29

JUN 20

Tim writer GoodLife

Cerita Perawat Pasien COVID-19 di RS. St. Carolus, Sampai Bantu Video Call Pasien

Kita semua setuju bahwa tenaga kesehatan di rumah sakit, baik dokter, perawat, maupun karyawan rumah sakit adalah garda depan penyelamat pasien Covid-19. Virus Corona hingga kini masih ada dan bisa menyerang siapa saja. 

Manusia yang sehat sedapat mungkin menghindari terpapar virus berbahaya ini dengan tetap berada di rumah saja, sering cuci tangan, mengonsumsi makanan yang bergizi untuk menjaga kesehatan dan menambah imunitas. Bila terpaksa harus keluar rumah, melakukan protokol kesehatan yang dianjurkan oleh pemerintah yaitu pakai masker, menghindari kerumunan orang, serta berjaga jarak satu sama lain.

Manusia boleh berusaha, namun virus tetap bisa menyerang melalui celah kecil kelalaian kita, yang tidak kita sadari. Dan bila terpapar, tidak ada yang lain tempat kita meminta tolong selain kepada tenaga kesehatan di rumah sakit.

Tentu banyak hal yang ingin kita ketahui suka dan duka tenaga kesehatan dalam menangani pasien Covid-19. Nah kebetulan baru-baru ini Goodlife mendapat kesempatan mewawancarai salah satu tenaga kesehatan, yaitu seorang perawat bernama Pilumena Irma Yolanda, usia 26, atau yang biasa dipanggil Suster Yolanda.  

(Image: Suster Yolanda / Dokumen Pribadi)

Suster Yolanda adalah perawat yang bekerja di Rumah Sakit St. Carolus sejak empat setengah tahun yang lalu. Dan sejak Virus Corona melanda dunia, Suster Yolanda bertugas di instalasi pelayanan infeksi terintegrasi Covid-19 rumah sakit itu. Rumah Sakit St. Carolus adalah salah satu rumah sakit yang membaktikan dirinya untuk keselamatan manusia dari Virus Corona. Penanganan terhadap pasien yang di layani mulai dari pasien yang memiliki gejala ringan, sedang sampai berat, juga pasien-pasien yang memiliki  penyakit penyerta seperti gangguan jantung, hipertensi, diabetes, dan sebagainya. 

Dari statistik kita lihat bahwa jumlah pasien yang positif Covid-19 semakin banyak, dengan demikian tenaga kesehatan juga semakin sibuk dengan tugasnya menangani pasien Covid-19 tersebut. Semuanya dilakukan oleh para tenaga kesehatan termasuk Suster Yolanda dengan lapang dada.

Berprofesi sebagai perawat, apalagi untuk pasien positif Covid-19 tentu bukanlah tugas yang ringan. Bayangkan, mereka berada di garda depan dalam memberikan pelayanan menghadapi ganasnya virus yang menyerang manusia. Mau tidak mau harus dihadapi karena pasien perlu dirawat untuk menjadi sehat kembali dan terhindar dari kematian. 

 

Terbiasa memakai APD

Untuk tetap bisa melakukan tugas, tetapi juga menjaga agar tidak terpapar virus para tenaga kesehatan ini memakai Alat Pelindung Diri (APD) berupa pakaian tertutup dari bahan yang tidak tembus virus terdiri dari baju berlapis-lapis untuk menutupi tubuh, serta alat pelindung diri lain untuk menutup kepala, tangan dan kaki serta wajah. Perlu diingat bahwa dengan pakaian serba tertutup itu, perawat tetap harus tangkas menangani pasien, menggunakan anggota badan dan panca indera semuanya. 

“Awalnya kami mengalami kesulitan memakai APD, seperti sulit bernapas dan bergerak leluasa, namun lama-lama kami terbiasa juga,” kata Suster Yolanda dengan nada tenang.

(Image: Suster Yolanda / Dokumen Pribadi)

Beruntung Suster Yolanda bekerja di rumah sakit yang sangat serius memperhatikan berbagai ketentuan yang digariskan oleh WHO, sehingga ia dan rekan-rekan kerjanya bisa melakukan tugasnya dengan baik dan merasa nyaman. Misalnya jam kerja dengan menggunakan APD yang dibatasi maksimal selama enam jam.

“Manusia menggunakan APD lebih dari enam jam akan mengalami penurunan kualitas kesehatan, karena itu dibatasi enam jam. Sebenarnya sudah diatur empat jam, namun kadangkala bisa perpanjangan sampai paling lama enam jam,” ungkap Suster Yolanda.

Ia menambahkan, “Selain harus rapat, memakai APD juga harus nyaman, agar kami bisa bekerja dengan baik, tetap tangkas dan menyelesaikan tugas yang harus dilakukan. Untungnya kami kompak dan saling bahu membahu dalam mengoreksi saat pemakaian APD tersebut,  sesama teman saling mengoreksi apakah sudah rapat benar atau belum. Dan ini berlangsung setiap saat, misalnya ketika bergerak  melorot atau tidak, dan sebagainya,” kata Suster Yolanda.

Memakainya APD dilakukan di sebuah ruangan yang disebut ruang bersih, Di sinilah para tenaga kesehatan memakai APD awal yang bersih, baru kemudian masuk ke ruang yang ada pasien Covid-19, untuk melakukan tugas.

Setelahnya selesai melaksanakan tugas, para tenaga kesehatan melepas APD tersebut di sebuah ruang yang disebut Ante Room. Di sini terdapat tempat sampah untuk menempatkan APD yang kotor yang harus dibuang, serta wadah lain untuk APD yang bisa dipakai lagi tapi harus dibersihkan secara serius/disterilkan berupa helm dan face shield, kacamata Google, dan sepatu boot.

 

Tugas ekstra merawat pasien Covid-19

Pasien terpapar Covid-19 bukanlah pasien biasa. Selain rasa sakit, mereka juga menghadapi ketakutan, kecemasan, kesepian dan berbagai perasaan lainnya. Karena itu, dalam menghadapi pasien seperti ini, perawat  juga dituntut untuk menghadapinya dengan cara yang berbeda. 

“Memang kebanyakan pasien banyak yang cemas. Kondisinya kesehatan dan kejiwaan lemah. Karena itu kami seperti dapat tugas ekstra untuk merawat kesehatan dan menyemangati hidupnya. Tidak jarang kami menyapa mereka dengan intensitas yang lebih besar daripada pasien lainnya, kami juga memberi info tentang Covid-19, kadang-kadang membantu melakukan video call bersama keluarganya, menyuapi, dan lain sebagainya,” kata Suster Yolanda.

 

Jauh dari keluarga

Bukan hanya pasien Covid-19 yang tidak bisa bertemu keluarga, perawatnya pun demikian. Sejak terjangkitnya Virus Corona, Suster Yolanda tidak pernah pulang ke kampung halaman untuk bertemu keluarganya. Ia tinggal di asrama perawat RS Carolus. 

“Kebetulan saya memang perantau, jadi tinggal di asrama, dan sejak Covid-19 melanda, saya tidak pernah pulang kampung, saya tetap tinggal di asrama,” ujar Suster Yolanda.

Kepedulian Rumh Sakit St. Carolus terhadap perawatnya juga adalah menyediakan asrama bagi perawat yang sebenarnya bukan penghuni asrama. Perawat tersebut, walaupun telah berkeluarga juga tidak bisa bertemu dengan keluarganya demi mengemban tugas sebagai perawat. 

 

Menjunjung tinggi sumpah jabatan

(Image: Ilustrasi Tim Medis)

Suster Yolanda yang juga mewakili rekan-rekan sejawatnya melakukan tugas mulia ini dengan tulus ikhlas. Menurutnya karena adanya sumpah jabatan di awal kariernya sebagai perawat. Sumpah tersebut isinya antara lain merawat pasien dengan tidak membedakan penyakit, suku, budaya, ras, agama, dan golongan. 

“Kami selalu ingat pada sumpah jabatan sebagai perawat. Bahwa kami sebagai perawat harus mau melakukan tugas-tugas kami ini. Itulah juga yang memompa semangat kami untuk terus mengabdi sebagai perawat bahkan menangani pasien Covid-19 yang berbahaya. Sumpah itu tanggung jawabnya kepada Tuhan, karena ketika bersumpah dilakukan di atas kitab suci,” kata Suster Yolanda. 

 

Harapan terhadap pemerintah dan masyarakat

Suster Yolanda mengungkapkan harapannya terhadap masyarakat, yaitu agar jangan ada lagi stigma bahwa perawat yang menangani pasien Covid-19 pasti membawa virus ke tempat lain. 

“Karena kami kan pakai APD yang lengkap. Memang kontak dengan pasien, tapi kami melindungi diri. Selain itu kami juga dites secara berkala. Jadi tolong jangan diskriminasi kami,” ujarnya. 

Kalau terhadap pemerintah, harapannya adalah adanya ketegasan penerapan protokol bagi warga negara, misalnya perlakuan PSBB yang ketat. Dan jangan sampai tempat-tempat umum terjadi penumpukan massa seperti  bandara, pasar, mall dan sebagainya. 

Kita semua mengharapkan pasien bisa tertangani, semakin sedikit pasien baru. Dan kepada yang sehat, harapannya tetap senantiasa sehat dan selamat.

 

Baca Juga

Yang Perlu Kamu Ketahui Tentang Rapid Test, Harga dan Lokasi Tes

Recommended Articles