Ketika Diet Jadi Bumerang: Pola Makan Minim yang Diam-Diam Merusak Metabolisme

Di tengah budaya kerja yang menuntut serba cepat dan efisien, banyak pekerja urban tanpa sadar menjalani “diet” ekstrem yang justru membuat tubuh kelelahan dan metabolisme melambat, alih-alih menjadi lebih sehat dan bugar.

Di tengah ritme kerja urban yang serba cepat, “diet” sering dipersempit maknanya menjadi sekadar makan lebih sedikit agar berat badan turun. Banyak pekerja kantoran melewatkan sarapan, mengandalkan kopi sebagai pengganjal lapar, makan siang minimal, lalu berharap tubuh tetap produktif hingga malam. Ironisnya, pola makan seperti ini justru dapat menjadi bumerang bagi metabolisme.

Fenomena ini dikenal sebagai defisit kalori kronis, kondisi ketika asupan energi terlalu rendah dalam jangka waktu lama. Alih-alih membuat tubuh lebih “efisien” membakar lemak, kondisi ini dapat memperlambat metabolisme dan menurunkan kualitas kesehatan secara keseluruhan.

Sponsored Links

Apa Itu Defisit Kalori Kronis?

Defisit kalori sebenarnya adalah prinsip dasar penurunan berat badan: kalori yang masuk lebih sedikit daripada yang dikeluarkan. Masalah muncul ketika defisit dilakukan terlalu besar, terlalu lama, dan tanpa perencanaan nutrisi yang memadai.

Pada pekerja urban, defisit kalori kronis sering tidak disengaja. Kesibukan, stres kerja, jam makan tidak teratur, dan budaya “sibuk berarti produktif” membuat banyak orang mengonsumsi kalori jauh di bawah kebutuhan tubuh hariannya selama berbulan-bulan.

Diet Seperti Apa yang Justru Memperlambat Metabolisme?

Berikut adalah pola “diet” yang secara ilmiah terbukti dapat menekan laju metabolisme jika dilakukan terus-menerus:

1. Diet Sangat Rendah Kalori dalam Jangka Panjang

Diet dengan asupan di bawah ±1.200 kkal per hari (atau jauh di bawah kebutuhan individual) membuat tubuh masuk ke mode bertahan hidup. Tubuh menurunkan Basal Metabolic Rate (BMR) untuk menghemat energi, sehingga pembakaran kalori melambat.

makan
Ketika tubuh kekurangan kalori, maka tubuh akan masuk ke mode bertahanh hidup (Foto: Pexels)

Akibatnya:

  • Berat badan sulit turun meski makan sangat sedikit
  • Mudah merasa lelah dan kedinginan
  • Penurunan massa otot, bukan lemak

2. Melewatkan Makan Secara Konsisten (Chronic Meal Skipping)

Sarapan yang terus dilewatkan, makan siang yang “sekadarnya”, lalu makan malam kecil bukanlah intermittent fasting yang terstruktur. Pola ini membuat tubuh menerima sinyal kekurangan energi sepanjang hari.

Dalam jangka panjang, tubuh merespons dengan:

  • Menurunkan produksi hormon tiroid (T3)
  • Mengurangi pengeluaran energi non-olahraga (NEAT)
  • Meningkatkan kecenderungan menyimpan lemak

3. Diet Tinggi Defisit Tanpa Protein yang Cukup

Asupan kalori rendah yang tidak diimbangi protein memadai mempercepat kehilangan massa otot. Padahal, otot adalah jaringan metabolik aktif yang berperan besar dalam pembakaran kalori harian.

Semakin sedikit otot, semakin rendah metabolisme—bahkan saat istirahat.

4. Diet Berbasis “Menahan Lapar” dan Kafein

Mengandalkan kopi, minuman nol kalori, atau suplemen penekan nafsu makan untuk bertahan seharian adalah pola yang sering terjadi di lingkungan kerja urban. Nafsu makan mungkin tertahan sementara, tetapi sistem hormonal tubuh terganggu.

Kortisol (hormon stres) meningkat, yang justru:

  • Menghambat pembakaran lemak
  • Meningkatkan penyimpanan lemak abdominal
  • Mengacaukan sinyal lapar dan kenyang

5. Diet Tanpa Fase Pemulihan

Banyak orang “diet terus” tanpa jeda selama berbulan-bulan. Tanpa fase maintenance atau refeeding yang terkontrol, tubuh tidak pernah diberi sinyal bahwa kondisi aman telah kembali. Metabolisme pun tetap berada pada level rendah.

Mengapa Metabolisme Melambat?

Dari perspektif biologis, tubuh manusia tidak mengenal konsep “ingin kurus”. Yang dikenal adalah bertahan hidup. Ketika asupan energi terlalu rendah dalam waktu lama, tubuh beradaptasi dengan:

  • Menurunkan hormon tiroid
  • Mengurangi pembakaran kalori basal
  • Mengorbankan massa otot
  • Menghemat energi untuk fungsi vital

Adaptasi ini bermanfaat saat kelaparan, tetapi merugikan dalam konteks kesehatan modern.

Diet yang Lebih Sehat untuk Metabolisme

Diet yang mendukung metabolisme bukanlah diet ekstrem, melainkan pola makan yang:

  • Defisit kalori moderat dan terukur
  • Asupan protein cukup untuk mempertahankan otot
  • Jadwal makan relatif konsisten
  • Disesuaikan dengan tingkat aktivitas dan stres
  • Memiliki fase pemeliharaan, bukan defisit terus-menerus

Berat badan yang turun perlahan namun stabil jauh lebih ramah bagi metabolisme dibanding penurunan cepat yang penuh restriksi.

Bagi pekerja urban, tantangan utama bukan hanya memilih “diet yang tepat”, tetapi memahami bahwa tubuh bukan mesin yang bisa dipaksa bekerja dengan bahan bakar minimal. Defisit kalori kronis mungkin terlihat disiplin di permukaan, tetapi dalam jangka panjang justru dapat memperlambat metabolisme, menurunkan performa kerja, dan merusak kesehatan.

Diet seharusnya menjadi strategi jangka panjang untuk hidup lebih sehat, bukan perlombaan menahan lapar.