Ada satu hal yang perlahan berubah di kota-kota besar: orang tak lagi mencari tempat hanya untuk berolahraga. Mereka mencari ruang untuk berhenti sejenak.
Di tengah jadwal kerja yang padat, kemacetan, dan paparan layar yang nyaris tak ada jedanya, konsep wellness berkembang menjadi kebutuhan baru. Yoga, meditasi, lari bersama komunitas, hingga sekadar menikmati ruang hijau kini menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan secara lebih utuh, bukan hanya fisik, tetapi juga mental dan emosional.
Perubahan itu terlihat dalam penyelenggaraan BRI Wellness Experience di Hutan Kota by Plataran, Jakarta, pada 16–19 Juli 2026. Alih-alih menghadirkan festival olahraga semata, kawasan hijau di jantung ibu kota itu diubah menjadi ruang yang menggabungkan kebugaran, relaksasi, edukasi, hiburan, dan gaya hidup dalam satu pengalaman.

Konsep yang diusung bertajuk Jakarta’s First and Largest Immersive Wellness Garden Experience. Selama empat hari, pengunjung diajak merasakan pengalaman wellness melalui berbagai aktivitas yang berlangsung di tengah lanskap pepohonan dan ruang terbuka. Mulai dari yoga, mat pilates, pound fit, meditasi dengan iringan harpa Maya Hasan, hingga community run dan wall climbing, semuanya dirancang untuk mengajak masyarakat kembali berinteraksi dengan tubuh dan alam.
Di saat yang sama, lebih dari 30 merek di bidang kesehatan, kebugaran, dan gaya hidup turut menghadirkan berbagai inovasi yang mencerminkan semakin besarnya industri wellness di Indonesia. Tak hanya menawarkan produk, acara ini juga menghadirkan diskusi mengenai nutrisi, kesehatan preventif, hingga perkembangan terapi stem cell, tema yang beberapa tahun terakhir semakin sering menjadi perhatian masyarakat perkotaan.
Fenomena ini menunjukkan bahwa wellness bukan lagi identik dengan spa atau liburan mewah. Kini, konsep tersebut hadir dalam keseharian masyarakat yang ingin menjaga kualitas hidup tanpa harus meninggalkan rutinitas. Aktivitas sederhana seperti mengikuti kelas yoga selepas bekerja, berlari bersama komunitas saat akhir pekan, atau meluangkan waktu untuk meditasi mulai dipandang sebagai investasi kesehatan jangka panjang.
Founder & CEO Plataran Indonesia, Yozua Makes, menilai perubahan tersebut menjadi alasan mengapa pendekatan terhadap wellness perlu dibuat lebih menyeluruh. Menurutnya, pengalaman yang menggabungkan alam, budaya, komunitas, hospitality, dan hiburan dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk menemukan kembali keseimbangan hidup di tengah ritme kota yang serba cepat.
Kolaborasi Plataran dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk juga memperlihatkan bahwa tren wellness kini tidak hanya menjadi perhatian industri kesehatan atau pariwisata. Dunia perbankan pun mulai melihat gaya hidup sehat sebagai bagian dari ekosistem yang terus berkembang, mulai dari kemudahan transaksi digital hingga berbagai promo yang mendukung pengalaman pengunjung selama acara berlangsung.
Di luar aktivitas kebugaran, acara ini juga menjadi momentum kerja sama strategis antara National Geographic Indonesia dan Plataran dalam memperkuat ekowisata serta edukasi lingkungan. Langkah tersebut memperlihatkan bahwa isu keberlanjutan kini semakin sulit dipisahkan dari pembahasan mengenai wellness. Menjaga kesehatan diri dan menjaga lingkungan perlahan menjadi dua hal yang saling berkaitan.
Menariknya, festival ini juga tidak meninggalkan unsur hiburan. Konser intim yang menghadirkan Yura Yunita, Judika, dan Tony Wenas menjadi penutup rangkaian acara, menghadirkan pengalaman yang memadukan musik, ruang hijau, dan suasana santai di tengah kota.
Di berbagai kota dunia, ruang publik perlahan berubah fungsi menjadi tempat masyarakat memulihkan energi, bukan sekadar beraktivitas. Jakarta tampaknya mulai bergerak ke arah yang sama. Ketika ruang hijau, komunitas, kesehatan, dan hiburan bertemu dalam satu tempat, wellness tak lagi menjadi tren sesaat. Ia menjelma menjadi cara baru masyarakat kota menjaga kewarasan di tengah kehidupan yang semakin sibuk.
Mungkin, di masa depan, ukuran hidup sehat bukan lagi sekadar berapa kilometer seseorang berlari atau berapa kali pergi ke pusat kebugaran. Tapi, seberapa sering kita memberi ruang bagi diri sendiri untuk berhenti, bernapas, dan kembali merasa utuh.


