Kita hidup di masa ketika bertemu orang tidak lagi harus dilakukan secara fisik. Setiap hari kita bisa melihat kehidupan teman, mengikuti aktivitas orang lain, bahkan berinteraksi dengan puluhan orang lewat media sosial. Namun, anehnya, semakin sering kita “bertemu” orang melalui layar, semakin banyak pula yang merasa kesepian. Kita terhubung sepanjang waktu, tetapi tidak selalu merasa benar-benar dekat dengan siapa pun.
Media sosial menciptakan ilusi bahwa kita selalu menjadi bagian dari kehidupan orang lain. Kita tahu siapa yang sedang liburan, siapa yang berkumpul dengan teman, siapa yang baru menikah, atau siapa yang terlihat sukses dengan kariernya. Masalahnya, kita hanya melihat potongan terbaik dari kehidupan mereka. Ketika kehidupan orang lain yang terlihat sempurna terus dibandingkan dengan kehidupan kita yang penuh realitas dan masalah, muncul perasaan tertinggal, tidak cukup, bahkan terasing.
Ironisnya, semakin sering kita melihat kehidupan sosial orang lain, semakin kita bisa merasa bahwa diri sendiri tidak memiliki kehidupan yang sama. Foto pesta membuat kita merasa tidak diundang. Unggahan liburan membuat rutinitas terasa membosankan. Melihat pertemanan orang lain yang tampak begitu dekat membuat hubungan kita sendiri terasa kurang berarti. Padahal, yang dibandingkan sebenarnya bukan kehidupan dengan kehidupan, melainkan kehidupan nyata kita dengan versi terbaik orang lain yang mereka pilih untuk ditampilkan.

Di sisi lain, media sosial juga mengubah cara kita berinteraksi. Kita bisa saling memberikan likes, emoji, dan komentar, tetapi belum tentu benar-benar mengetahui apa yang sedang dirasakan seseorang. Kita tahu apa yang mereka lakukan, tetapi tidak selalu tahu bagaimana keadaan mereka. Hubungan pun bisa menjadi ramai secara digital, tetapi kosong secara emosional.
Kesepian akhirnya bukan lagi soal tidak punya teman, tapi tidak merasa benar-benar terhubung.
Kita mungkin memiliki ratusan followers dan puluhan percakapan aktif, tetapi tetap tidak punya tempat untuk membicarakan hal-hal yang paling personal. Ada perbedaan besar antara dikenal banyak orang dan merasa dipahami oleh seseorang.
Mungkin karena itu, semakin banyak orang yang perlu belajar membatasi konsumsi media sosial bukan sekadar demi produktivitas, tetapi demi kesehatan emosional. Tidak semua kehidupan perlu kita ikuti, tidak semua unggahan perlu kita bandingkan, dan tidak semua koneksi digital harus dianggap sebagai hubungan yang nyata. Sesekali, kita perlu keluar dari layar dan kembali membangun kedekatan yang tidak membutuhkan likes atau validasi.
Sebab pada akhirnya, mungkin yang membuat kita kesepian bukan karena terlalu sedikit bertemu orang, melainkan karena terlalu sering melihat kehidupan orang lain sampai lupa menjalani kehidupan kita sendiri.


