Dunia di Ambang Perang, Tapi Kafe Tetap Penuh: Kenapa Orang Indonesia Terlihat Santai Hadapi Krisis?

Makan Bersama Teman-Teman, Hara Hachi Bun Me

Di saat dunia terasa makin tidak pasti, ada satu hal yang justru terlihat kontras di Indonesia: hidup tetap berjalan santai, dan dompet tetap terbuka untuk gaya hidup.

Di tengah notifikasi berita yang nyaris tak pernah berhenti, resesi global, konflik geopolitik, sampai ancaman krisis iklim, logikanya kita semua akan lebih waspada, lebih hemat, dan mungkin sedikit lebih cemas. Tapi yang terjadi di Indonesia justru terasa paradoksal: kafe tetap penuh, tiket konser ludes, kelas pilates waiting list, dan skincare makin berlapis. Pertanyaannya: kenapa kita tetap santai, bahkan cenderung konsumtif, di tengah ketidakpastian dunia?

Jawabannya tidak sesederhana “boros” atau “ikut-ikutan.” Ada dinamika psikologis yang lebih dalam, dan cukup manusiawi.

1. Mekanisme coping: belanja sebagai penenang yang cepat
Dalam kondisi dunia yang terasa tidak terkendali, otak kita secara alami mencari sesuatu yang bisa dikontrol. Membeli kopi favorit, upgrade outfit, atau mencoba tempat makan baru memberi sensasi kendali instan. Ini memicu pelepasan dopamin, neurotransmitter yang berkaitan dengan rasa senang dan reward.
Masalahnya, efek ini sifatnya jangka pendek. Setelah euforia reda, kecemasan dasar tetap ada. Di sinilah siklus konsumsi bisa berulang tanpa benar-benar menyelesaikan akar stres.

2. “Doomscrolling” vs. “soft living”
Paparan informasi negatif yang terus-menerus, atau yang sering disebut doomscrolling, membuat sistem saraf kita berada dalam mode waspada berkepanjangan. Tubuh tidak dirancang untuk menerima ancaman global secara konstan.

Sebagai respons, muncul tren “soft living”: mencari kenyamanan kecil, rutinitas yang terasa hangat, dan pengalaman yang memberi rasa aman. Nongkrong santai, staycation, atau sekadar beli dessert mahal bukan semata gaya hidup, tapi cara menyeimbangkan tekanan mental yang tidak terlihat.

3. Normalisasi “self-reward culture
Kalimat seperti “gue pantas kok” atau “self reward dikit” bukan lagi sekadar pembenaran, tapi sudah menjadi budaya. Ini tidak sepenuhnya salah. Menghargai diri sendiri penting untuk menjaga kesehatan mental.
Namun, ketika self-reward menjadi satu-satunya cara mengelola emosi, kita berisiko mengaburkan batas antara kebutuhan dan pelarian.

4. Ketidakpastian memicu hidup di ‘sekarang’
Ada fenomena psikologis yang disebut present bias, kecenderungan untuk lebih menghargai kepuasan saat ini dibandingkan manfaat jangka panjang.
Ketika masa depan terasa tidak pasti, banyak orang secara tidak sadar berpikir: “Kalau besok belum tentu, kenapa tidak menikmati hari ini?”
Ini menjelaskan kenapa pengeluaran untuk pengalaman (experience spending) meningkat: travel, kuliner, hiburan, karena memberikan makna langsung dibandingkan menabung untuk sesuatu yang belum jelas.

5. Tekanan sosial yang makin halus tapi konstan
Media sosial menciptakan ilusi bahwa semua orang “baik-baik saja”, bahkan thriving. Saat melihat orang lain tetap jalan-jalan, olahraga mahal, atau makan di tempat estetik, muncul dorongan untuk tidak tertinggal.
Ini bukan sekadar FOMO (fear of missing out), tapi juga kebutuhan untuk merasa “normal” di tengah situasi yang sebenarnya tidak normal.

Jadi, apakah ini berbahaya? Tidak selalu. Menikmati hidup, mencari kenyamanan, dan memberi hadiah pada diri sendiri adalah bagian dari menjaga kesehatan mental. Yang menjadi masalah adalah ketika itu menjadi satu-satunya strategi coping.

Yang lebih sehat adalah keseimbangan:

  • Sadari emosi di balik keinginan belanja: apakah ini kebutuhan, atau respons terhadap stres?
  • Bangun coping mechanism lain: olahraga, journaling, tidur cukup, atau koneksi sosial yang bermakna.
  • Batasi paparan informasi yang memicu kecemasan tanpa kehilangan awareness.
  • Tetapkan batas finansial yang realistis, tanpa menghilangkan ruang untuk menikmati hidup.

Di dunia yang tidak pasti, wajar jika kita mencari rasa aman, meski lewat hal-hal sederhana. Tapi kesehatan mental yang kuat bukan hanya soal merasa nyaman sesaat, melainkan kemampuan untuk tetap stabil, bahkan ketika kenyamanan itu tidak selalu tersedia.