Salah Pola Asuh Bisa Memperparah Luka Anak Broken Home, Ini Strategi Dukungan yang Tepat

parenting

Perpisahan orangtua sering kali dianggap sebagai urusan orang dewasa, padahal bagi seorang anak, momen ini dapat menjadi titik awal luka emosional yang diam-diam membentuk cara ia memandang diri sendiri, hubungan, dan kehidupan.

Perubahan struktur keluarga bukan sekadar peristiwa administratif atau sosial. Bagi seorang anak, perpisahan orangtua sering kali menjadi pengalaman emosional yang mengguncang fondasi rasa aman, kepercayaan, dan identitas diri. Anak dari keluarga broken home tidak selalu menunjukkan luka secara kasat mata, namun justru di situlah risiko terbesar sering tersembunyi.

Sebagai praktisi kesehatan dan wellness yang kerap berinteraksi dengan isu kesehatan mental, saya melihat bahwa dukungan emosional yang tidak tepat atau bahkan ketiadaannya, dapat berdampak jangka panjang pada kualitas hidup seseorang, mulai dari relasi personal, kesehatan mental, hingga pola hidup sehari-hari.

Sponsored Links

Mengapa Kondisi Ini Perlu Diwaspadai?

Anak yang tumbuh di tengah konflik orangtua atau perpisahan sering mengalami emosi kompleks: sedih, marah, bingung, merasa ditinggalkan, hingga menyalahkan diri sendiri. Jika emosi-emosi ini tidak divalidasi dan dikelola dengan sehat, risikonya meluas, antara lain:

  • Kesulitan mengelola emosi di masa dewasa, seperti mudah cemas, meledak-ledak, atau menutup diri.
  • Pola relasi tidak sehat, termasuk ketakutan akan komitmen atau ketergantungan emosional berlebihan.
  • Gangguan kepercayaan diri, karena anak merasa “tidak cukup” atau tidak layak dicintai.
  • Kecenderungan coping tidak sehat, seperti pelarian pada perilaku impulsif, workaholism, atau adiksi tertentu.

Inilah alasan mengapa pendekatan emosional yang tepat sejak dini menjadi investasi kesehatan mental jangka panjang.

Anak yang tumbuh di tengah konflik orangtua atau perpisahan sering mengalami emosi kompleks (Foto: pexels)

Strategi Dukungan Emosional yang Tepat

1. Validasi Perasaan, Bukan Menyangkalnya

Kalimat seperti “Kamu harus kuat” atau “Ini demi kebaikanmu” sering terdengar positif, tetapi dapat membuat anak merasa perasaannya tidak penting. Sebaliknya, validasi sederhana seperti “Wajar kalau kamu sedih dan bingung” membantu anak memahami bahwa emosinya aman untuk dirasakan.

2. Ciptakan Rasa Aman yang Konsisten

Ketika struktur keluarga berubah, konsistensi menjadi kunci. Jadwal yang stabil, rutinitas harian, dan kehadiran emosional orang dewasa yang dapat diandalkan membantu anak membangun kembali rasa aman yang sempat runtuh.

3. Pisahkan Konflik Dewasa dari Dunia Anak

Salah satu beban terberat bagi anak adalah merasa terjebak di tengah konflik orangtua. Menghindari saling menyalahkan di depan anak, serta tidak menjadikan anak sebagai “tempat curhat”, adalah bentuk perlindungan emosional yang sangat krusial.

4. Ajarkan Cara Mengekspresikan Emosi Secara Sehat

Anak perlu dibimbing untuk mengenali dan menyalurkan emosi dengan aman—melalui bicara, menulis, aktivitas fisik, seni, atau mindfulness sederhana. Ini bukan hanya soal menenangkan, tetapi membangun keterampilan hidup.

5. Dorong Akses ke Dukungan Profesional Bila Diperlukan

Konseling atau terapi bukan tanda kelemahan. Justru, dukungan profesional dapat membantu anak memahami situasi dengan sudut pandang yang lebih sehat dan mencegah luka emosional berkembang menjadi trauma berkepanjangan.

Peran Lingkungan yang Lebih Luas

Dukungan emosional tidak hanya datang dari orangtua. Keluarga besar, guru, dan lingkungan sosial memiliki peran penting dalam menciptakan ruang aman. Anak yang merasa didengar dan diterima oleh lingkungannya memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh resilien meski berasal dari latar keluarga yang tidak utuh.

Broken home tidak otomatis menghasilkan masa depan yang “rusak”. Yang menentukan adalah bagaimana luka emosional tersebut diperlakukan. Dengan dukungan emosional yang tepat, anak dapat tumbuh menjadi individu yang kuat, empatik, dan sadar akan kesehatan mentalnya.

Mewaspadai kondisi ini bukan berarti melihat anak sebagai korban selamanya, melainkan sebagai individu yang membutuhkan perhatian, empati, dan strategi dukungan yang benar agar dapat berkembang secara optimal, secara emosional, mental, dan fisik.