: bukan sekadar “ke mana uang itu pergi”, tetapi juga “bagaimana uang bisa membantu hidup terasa lebih tenang.”


