Cuma Bikin Capek! Kenali 7 Tanda Atasan Kamu Lebih Layak Jadi “Toxic” Daripada “Leader”

Di balik target dan deadline yang terlihat ambisius, sering kali ada satu faktor tak kasat mata yang diam-diam menggerus kesehatan mental: cara seorang atasan memimpin timnya.

Di banyak kasus, burnout bukan cuma soal beban kerja yang tinggi. Sering kali, sumber stres terbesar justru datang dari sosok yang seharusnya menjadi penopang, yaitu atasan. Pola ini berulang dan kesehatan mental terganggu bukan karena “kerjaan terlalu banyak”, tapi karena “dipimpin oleh orang yang salah”.

Lalu, bagaimana mengenali tanda-tanda bahwa seseorang tidak layak menjadi leader, setidaknya dari perspektif kesehatan mental?

1. Komunikasi yang Membuat Cemas, Bukan Jelas
Alih-alih memberikan arahan yang terstruktur, atasan seperti ini sering berubah-ubah, tidak konsisten, atau bahkan pasif-agresif. Dampaknya? Otak terus berada dalam mode “waspada”. Dalam jangka panjang, kondisi ini meningkatkan hormon stres seperti kortisol, yang berujung pada kelelahan mental kronis.

Hari ini kamu diminta fokus ke campaign A, besok tiba-tiba dimarahi karena campaign B belum jalan, padahal tidak pernah dibahas sebelumnya. Atau, kamu menerima pesan singkat seperti “ini kurang bagus” tanpa penjelasan apa yang harus diperbaiki.

Kamu jadi overthinking, takut salah, dan sulit benar-benar “switch off” setelah jam kerja.

2. Mengandalkan Tekanan, Bukan Kepercayaan
Ada tipe pemimpin yang percaya bahwa tekanan tinggi adalah cara terbaik untuk meningkatkan performa. Deadline mendadak, revisi tanpa konteks, hingga kritik di ruang publik jadi “menu harian”. Padahal, pendekatan ini justru memicu kecemasan performa (performance anxiety) dan menurunkan rasa percaya diri tim.

Misalnya, kamu diberi tugas besar dengan deadline sangat sempit tanpa diskusi sebelumnya. Saat hasilnya belum maksimal, kamu ditegur di depan tim tanpa ruang klarifikasi.

3. Tidak Punya Empati terhadap Batasan Personal
Leader yang sehat memahami bahwa timnya adalah manusia, bukan mesin. Jika atasanmu menganggap lembur sebagai norma, mengabaikan waktu istirahat, atau meremehkan kondisi mental, itu tanda serius. Secara medis, kurangnya recovery time dapat mempercepat kelelahan sistem saraf dan meningkatkan risiko gangguan seperti anxiety disorder.

4. Mengambil Kredit, Menghindari Tanggung Jawab
Fenomena “success is mine, failure is yours” adalah red flag besar. Dalam jangka panjang, ini menciptakan lingkungan kerja yang tidak aman secara psikologis (psychological unsafe environment). Akibatnya, individu cenderung menahan ide, takut berpendapat, dan mengalami penurunan motivasi intrinsik.

5. Tidak Memberikan Ruang untuk Bertumbuh
Leader yang tidak layak biasanya fokus pada output jangka pendek tanpa peduli perkembangan tim. Tidak ada feedback konstruktif, tidak ada mentoring. Padahal, kebutuhan akan growth adalah salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatan mental dan kepuasan kerja.

6. Menciptakan Budaya Takut, Bukan Kolaborasi
Jika kamu merasa harus “berjalan di atas kulit telur” setiap hari, takut salah, takut bicara, takut terlihat tidak sempurna, itu artinyasinyal kuat. Lingkungan seperti ini membuat sistem saraf terus aktif dalam mode fight-or-flight, yang dalam jangka panjang bisa memicu kelelahan emosional dan bahkan depresi.

7. Tidak Mengerti Bisnis dan Asal Perintah

Ini sering luput disadari, padahal dampaknya besar. Atasan tidak memahami konteks bisnis, tapi tetap membuat keputusan strategis tanpa dasar yang jelas, menolak masukan dan akhirnya main kasih perintah yang terkesan seenaknya (nge-gampangin).

Misalnya, atasan meminta strategi marketing yang tidak sesuai dengan target market, lalu mengabaikan data atau insight dari tim dengan alasan “feeling saya lebih tepat”. Atau, membuat keputusan operasional yang justru memperumit alur kerja karena tidak memahami proses di lapangan. Ini sering terjadi karena atasan tak paham bisnisnya dan enggan turun langsung ke lapangan sehingga memimpin seperti orang yang mengenakan kacamata kuda.

Dampaknya: Tim merasa frustrasi karena upaya rasional tidak dihargai. Muncul kelelahan kognitif (mental fatigue) karena harus terus “memperbaiki” keputusan yang keliru dan diperparah dengan kekeliruan yang terus diulang akibat atasa tak memahami bisnisnya.

Kesehatan mental di dunia kerja bukan isu sepele. Banyak orang menganggap stres kerja sebagai sesuatu yang “harus ditoleransi”. Padahal, paparan stres yang tidak sehat dan terus-menerus bisa berdampak nyata: gangguan tidur, kelelahan kronis, penurunan imunitas, hingga gangguan mood.

Sebagai profesional muda, penting untuk mulai lebih peka: apakah kamu lelah karena tantangan yang sehat, atau karena sistem yang toxic?

Sponsored Links

Apa yang Bisa Dilakukan?

  • Dokumentasikan pola yang mengganggu (bukan sekadar perasaan, tapi kejadian konkret)
  • Bangun support system di luar kantor
  • Tetapkan batasan yang realistis (boundary setting)
  • Jika memungkinkan, diskusikan secara profesional
  • Dan jika dampaknya sudah mengganggu kesehatan mental secara signifikan, mempertimbangkan untuk keluar bukanlah bentuk “menyerah”, itu bentuk self-preservation

Pada akhirnya, pekerjaan yang baik bukan hanya soal gaji atau jabatan. Tapi juga tentang apakah kamu bisa tetap menjadi versi sehat dan terbaik dari dirimu sendiri saat menjalaninya.