Bagi sebagian orang, membeli sepatu olahraga mungkin sesederhana memilih model yang disukai, mencoba ukuran yang pas, lalu membawanya pulang. Namun, ketika olahraga mulai menjadi bagian dari gaya hidup, kebutuhan terhadap perlengkapan olahraga pun ikut berubah.
Sepatu lari, misalnya, bukan lagi sekadar pelengkap untuk berolahraga. Ada yang digunakan untuk mengejar personal best, menemani rutinitas lari setelah jam kerja, hingga menjadi bagian dari penampilan sehari-hari.
Perubahan kebiasaan inilah yang tampaknya ingin dijawab ASICS lewat kehadiran performance store pertamanya di Indonesia. Berlokasi di fX Sudirman, Jakarta, gerai ini resmi dibuka pada Jumat (31/7) dan dikelola oleh Erajaya Active Lifestyle (ERAL).
Alih-alih hanya menghadirkan rak berisi produk olahraga, konsep yang ditawarkan membawa pengalaman berbelanja lebih jauh. Pelanggan diajak mengenali kebutuhan tubuh dan aktivitasnya sebelum menentukan sepatu yang akan digunakan.
Salah satu fasilitas yang ditawarkan adalah FOOT ID by AETREX. Teknologi ini dapat memindai kaki pelanggan secara 3D untuk menganalisis karakteristik masing-masing kaki.
Hasilnya kemudian diproses melalui fitur FitAI untuk memberikan rekomendasi sepatu yang lebih personal. Pilihannya disesuaikan dengan kebutuhan pengguna, mulai dari sportstyle, performance running, hingga core performance sports.

Dengan pendekatan ini, pengalaman membeli sepatu olahraga perlahan bergeser. Pertanyaannya bukan lagi sekadar, “Model mana yang paling bagus?” tetapi juga, “Sepatu mana yang paling sesuai dengan cara saya bergerak?”
ASICS juga menyediakan treadmill untuk menguji langsung performa dan kenyamanan sepatu sebelum dibeli. Sementara itu, melalui area TRY! ASICS!, pengunjung dapat mencoba langsung sejumlah supershoes yang tersedia.
Konsep tersebut terasa relevan dengan perkembangan gaya hidup aktif di perkotaan. Ketika semakin banyak orang memasukkan lari, tenis, gym, atau aktivitas olahraga lainnya ke dalam rutinitas, perlengkapan olahraga juga dituntut untuk semakin personal.
Olahraga pun tidak lagi selalu berlangsung di ruang yang terpisah dari kehidupan sehari-hari. Aktivitas fisik bisa dimulai dari kantor, berlanjut ke pusat kebugaran, kemudian ditutup dengan nongkrong bersama komunitas. Dalam situasi seperti ini, kebutuhan terhadap produk olahraga bukan hanya soal fungsi, tetapi juga pengalaman dan relevansi dengan gaya hidup penggunanya.
President Director ASICS Indonesia, Yuya Sugiyama, mengatakan kehadiran performance store ini merupakan cara ASICS untuk lebih dekat dengan komunitas olahraga yang terus berkembang di Indonesia.

“Kami melihat pertumbuhan komunitas olahraga di Indonesia yang semakin kuat, dan performance store ini menjadi cara kami untuk hadir lebih dekat dengan kebutuhan mereka,” kata Yuya.
Kehadiran gerai ini juga menjadi bagian dari ekspansi ERAL. Performance store di fX Sudirman merupakan gerai ASICS ke-32 yang dikelola oleh Erajaya Active Lifestyle.
Namun, yang menarik dari pembukaan ini bukan hanya soal jumlah gerai. Ada perubahan cara industri melihat konsumen olahraga. Mereka tidak lagi diposisikan semata-mata sebagai pembeli, tetapi sebagai individu dengan kebutuhan, kebiasaan, dan tujuan olahraga yang berbeda.
Karena itu, pengalaman di dalam toko menjadi semakin penting. Teknologi pemindaian kaki, rekomendasi personal, hingga kesempatan mencoba sepatu di treadmill menjadi cara untuk mempersempit jarak antara produk dan penggunanya.
Rangkaian pembukaan performance store ini pun tidak berhenti pada aktivitas di dalam gerai. ASICS menggelar Fun Tennis pada 1 Agustus 2026 dan Fun Run 5K pada 2 Agustus 2026 yang terbuka bagi komunitas olahraga dan masyarakat Jakarta.
Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa toko olahraga kini dapat berfungsi lebih dari sekadar tempat transaksi. Ia bisa menjadi titik temu komunitas, ruang untuk mencoba aktivitas baru, sekaligus bagian dari ekosistem gaya hidup aktif yang semakin berkembang di kota besar.
Pada akhirnya, perubahan seperti ini menunjukkan bahwa cara kita berolahraga ikut memengaruhi cara kita berbelanja. Ketika olahraga telah menjadi bagian dari identitas dan keseharian, memilih perlengkapannya pun bukan lagi sekadar soal merek atau penampilan.
Sebab, mungkin pengalaman olahraga yang lebih baik memang dimulai dari hal yang sederhana: mengenali tubuh sendiri, memahami kebutuhannya, lalu memilih apa yang benar-benar sesuai dengannya.


