Benarkah Work From Anywhere Bisa Mengurangi Stres?

Work from anywhere atau WFA sering dianggap sebagai salah satu bentuk kebebasan paling menarik dalam dunia kerja modern.

Tidak perlu setiap pagi berdesakan di jalan, tidak harus duduk di ruang kantor selama delapan jam, dan secara teori kita bisa memilih tempat kerja yang paling nyaman. Bekerja dari rumah, kafe, coworking space, bahkan dari kota lain terdengar seperti resep sederhana untuk mengurangi stres.

Tetapi, apakah benar bekerja dari mana saja otomatis membuat kita lebih bahagia dan lebih sehat secara mental? Jawabannya tidak sesederhana itu. WFA memang bisa mengurangi beberapa sumber stres, tetapi pada saat yang sama dapat menciptakan jenis stres baru yang sering kali tidak terlihat.

Sponsored Links

Ketika Jalan ke Kantor Hilang, Stres Memang Bisa Berkurang

Salah satu keuntungan WFA yang paling mudah dirasakan adalah berkurangnya commuting. Bagi pekerja di kota besar, perjalanan menuju kantor bukan sekadar persoalan waktu, tetapi juga beban fisik dan psikologis. Kemacetan, transportasi umum yang penuh, keterlambatan, cuaca buruk, hingga kekhawatiran tiba terlambat bisa membuat tubuh berada dalam kondisi waspada bahkan sebelum pekerjaan dimulai.

Ketika waktu perjalanan tersebut berkurang atau bahkan hilang, seseorang mendapatkan kembali waktu yang sebelumnya habis di perjalanan. Waktu itu bisa digunakan untuk tidur lebih lama, sarapan dengan tenang, berolahraga, atau sekadar memulai hari tanpa terburu-buru. Dari perspektif wellness, perubahan kecil seperti ini dapat memberikan dampak yang cukup besar terhadap kualitas keseharian.

Masalahnya, manfaat tersebut hanya terjadi jika waktu yang “diselamatkan” benar-benar digunakan untuk pemulihan. Jika bangun lebih siang lalu langsung membuka laptop, membalas pesan kerja sejak pagi, dan bekerja sampai malam karena merasa tidak perlu lagi meninggalkan kantor secara fisik, maka stres hanya berpindah bentuk.

WFA Bisa Buat Batas Antara Kerja dan Kehidupan Pribadi Jadi Kabur

Ini adalah salah satu paradoks terbesar dalam budaya kerja fleksibel. Ketika kantor tidak lagi memiliki lokasi fisik yang jelas, batas antara “sedang bekerja” dan “sudah selesai bekerja” juga bisa semakin samar.

Dulu, perjalanan pulang dari kantor secara tidak langsung menjadi ritual transisi. Kita meninggalkan gedung, naik kendaraan, melewati jalan, lalu sampai di rumah. Ada jeda yang membantu otak memahami bahwa hari kerja telah berakhir. Dalam WFA, seseorang bisa menyelesaikan rapat pukul enam sore, menutup laptop selama 20 menit, lalu membukanya kembali karena ada pesan dari atasan atau pekerjaan yang belum selesai.

Bahkan ada fenomena yang lebih halus: seseorang secara fisik memang sedang berada di rumah, tetapi secara mental tetap berada di kantor. Makan siang sambil membuka spreadsheet, menonton televisi sambil membalas email, atau bermain dengan anak sambil memikirkan deadline adalah contoh bagaimana pekerjaan bisa mengambil ruang di kepala meskipun jam kerja secara formal sudah selesai.

kerja 4 hari
Bekerja dari mana saja yang menjadi tren kerja saat ini (Foto: Pixabay)

Karena itu, fleksibilitas tidak selalu sama dengan kebebasan. Fleksibilitas tanpa batas yang jelas justru bisa membuat seseorang merasa harus selalu tersedia.

Bekerja dari Rumah juga Belum Tentu Lebih Santai

Ada asumsi bahwa WFA membuat seseorang memiliki lebih banyak waktu untuk dirinya sendiri. Namun, waktu yang tidak digunakan untuk commuting belum tentu otomatis menjadi waktu pemulihan.

Sebagian orang justru menggunakan waktu tersebut untuk menambah jam kerja. Karena tidak perlu pergi ke kantor, mereka merasa bisa mulai lebih pagi. Karena tidak perlu pulang, mereka merasa masih bisa menyelesaikan satu pekerjaan lagi. Akhirnya, jam kerja menjadi lebih panjang tanpa disadari.

Di sinilah penting membedakan antara waktu luang dan waktu pemulihan. Waktu luang adalah waktu ketika kita tidak sedang bekerja, sedangkan pemulihan adalah waktu ketika tubuh dan pikiran benar-benar mendapatkan kesempatan untuk kembali ke kondisi yang lebih tenang. Bermain media sosial selama satu jam setelah bekerja belum tentu memberikan pemulihan yang sama dengan tidur cukup, berjalan kaki, berolahraga ringan, berbicara dengan orang lain, atau melakukan aktivitas yang benar-benar membuat pikiran terlepas dari pekerjaan.

Ada juga Stres yang Datang dari Rasa Kesepian

WFA bisa sangat menyenangkan bagi orang yang merasa kantor terlalu bising atau melelahkan. Namun bagi sebagian orang lain, interaksi sosial di tempat kerja merupakan bagian penting dari kesejahteraan psikologis.

Percakapan singkat dengan rekan kerja, makan siang bersama, bertemu orang lain di perjalanan, atau sekadar berada di lingkungan yang berbeda dari rumah memberikan stimulasi sosial yang sering dianggap sepele. Ketika semuanya hilang, seseorang bisa merasa terisolasi, terutama jika bekerja sendirian dalam jangka panjang.

Kesepian dalam konteks pekerjaan juga tidak selalu terlihat seperti merasa “sendirian”. Seseorang bisa mengikuti banyak rapat online sepanjang hari, tetapi tetap merasa tidak benar-benar terhubung dengan orang lain. Banyaknya interaksi digital tidak selalu sama dengan kualitas hubungan sosial.

Fleksibilitas juga Bisa Jadi Sumber Tekanan Baru

Ada sisi lain dari WFA yang jarang dibicarakan: pilihan yang terlalu banyak juga bisa melelahkan. Hari ini bekerja dari rumah, besok dari kafe, lusa dari coworking space, minggu depan dari luar kota. Secara teori terdengar menyenangkan. Tetapi pada kondisi tertentu, kebutuhan untuk terus mengatur tempat, koneksi internet, suasana kerja, makanan, hingga jadwal pribadi justru menambah beban mental.

Belum lagi tekanan sosial yang muncul dari budaya “kerja fleksibel”. Ketika orang lain terlihat bisa bekerja sambil traveling, bekerja dari pantai, atau berpindah-pindah kota, WFA bisa berubah menjadi sesuatu yang harus terlihat produktif sekaligus menyenangkan. Padahal, tidak semua orang membutuhkan gaya kerja seperti itu.

Work from anywhere seharusnya tidak berubah menjadi work everywhere.

Jadi, Apakah WFA Bisa Kurangi Stres?

Bisa, tetapi bukan karena lokasinya. Manfaat WFA lebih banyak ditentukan oleh bagaimana fleksibilitas tersebut digunakan dan seberapa sehat sistem kerja yang mendukungnya.

WFA cenderung lebih bermanfaat ketika seseorang memiliki otonomi yang cukup, target kerja yang jelas, jam komunikasi yang masuk akal, beban kerja yang realistis, serta batas yang sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Sebaliknya, WFA bisa menjadi sumber stres ketika ekspektasi untuk selalu online tetap tinggi, pekerjaan tidak pernah benar-benar selesai, dan seseorang merasa harus membuktikan bahwa dirinya tetap produktif meskipun tidak berada di kantor.

Dengan kata lain, masalah stres di tempat kerja tidak selalu bisa diselesaikan dengan mengganti lokasi kerja. Jika akar masalahnya adalah workload yang berlebihan, budaya selalu tersedia, atasan yang tidak sehat, target yang tidak realistis, atau kurangnya kontrol terhadap pekerjaan, memindahkan laptop dari meja kantor ke meja ruang tamu tidak akan menyelesaikan persoalan tersebut.

Bukan Bekerja dari Mana, Tapi Kerja dengan Cara Seperti Apa

WFA sebaiknya dilihat sebagai alat, bukan solusi kesehatan mental. Ia bisa membantu seseorang mendapatkan lebih banyak kendali atas waktunya, mengurangi kelelahan perjalanan, dan menciptakan pola hidup yang lebih sesuai dengan kebutuhannya. Tetapi fleksibilitas tersebut perlu diimbangi dengan kemampuan untuk berhenti bekerja, beristirahat, bersosialisasi, bergerak, dan benar-benar hadir dalam kehidupan di luar pekerjaan.

Mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan “Apakah saya bisa bekerja dari mana saja?”, tetapi “Apakah cara saya bekerja saat ini memberi ruang bagi saya untuk tetap menjadi manusia setelah pekerjaan selesai?”