Sering Merasa Paling Tahu? Kenali Fenomena Umarell dan Dampaknya bagi Kesehatan Mental

Pernah melihat seseorang yang berdiri lama di dekat proyek pembangunan, memperhatikan setiap detail pekerjaan, lalu tanpa diminta memberi komentar tentang apa yang seharusnya dilakukan?

Di Italia, fenomena ini punya nama: umarell. Awalnya, istilah tersebut merujuk pada para pensiunan yang gemar mengamati proyek konstruksi dan sesekali merasa lebih tahu daripada para pekerja di lapangan.

Namun, di era media sosial, makna umarell mengalami evolusi. Kini, umarell bukan lagi sekadar orang yang berdiri di pinggir proyek. Mereka bisa muncul di kolom komentar, forum diskusi, bahkan grup percakapan. Mereka selalu punya opini tentang cara orang lain bekerja, hidup, berolahraga, mengasuh anak, hingga mengelola keuangan, meski sering kali tidak memiliki pengalaman langsung.

Fenomena ini terdengar lucu, tetapi sebenarnya menyimpan sisi psikologis yang menarik.

Sponsored Links

Mengapa Seseorang Bisa Menjadi “Umarell”?

Dalam psikologi, manusia memang memiliki kecenderungan untuk mengamati lingkungan dan belajar dari orang lain. Masalah muncul ketika kebutuhan untuk mengamati berubah menjadi dorongan untuk terus mengkritik atau mengontrol tanpa diminta.

Umarell bisa disebabkan beberapa faktor (Foto: Pexels)

Ada beberapa faktor yang bisa memengaruhinya.

Pertama, kebutuhan akan rasa relevan. Ketika seseorang merasa perannya mulai berkurang atau tidak lagi dianggap penting, memberikan komentar dapat menjadi cara untuk tetap merasa memiliki kontribusi.

Kedua, ilusi keahlian. Fenomena yang dikenal sebagai Dunning-Kruger Effect menunjukkan bahwa seseorang dengan pengetahuan terbatas terkadang justru merasa paling yakin terhadap pendapatnya. Akibatnya, kritik diberikan dengan penuh percaya diri meski belum tentu akurat.

Ketiga, media sosial memperbesar kebiasaan tersebut. Platform digital membuat siapa pun memiliki panggung untuk berkomentar kapan saja. Tidak ada biaya, tidak ada konsekuensi langsung, dan sering kali ada imbalan berupa perhatian atau validasi dari pengguna lain.

Dampaknya Tidak Selalu Sepele

Menjadi pengamat sebenarnya bukan hal yang salah. Bahkan, kemampuan mengamati adalah bagian penting dari proses belajar. Namun ketika aktivitas tersebut berubah menjadi kebiasaan mencari kesalahan orang lain, dampaknya bisa lebih luas.

Bagi orang yang menjadi sasaran komentar, kritik yang terus-menerus dapat meningkatkan stres, kecemasan, bahkan membuat seseorang enggan mencoba hal baru karena takut dihakimi.

Sementara bagi pelaku, kebiasaan terus mengomentari kehidupan orang lain juga dapat menjadi tanda bahwa energi mental lebih banyak dihabiskan untuk mengontrol sesuatu yang sebenarnya berada di luar kendali. Dalam jangka panjang, pola pikir seperti ini bisa memicu frustrasi, rasa tidak puas, dan menurunkan kemampuan menikmati kehidupan sendiri.

Ironisnya, semakin sibuk mengawasi orang lain, semakin sedikit waktu yang tersedia untuk mengevaluasi diri sendiri.

Kapan Kebiasaan Ini Perlu Diwaspadai?

Tidak semua komentar berarti seseorang adalah umarell. Kritik yang membangun tetap penting, terutama jika diberikan pada waktu yang tepat dan memang diminta.

Yang perlu menjadi perhatian adalah ketika seseorang merasa terdorong untuk selalu ikut campur, sulit menahan diri untuk mengoreksi orang lain, atau merasa terganggu jika melihat sesuatu tidak berjalan sesuai versinya. Jika pola ini mulai memengaruhi hubungan sosial atau membuat diri sendiri mudah emosi setiap hari, bisa jadi ada kebutuhan psikologis yang belum terpenuhi.

Dalam praktik medis, kondisi seperti ini memang bukan diagnosis penyakit. Namun, kebiasaan tersebut dapat menjadi sinyal adanya stres kronis, rasa kesepian, kehilangan makna aktivitas, atau kebutuhan akan pengakuan yang tidak tersalurkan dengan sehat.

Cara Menghindari Mentalitas Umarell

Melatih kesadaran diri menjadi langkah pertama. Sebelum memberikan komentar, coba tanyakan pada diri sendiri: apakah pendapat ini benar-benar dibutuhkan, bermanfaat, dan diminta?

Mengalihkan fokus pada pengembangan diri juga jauh lebih menyehatkan dibanding terus mengawasi pencapaian orang lain. Mengisi waktu dengan olahraga, membaca, mempelajari keterampilan baru, atau memperluas relasi sosial terbukti membantu meningkatkan kesejahteraan psikologis.

Yang tidak kalah penting, belajar menerima bahwa tidak semua hal harus sesuai dengan standar pribadi. Dunia tidak selalu membutuhkan opini kita untuk bisa berjalan dengan baik.

Fenomena umarell mengingatkan bahwa kesehatan mental bukan hanya tentang mengelola emosi, tetapi juga tentang mengelola dorongan untuk selalu menjadi pengamat dan penghakim kehidupan orang lain. Mungkin, sebelum sibuk mengoreksi cara orang lain membangun “proyek” hidupnya, kita perlu bertanya: sudah sejauh mana kita membangun kehidupan kita sendiri?