Menjadi orang tua di era digital berarti menjalani pengasuhan di tengah kamera yang nyaris selalu menyala. Momen pertama anak berjalan, tingkah lucu saat makan, cerita tentang tantrum, hingga prestasi di sekolah dengan mudah berpindah dari album keluarga ke media sosial. Tanpa disadari, kehidupan seorang anak bisa memiliki jejak digital bahkan sebelum ia mampu mengucapkan kata pertamanya.
Fenomena ini dikenal sebagai sharenting, istilah yang berasal dari gabungan kata sharing dan parenting. Secara sederhana, sharenting merujuk pada kebiasaan orang tua membagikan informasi, foto, video, atau cerita mengenai anak di ruang digital. Bagi sebagian orang tua, aktivitas ini mungkin terasa seperti bentuk dokumentasi, cara berbagi kebahagiaan, atau bahkan sarana untuk membangun komunitas dengan sesama orang tua.
Namun, ketika hampir setiap fase kehidupan anak dibagikan kepada publik, muncul pertanyaan yang lebih serius: siapa sebenarnya yang memiliki hak atas cerita tersebut?
Orang tua merasa sedang berbagi, anak mungkin sedang kehilangan privasi
Persoalan terbesar dalam sharenting bukan sekadar berapa banyak foto anak yang diunggah, melainkan bagaimana keputusan tersebut dibuat.
Anak yang masih kecil belum memiliki kapasitas untuk memahami konsekuensi dari sebuah unggahan. Mereka belum bisa membayangkan bahwa foto yang dianggap lucu oleh orang tua hari ini mungkin masih tersimpan di internet bertahun-tahun kemudian. Mereka juga belum mampu memahami bahwa sebuah cerita tentang tantrum, masalah kesehatan, kegagalan di sekolah, atau persoalan pribadi keluarga dapat membentuk cara orang lain memandang dirinya di kemudian hari.
Di sinilah muncul persoalan tentang digital consent. Orang tua memang memiliki tanggung jawab untuk mengasuh dan melindungi anak, tetapi bukan berarti seluruh aspek kehidupan anak otomatis menjadi milik publik.
Ada perbedaan antara mendokumentasikan masa kecil dan mempublikasikannya. Album keluarga memiliki lingkaran yang terbatas. Media sosial memiliki kemungkinan audiens yang jauh lebih luas, bahkan ketika akun dibuat privat sekalipun. Konten dapat disimpan, di-screenshot, dibagikan ulang, atau muncul kembali di kemudian hari di luar konteks awal.

Dengan kata lain, sesuatu yang bagi orang tua hanya berlangsung selama beberapa detik ketika menekan tombol “unggah”, bisa menjadi bagian dari identitas digital anak selama bertahun-tahun.
Sharenting juga bisa berdampak pada kesehatan mental orang tua
Menariknya, sharenting tidak hanya berdampak pada anak. Orang tua juga dapat terjebak dalam tekanan untuk terus menampilkan kehidupan keluarga yang terlihat ideal.
Media sosial menciptakan ruang untuk membandingkan kehidupan secara terus-menerus. Ketika melihat orang tua lain mengunggah anak yang tampak selalu ceria, rumah yang rapi, aktivitas keluarga yang menyenangkan, hingga pencapaian anak yang membanggakan, orang tua dapat merasa bahwa dirinya juga harus memiliki kehidupan yang serupa.
Dari sini, pengasuhan berisiko berubah menjadi sebuah pertunjukan.
Momen keluarga yang seharusnya dijalani perlahan bisa berubah menjadi momen yang dipikirkan berdasarkan potensinya sebagai konten. Liburan bukan hanya tentang menikmati perjalanan, tetapi juga tentang mendapatkan foto yang layak diunggah. Ulang tahun bukan sekadar merayakan pertambahan usia anak, tetapi juga kesempatan membuat konten. Bahkan perilaku lucu anak dapat dipandang sebagai sesuatu yang “sayang kalau tidak direkam”.
Jika berlangsung terus-menerus, orang tua bisa mengalami kelelahan digital dan tekanan sosial untuk mempertahankan citra keluarga tertentu. Dalam kondisi yang lebih ekstrem, validasi dari audiens dapat menjadi bagian dari kepuasan emosional dalam menjalani peran sebagai orang tua.
Masalahnya, pengasuhan yang sehat membutuhkan kehadiran. Bukan sekadar dokumentasi.
Ketika anak tumbuh dan mulai mempertanyakan jejak digitalnya
Anak pada akhirnya akan tumbuh menjadi individu yang memiliki identitas, preferensi, dan batas privasi sendiri. Apa yang dianggap lucu ketika mereka berusia tiga tahun belum tentu dianggap lucu ketika mereka berusia tiga belas tahun.
Di sinilah konflik antara orang tua dan anak bisa muncul.
Seorang anak mungkin merasa malu karena foto masa kecilnya yang dianggap menggemaskan ternyata menjadi bahan lelucon teman-temannya. Anak lain mungkin merasa tidak nyaman karena cerita pribadinya tentang masalah emosional atau kondisi kesehatan pernah dibagikan kepada ribuan orang.
Persoalannya bukan hanya tentang rasa malu. Anak juga bisa merasa kehilangan kendali atas narasi tentang dirinya sendiri.
Pada usia tertentu, anak mulai membangun identitas sosialnya. Mereka ingin menentukan bagaimana dirinya dilihat oleh orang lain. Ketika sebagian besar cerita tentang masa kecilnya sudah lebih dulu dibentuk oleh unggahan orang tua, ruang bagi anak untuk menentukan identitasnya sendiri menjadi lebih sempit.
Dalam konteks ini, sharenting dapat menjadi persoalan psikologis yang lebih kompleks daripada sekadar “terlalu banyak posting”.
Anak bukan konten
Kalimat ini terdengar sederhana, tetapi semakin relevan di tengah ekonomi digital yang menjadikan perhatian sebagai komoditas.
Ketika konten tentang anak mendapatkan banyak likes, komentar, atau bahkan menghasilkan pendapatan, batas antara berbagi dan mengeksploitasi menjadi semakin tipis. Anak dapat secara tidak langsung menjadi bagian dari strategi konten keluarga, bahkan ketika mereka tidak memahami bagaimana sistem tersebut bekerja.
Situasi ini semakin rumit ketika orang tua menjadikan kehidupan anak sebagai bagian utama dari identitas digital atau sumber penghasilan.
Bukan berarti semua bentuk family content otomatis buruk. Banyak orang tua menggunakan media sosial untuk berbagi pengalaman, memberikan edukasi, membangun komunitas, atau mendukung keluarga lain yang menghadapi situasi serupa.
Namun, niat baik tidak selalu menghapus risiko.
Orang tua perlu bertanya: apakah konten ini benar-benar bermanfaat bagi anak? Apakah informasi yang dibagikan terlalu pribadi? Apakah anak akan tetap nyaman melihat konten ini ketika ia dewasa? Dan yang paling penting, apakah anak memiliki kesempatan untuk mengatakan tidak?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut mungkin terdengar berlebihan ketika hanya membahas sebuah foto. Namun, masalah sharenting bukan terletak pada satu unggahan. Masalahnya ada pada akumulasi jejak digital yang terbentuk sedikit demi sedikit sepanjang masa kanak-kanak.
Bukan berarti orang tua harus berhenti berbagi
Solusinya bukan meminta semua orang tua menghilang dari media sosial.
Berbagi pengalaman sebagai orang tua dapat menjadi sesuatu yang positif. Komunitas digital bahkan bisa memberikan dukungan emosional yang sangat berarti, terutama bagi mereka yang merasa sendirian dalam menghadapi tantangan pengasuhan.
Yang perlu diubah adalah cara berbagi.
Orang tua dapat mulai dengan mengurangi informasi yang terlalu personal, menghindari membagikan lokasi anak secara real time, tidak menampilkan data identitas seperti nama lengkap atau sekolah secara berlebihan, serta lebih berhati-hati ketika mengunggah foto yang memperlihatkan kondisi anak saat sedang rentan.
Lebih dari itu, orang tua dapat mulai membangun kebiasaan meminta persetujuan anak ketika usianya sudah memungkinkan. Tidak semua anak nyaman difoto. Tidak semua anak ingin kehidupannya diketahui orang lain. Dan tidak semua momen perlu menjadi konsumsi publik.
Ada pula satu pertanyaan sederhana yang bisa menjadi filter sebelum mengunggah sesuatu: Jika suatu hari anak saya melihat unggahan ini ketika sudah dewasa, apakah ia akan berterima kasih atau justru merasa dikhianati?
Tentu tidak semua keputusan bisa diprediksi dengan sempurna. Namun, pertanyaan tersebut dapat membantu orang tua menempatkan kepentingan anak di atas kebutuhan untuk mendapatkan perhatian dari dunia digital.
Pada akhirnya, menjadi orang tua bukan tentang seberapa banyak momen anak yang berhasil diabadikan dan dibagikan kepada publik. Pengasuhan juga bukan tentang membangun citra keluarga yang sempurna di media sosial.
Mungkin, salah satu bentuk kasih sayang yang paling sederhana di era digital adalah mengetahui kapan harus mengunggah sebuah momen, dan kapan memilih menyimpannya hanya untuk keluarga.


