Apa jadinya jika secangkir teh dipertemukan dengan karya seni? Pertanyaan itu coba dijawab CHAGEE Indonesia lewat peluncuran Apple English Breakfast Tea, minuman edisi terbatas yang lahir dari kemitraan dengan Tate, institusi seni asal Inggris.
Kemitraan ini tidak hanya menghadirkan varian teh baru. CHAGEE dan Tate juga membawa tiga karya seni still-life dari koleksi Tate ke dalam rangkaian kemasan dan merchandise edisi terbatas. Teh, apel, dan seni pun dipertemukan dalam satu cerita yang melintasi budaya dan zaman.
Meracik Teh dari Lima Jenis Daun
Apple English Breakfast Tea diracik menggunakan lima jenis teh yang berasal dari sejumlah wilayah penghasil teh. Assam dari India menjadi fondasi utama dengan karakter rasa yang pekat dan aroma malt yang kuat. Kemudian ada Lapsang Souchong dari Wuyishan, Fujian, yang memberikan sentuhan aroma asap pinus.
Racikan tersebut dilengkapi Yunnan Golden Pekoe dengan rasa yang lembut, Four Seasons Spring dari Taiwan yang menghadirkan nuansa floral, serta Highland Qilan dari Fujian dengan aroma anggrek yang khas.
Masing-masing jenis teh dipanggang dan diproses secara terpisah sebelum dipadukan secara perlahan dalam kondisi suhu dan kelembapan yang terkontrol. Proses ini dilakukan agar karakter setiap teh dapat menyatu tanpa saling mendominasi.
Untuk memberikan sentuhan rasa apel, CHAGEE menggunakan Red Fuji dari Shandong, China. Buah tersebut diproses melalui ekstraksi dingin dengan menggunakan seluruh bagian buah, termasuk kulit dan dagingnya, tanpa tambahan air, gula, maupun pengawet.

Sari apel kemudian diinfuskan ke dalam daun teh menggunakan proses bersuhu rendah, sebelum dikeringkan dengan metode vakum untuk mempertahankan cita rasanya.
Menurut General Manager CHAGEE Indonesia, Adinda Yozari, kolaborasi ini menjadi cara untuk merayakan perjalanan budaya yang berlangsung melalui makanan dan minuman.
“Budaya selalu berkelana lewat makanan dan minuman, dan teh mungkin contoh terbaiknya dalam sejarah. Lewat Apple English Breakfast Tea, kami ingin menghormati semua perjalanan itu dalam satu cangkir,” ujar Adinda.
Tiga Karya Seni Tate Hadir di Kemasan
Tidak berhenti pada minuman, kolaborasi CHAGEE dan Tate juga membawa tiga karya seni ke dalam kehidupan sehari-hari melalui kemasan dan merchandise.
Ketiga karya tersebut adalah A Plate of Apples (1861) karya Henri Fantin-Latour, Still Life with Water Jug (c.1892–3) karya Paul Cézanne, dan The Basket of Fruit (1925) karya Mark Gertler.
Ketiganya sama-sama mengangkat objek yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, tetapi dengan pendekatan artistik yang berbeda.
Karya Fantin-Latour dikenal lewat penggambaran apel dengan detail dan komposisi yang presisi. Sementara Cézanne mengeksplorasi perspektif dengan melukiskan objek dari berbagai sudut pandang.
Berbeda lagi dengan Mark Gertler yang menggunakan warna dan komposisi lebih ekspresif dalam menggambarkan keranjang buah.
Ketiga karya tersebut kemudian menghiasi kemasan edisi terbatas, termasuk gelas dan tas termal pengantar minuman. CHAGEE juga menghadirkan sejumlah merchandise koleksi seperti The Apple Edition Travel Tag, Keepsake Magnets, Artist Shawl, Umbrella, dan Picnic Mat.
Kolaborasi ini membuat karya seni tidak hanya hadir untuk dinikmati di ruang galeri, tetapi juga menjadi bagian dari benda-benda yang digunakan dalam keseharian.
Tak Sekadar Mitra Komersial
Kemitraan CHAGEE dan Tate berlangsung selama satu tahun. Di luar peluncuran produk dan merchandise, kolaborasi ini juga mendukung Paper and Photography Conservation Work milik Tate.
Dukungan tersebut ditujukan untuk membantu pendanaan perawatan fisik dan pelestarian karya-karya dalam koleksi nasional Tate, sehingga tetap dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
Director of Licensing and Merchandising Tate, Rosey Blackmore, mengatakan kolaborasi ini menjadi salah satu cara untuk memperluas keterlibatan publik dengan koleksi Tate di luar ruang galeri.
Menurutnya, kemitraan tersebut memungkinkan CHAGEE memadukan seni, desain, dan ritual sehari-hari melalui inspirasi dari tiga karya seni dalam koleksi Tate.
Hadirkan Pengalaman Seni dan Teh di Jakarta
Untuk merayakan peluncuran Apple English Breakfast Tea, CHAGEE Indonesia juga menghadirkan pengalaman interaktif melalui pop-up di PIK Avenue pada 6–12 Agustus 2026.
Mengusung konsep Drinkable Masterpieces, pengunjung diajak melihat kembali tiga karya seni still-life tersebut melalui pengalaman yang memadukan seni, teh, dan storytelling. Ada pula konsep Apple Tree yang menjadi bagian dari pengalaman peluncuran.
Sementara itu, gerai CHAGEE di Lippo Mall Puri akan menghadirkan area photobooth bertema Masterpiece Moments selama periode yang sama.
Apple English Breakfast Tea sendiri sudah tersedia mulai 2 Agustus 2026 di seluruh gerai CHAGEE Indonesia dan melalui aplikasi CHAGEE.
Bagi CHAGEE, kolaborasi dengan Tate menunjukkan bahwa seni tidak selalu harus berada di balik dinding galeri. Ia bisa hadir dalam benda yang kita gunakan, cerita yang kita dengarkan, bahkan dalam secangkir teh yang kita nikmati sehari-hari.
Pada akhirnya, mungkin di situlah seni menemukan bentuknya yang paling dekat dengan kehidupan: ketika sesuatu yang biasa, seperti apel dan secangkir teh, tiba-tiba mengajak kita melihat dunia dari perspektif yang berbeda.


