Bukan Rekan Kerja, Penelitian Justru Menyebut Ini sebagai Sumber Toxic Terbesar di Tempat Kerja

pola makan sibuk kerja

Kalau mendengar kata toxic workplace, kebanyakan orang langsung membayangkan rekan kerja yang suka bergosip, atasan yang galak, atau budaya lembur yang seolah menjadi prestasi.

Padahal, penelitian menunjukkan sumber utama lingkungan kerja yang tidak sehat sering kali bukan berasal dari individu, melainkan dari sistem yang dibangun perusahaan.

Dengan kata lain, seseorang bisa bekerja bersama orang-orang baik, tetapi tetap mengalami stres kronis karena organisasi tempatnya bekerja memang dirancang dengan cara yang melelahkan.

1. Beban Kerja Tidak Realistis

Laporan World Health Organization (WHO) bersama International Labour Organization (ILO) menemukan jam kerja yang panjang secara konsisten berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung koroner dan stroke. Bahkan bekerja lebih dari 55 jam per minggu meningkatkan risiko kematian akibat stroke hingga sekitar 35 persen dibanding jam kerja standar.

Masalahnya bukan hanya soal durasi bekerja.

Target yang terus bertambah, tenggat yang tidak masuk akal, hingga ekspektasi untuk selalu produktif membuat otak tidak pernah benar-benar mendapat kesempatan untuk pulih. Dalam dunia kesehatan, kondisi ini dikenal sebagai chronic stress, yaitu stres yang berlangsung terus-menerus dan perlahan menggerus kesehatan fisik maupun mental.

Tubuh manusia dirancang menghadapi stres sesekali, bukan setiap hari.

2. Atasan yang Buruk

Berbagai penelitian dalam bidang psikologi organisasi selama puluhan tahun menunjukkan kualitas hubungan dengan atasan merupakan salah satu prediktor terkuat terhadap kepuasan kerja, burnout, hingga keinginan seseorang untuk resign.

Bahkan riset dari Gallup menunjukkan bahwa manajer menyumbang sekitar 70 persen variasi tingkat engagement dalam sebuah tim.

Atasan yang buruk menjadi kunci penting toxic di tempat kerja (Foto: Pexels)

Artinya, satu orang pemimpin bisa menentukan apakah kantor menjadi tempat berkembang atau justru sumber kecemasan setiap pagi.

Atasan yang tidak memberikan kejelasan, gemar melakukan micromanaging, jarang memberi apresiasi, atau menciptakan rasa takut secara perlahan akan menguras energi psikologis anggota tim.

3. Leadership Buruk Melahirkan Ketidakjelasan

Menariknya, banyak orang tidak kelelahan karena pekerjaannya sulit. Mereka lelah karena tidak pernah tahu apakah pekerjaannya sudah benar atau bahkan apa sebenarnya bisnis yang mereka jalankan.

Dalam psikologi kerja, kondisi ini disebut role ambiguity atau ketidakjelasan peran. Penelitian menunjukkan ketidakjelasan mengenai tanggung jawab, ekspektasi, maupun indikator keberhasilan berkaitan erat dengan meningkatnya kecemasan, burnout, dan penurunan performa.

Saat otak terus-menerus menebak apa yang sebenarnya diharapkan atau difokuskan perusahaan, energi mental habis bahkan sebelum pekerjaan selesai.

4. Budaya “Selalu Online”

Teknologi memang membuat pekerjaan lebih fleksibel. Namun, fleksibilitas sering berubah menjadi keterikatan tanpa batas.

Notifikasi grup kantor pada malam hari, pesan yang datang saat akhir pekan, hingga ekspektasi membalas chat dalam hitungan menit membuat otak tidak pernah benar-benar keluar dari mode bekerja.

Penelitian mengenai psychological detachment menunjukkan kemampuan seseorang untuk benar-benar melepaskan diri dari pekerjaan setelah jam kerja merupakan salah satu faktor penting dalam menjaga kesehatan mental dan mencegah burnout.

Istirahat bukan sekadar tidak membuka laptop. Istirahat adalah ketika pikiran berhenti merasa harus siap bekerja kapan saja.

5. Merasa tidak dihargai

Banyak perusahaan fokus pada bonus, tetapi lupa bahwa manusia juga membutuhkan pengakuan.

Penelitian dari American Psychological Association menunjukkan rasa dihargai di tempat kerja berkaitan dengan tingkat kesejahteraan psikologis yang lebih tinggi, motivasi yang lebih baik, serta risiko burnout yang lebih rendah.

Apresiasi tidak selalu berbentuk kenaikan gaji. Ucapan terima kasih, umpan balik yang konstruktif, dan pengakuan atas kontribusi sering kali memiliki dampak yang jauh lebih besar daripada yang diperkirakan.

Sponsored Links

Toxic bukan selalu tentang orang

Ada kecenderungan menyederhanakan masalah dengan memberi label seseorang sebagai “toxic”.

Padahal, dalam banyak kasus, sistemlah yang membuat orang akhirnya bersikap defensif, mudah marah, saling menyalahkan, bahkan kehilangan empati. Budaya kerja yang sehat bukan berarti tidak pernah ada konflik.

Budaya kerja yang sehat adalah ketika konflik dapat diselesaikan tanpa mengorbankan martabat manusia, ketika produktivitas tidak dibayar dengan kesehatan, dan ketika pulang kerja benar-benar berarti selesai bekerja.

Karena pada akhirnya, pertanyaan yang layak diajukan bukan hanya, “Apakah pekerjaan ini memberikan penghasilan?”, tetapi juga, “Apakah cara saya bekerja masih membuat saya tetap sehat sebagai manusia?”