Bagi banyak orang, hari mungkin belum benar-benar dimulai sebelum secangkir kopi hadir di meja. Ada yang menikmatinya untuk mengusir kantuk, ada yang menjadikannya teman bekerja, sementara sebagian lainnya datang ke kedai kopi untuk bertemu teman, berdiskusi, atau sekadar mencari jeda dari rutinitas.
Di Indonesia, kebiasaan minum kopi telah berkembang jauh melampaui urusan rasa dan kafein. Kopi telah menjadi bagian dari gaya hidup, dan di balik satu cangkir kopi, ada rantai panjang yang melibatkan petani, roaster, barista, pemilik kedai, pelaku UMKM, komunitas, hingga konsumen.
Gambaran tentang ekosistem tersebut hadir di Indonesia Coffee Expo (ICX) Jakarta 2026, yang resmi digelar di Jakarta International Convention Center (JICC) Senayan, Jakarta.
Diselenggarakan Dyandra Promosindo bersama Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) dan didukung PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), ICX Jakarta menjadi kota terakhir sekaligus puncak rangkaian Indonesia Coffee Expo 2026 setelah sebelumnya berlangsung di Surabaya dan Medan.

Selama tiga hari, 4–6 September 2026, lebih dari 115 brand hadir membawa produk, inovasi, serta cerita mereka masing-masing. Penyelenggara menargetkan sekitar 10.000 pengunjung dengan potensi transaksi mencapai Rp4 miliar.
Namun, yang menarik dari gelaran ini bukan hanya angka transaksi atau jumlah peserta. ICX memperlihatkan bagaimana kopi telah berkembang menjadi sebuah ekosistem gaya hidup yang semakin luas.
Dari Kebun hingga Cangkir
Pertumbuhan budaya ngopi di Indonesia dalam satu dekade terakhir menunjukkan perubahan besar dalam cara masyarakat menikmati kopi.
Data International Coffee Organization (ICO) mencatat konsumsi kopi Indonesia tumbuh 50,02 persen dalam 10 tahun terakhir. Pada saat yang sama, jumlah kafe di Indonesia disebut tumbuh sekitar 16 persen setiap tahun.
Survei Jakpat pada 2026 juga menunjukkan bahwa 58 persen responden mengonsumsi kopi setidaknya sekali dalam sehari. Angka-angka tersebut memberi gambaran bahwa kopi memiliki tempat yang semakin kuat dalam keseharian masyarakat. Tetapi pertumbuhan itu juga membawa perubahan lain: konsumen mulai semakin memperhatikan apa yang mereka minum.
Asal biji kopi, metode seduh, karakter rasa, kualitas produk, hingga pengalaman ketika menikmatinya kini menjadi bagian dari percakapan tentang kopi.
Kopi akhirnya bukan lagi sekadar komoditas. Ia menjadi pengalaman. Perubahan inilah yang ingin ditangkap ICX Jakarta 2026 dengan mempertemukan berbagai elemen dalam ekosistem kopi Indonesia, mulai dari petani, brand, roaster, pengelola kafe, barista, UMKM, komunitas, hingga penikmat kopi.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo melihat perkembangan tersebut sebagai peluang yang besar bagi Jakarta.
“Indonesia menempati nomor empat kopi dunia, persentasenya antara 7-8% kontribusinya. Pelaku di Jakarta yang berkaitan dengan kopi hampir 193.000, jadi cukup besar sekali,” ujarnya saat pembukaan ICX Jakarta 2026.
Ia berharap Jakarta dapat berkembang menjadi salah satu pusat utama industri kopi Indonesia, sekaligus menjadi ruang bagi kreativitas, inovasi, dan pertemuan berbagai ide.
“Saya berharap Jakarta bisa menjadi hub utama untuk perkopian Indonesia,” kata Pramono.
Ketika Barista Menjadi Bagian dari Pengalaman
Salah satu bagian yang menarik perhatian dalam ICX Jakarta 2026 adalah Indonesia Barista Championship (IBC) Region 1 Jakarta.
Pada hari pertama, delapan kompetitor bertanding pada Round 1 dari total 15 kompetitor yang berasal dari sejumlah entitas kopi ternama di Indonesia. Di balik kompetisi tersebut, ada sesuatu yang lebih besar daripada sekadar siapa yang mampu menghasilkan secangkir kopi terbaik.
Barista kini semakin sering menjadi bagian dari pengalaman seseorang ketika datang ke kedai kopi. Cara mereka menyeduh, menjelaskan karakter kopi, hingga berinteraksi dengan pelanggan ikut membentuk bagaimana sebuah produk dinikmati.
Karena itu, kompetisi seperti IBC juga menjadi ruang untuk melihat perkembangan talenta di industri kopi Indonesia.

Ketua Umum Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI), Daryanto Witarsa, mengatakan kompetisi tersebut menjadi kesempatan bagi para barista untuk menunjukkan kemampuan, kreativitas, dan karakter mereka.
“Melalui kompetisi ini, masyarakat juga dapat melihat lebih dekat talenta-talenta yang berkembang di industri kopi Indonesia,” ujar Daryanto.
Menurutnya, perkembangan industri kopi juga semakin dipengaruhi oleh konsumen muda yang menjadikan ngopi sebagai bagian dari gaya hidup. Kondisi tersebut membuat pelaku industri harus terus beradaptasi, bukan hanya melalui produk, tetapi juga pengalaman dan cara membangun brand.
Kopi, Komunitas, dan Ruang untuk Bertemu
Barangkali salah satu alasan kopi begitu mudah melekat dalam keseharian adalah kemampuannya menciptakan ruang untuk bertemu. Kedai kopi bisa menjadi tempat seseorang bekerja sendirian, bertemu teman lama, melakukan meeting, membangun komunitas, bahkan menemukan ide bisnis baru.
Karakter tersebut juga terasa dalam ICX Jakarta 2026. Melalui berbagai program interaktif, pengunjung tidak hanya datang untuk melihat produk, tetapi juga bisa berinteraksi langsung dengan pelaku industri dan mengenal lebih dekat proses di balik kopi yang mereka konsumsi.
Salah satunya hadir melalui UNFILTERED Bars, area experiential yang mempertemukan brand, pelaku industri, figur publik, dan konsumen dalam satu pengalaman.
Di ruang seperti ini, kopi tidak berhenti sebagai produk yang dijual. Ada cerita, percakapan, pengalaman, dan komunitas yang ikut terbentuk di sekitarnya. Presiden Direktur Dyandra Promosindo Daswar Marpaung mengatakan ICX memang dirancang untuk mempertemukan berbagai elemen tersebut.
“Industri ini tidak hanya tumbuh dari sisi konsumsi, tetapi juga dari semakin beragamnya pelaku usaha, brand, barista, roaster, komunitas, dan talenta baru yang terus berkembang,” ujarnya.
Ketika Gaya Hidup Bertemu Peluang Ekonomi
Besarnya ekosistem kopi juga membuat industri ini menarik dari sisi ekonomi.
Satu cangkir kopi yang dinikmati konsumen merupakan bagian kecil dari rantai ekonomi yang panjang. Ada petani yang menanam dan memanen kopi, pengolah yang menentukan kualitas biji, roaster yang mengembangkan profil rasa, distributor yang membawa produk ke berbagai tempat, hingga barista yang menyajikannya kepada konsumen.
Ekosistem inilah yang juga menjadi perhatian BTN melalui kehadirannya di ICX Jakarta 2026. Direktur Utama BTN Nixon L.P. Napitupulu mengatakan kopi saat ini telah menjadi bagian dari gaya hidup sekaligus memiliki ekosistem yang melibatkan banyak pelaku usaha.
“Kopi hari ini bukan sekadar minuman, tetapi sudah menyatu dengan lifestyle. Komunitasnya banyak, ekosistemnya besar,” kata Nixon.
Melalui balé by BTN, BTN mendorong pengalaman transaksi digital yang semakin dekat dengan aktivitas konsumen dan pelaku usaha di ekosistem kopi.
Selama ICX Jakarta 2026, pengunjung dapat menikmati cashback hingga Rp150.000 untuk transaksi menggunakan balé by BTN. Tersedia pula program berhadiah mesin kopi dan tabungan hingga Rp9 juta dengan transaksi minimal Rp150.000. Pengunjung juga dapat melakukan aktivasi balé by BTN di area ICX untuk mendapatkan voucher belanja hingga Rp50.000.
Bagi industri kopi, kehadiran berbagai dukungan seperti ini menunjukkan bahwa pertumbuhan sebuah gaya hidup pada akhirnya juga menciptakan ruang ekonomi baru.
Lebih dari Sekadar Pameran Kopi
ICX Jakarta 2026 pada akhirnya memperlihatkan satu hal sederhana: cara kita menikmati kopi telah berubah.
Dari minuman yang dahulu identik dengan kebutuhan untuk tetap terjaga, kopi kini bisa menjadi ritual pagi, teman bekerja, bagian dari perjalanan kuliner, medium untuk bersosialisasi, hingga pintu masuk menuju komunitas dan peluang bisnis.
Di balik perubahan itu, ada industri yang terus bergerak.
Ada petani yang menjaga kualitas biji kopi, barista yang mengasah keterampilan, roaster yang bereksperimen dengan rasa, pemilik kedai yang menciptakan ruang baru, komunitas yang mempertemukan orang-orang dengan minat yang sama, serta konsumen yang semakin sadar terhadap apa yang mereka nikmati.
ICX Jakarta 2026 menjadi salah satu ruang yang mempertemukan seluruh cerita tersebut. Dan mungkin, di tengah kesibukan kota yang terus bergerak, secangkir kopi memang tidak pernah benar-benar hanya tentang kopi. Ia juga tentang bagaimana kita menikmati hidup, bertemu dengan orang lain, dan menemukan cerita baru di antara jeda.



