Ada kalanya pikiran terasa terlalu penuh. Pekerjaan menumpuk, notifikasi tak berhenti berdatangan, sementara kepala terus sibuk memikirkan hal-hal yang bahkan belum tentu terjadi. Di tengah ritme hidup yang serba cepat, mencari ruang untuk berhenti sejenak bukan lagi sekadar kemewahan, melainkan bagian dari upaya menjaga kesehatan mental.
Seni bisa menjadi salah satu ruang tersebut. Tak selalu harus melalui terapi atau aktivitas yang terstruktur, merawat kesehatan mental juga dapat dimulai dari hal sederhana: memberi kesempatan kepada diri sendiri untuk mengamati, merasakan, dan memaknai sesuatu tanpa tuntutan untuk segera menghasilkan atau menyelesaikannya.
Pengalaman itulah yang coba dihadirkan melalui dua pameran seni kontemporer, Lucid Dreams dan Repetisi Memori, yang berlangsung bersamaan di Labyrinth Art Gallery, Nuanu Creative City, Bali, pada 18 Juli hingga 18 Agustus 2026.
Dikembangkan melalui kolaborasi dengan Ruang Fungsi yang berbasis di Bali dan Pando Art Collective yang berakar di Yogyakarta, kedua pameran ini mempertemukan karya dari 17 seniman dengan beragam medium, mulai dari seni lukis, instalasi, hingga media campuran.
Namun, lebih dari sekadar ruang untuk melihat karya seni, pameran ini menawarkan pengalaman untuk berhadapan dengan sesuatu yang sangat personal: ingatan, imajinasi, pengalaman hidup, hingga alam bawah sadar.
Dalam Lucid Dreams, misalnya, pengunjung diajak masuk ke wilayah yang lebih abstrak dan intuitif. Pameran yang dikurasi oleh Samuel David ini mengeksplorasi hubungan antara imajinasi, ingatan, dan alam bawah sadar melalui karya-karya yang dibangun dari simbolisme, intuisi, serta pengalaman personal para seniman.
Ruang visual yang cenderung sureal tersebut memungkinkan setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda. Satu karya mungkin mengingatkan seseorang pada pengalaman masa lalu, sementara bagi orang lain bisa memunculkan perasaan atau pertanyaan yang selama ini tidak pernah disadari.

Di titik inilah seni menjadi menarik dalam konteks kesehatan mental. Ia tidak selalu memberikan jawaban, tetapi justru membuka ruang untuk bertanya kepada diri sendiri.
Sementara itu, Repetisi Memori mengajak pengunjung melihat ingatan dari perspektif yang berbeda. Ingatan tidak selalu hadir sebagai sesuatu yang utuh dan permanen. Ia dapat berubah, tersusun kembali, dan mendapatkan makna baru seiring perjalanan hidup, tempat, dan waktu.
Gagasan tersebut terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sebab, manusia pada dasarnya tidak hanya hidup di masa kini, tetapi juga membawa berbagai potongan masa lalu ke dalam dirinya. Ada kenangan yang ingin dipertahankan, ada yang ingin dilupakan, dan ada pula yang baru bisa dipahami setelah seseorang melihatnya dari jarak tertentu.
Melalui pengalaman menikmati karya seni, proses tersebut dapat berlangsung secara perlahan. Pengunjung tidak perlu terburu-buru. Tidak ada kewajiban untuk memahami setiap karya secara akademis. Cukup hadir, mengamati, lalu membiarkan pikiran dan perasaan merespons dengan caranya sendiri.
Nuanu sendiri melihat kolaborasi ini sebagai bagian dari upaya memperluas akses terhadap seni sekaligus mempertemukan seniman dan publik dari berbagai daerah. Kehadiran kolektif seni independen seperti Ruang Fungsi dan Pando Art Collective juga membuka kesempatan bagi seniman untuk bertemu dengan audiens baru di luar wilayah asal mereka.
Di tengah kehidupan modern yang sering kali membuat manusia terbiasa bergerak cepat, pengalaman menikmati seni dapat menjadi bentuk jeda yang sederhana. Jeda untuk tidak melakukan apa-apa selain melihat. Jeda untuk mengingat. Jeda untuk merasakan kembali sesuatu yang mungkin selama ini tertutup oleh kesibukan.
Pada akhirnya, seni mungkin memang tidak bisa menyelesaikan semua persoalan mental yang kita hadapi. Namun, ia bisa menjadi pintu masuk untuk mengenali emosi, memberi jarak dari kebisingan sehari-hari, sekaligus mengingatkan bahwa tidak semua hal dalam hidup harus segera dipahami atau diselesaikan.
Barangkali, ketika dunia terasa terlalu bising, yang kita butuhkan bukan selalu jawaban—melainkan sebuah ruang untuk berhenti sejenak dan mendengarkan kembali suara yang paling sering kita abaikan: suara dari dalam diri sendiri.


