Di tengah banjir peluang karier dan tuntutan untuk selalu terlihat produktif, semakin banyak orang tanpa sadar terjebak dalam career FOMO, perasaan takut tertinggal yang mendorong mereka mengambil terlalu banyak komitmen hingga perlahan menggerus kesehatan mental.
Di era profesional yang bergerak cepat, kesempatan terasa datang dari segala arah. Lowongan baru, proyek tambahan, kursus pengembangan diri, hingga tawaran kolaborasi bermunculan hampir setiap hari. Di satu sisi, ini terlihat seperti peluang emas untuk berkembang. Namun di sisi lain, dorongan untuk tidak ketinggalan yang sering disebut sebagai career FOMO, mendorong banyak orang mengambil terlalu banyak komitmen sekaligus.
Fenomena ini terlihat semakin umum: seseorang menerima proyek tambahan di luar jam kerja, mendaftar berbagai kelas online setelah pulang kantor, hingga mengisi akhir pekan dengan kegiatan yang masih berhubungan dengan produktivitas. Sekilas tampak ambisius dan inspiratif. Tetapi ketika semua kesempatan terasa “harus diambil”, tubuh dan pikiran sebenarnya sedang dipaksa bekerja melampaui kapasitasnya.
Dalam dunia kesehatan mental, kondisi ini sering berujung pada overcommitment, situasi ketika seseorang mengambil tanggung jawab jauh lebih banyak dibandingkan energi psikologis yang dimilikinya. Awalnya mungkin hanya terasa sebagai kelelahan biasa. Namun jika berlangsung terus-menerus, tekanan ini bisa berkembang menjadi stres kronis.
Stres kronis tidak hanya berdampak pada suasana hati, tetapi juga memengaruhi sistem biologis tubuh. Ketika seseorang terus berada dalam kondisi “siaga”, tubuh meningkatkan produksi hormon stres seperti kortisol. Jika kadar kortisol tinggi dalam waktu lama, seseorang bisa mengalami gangguan tidur, mudah cemas, sulit berkonsentrasi, hingga penurunan motivasi. Ironisnya, kondisi ini justru membuat produktivitas menurun hal yang sejak awal ingin dihindari.
Salah satu tanda yang sering tidak disadari adalah hilangnya kemampuan untuk benar-benar beristirahat. Pikiran terus memikirkan pekerjaan berikutnya, target yang belum tercapai, atau peluang yang mungkin terlewat. Bahkan saat waktu luang tersedia, muncul rasa bersalah karena merasa tidak cukup produktif.
Dalam jangka panjang, pola ini meningkatkan risiko burnout. Burnout bukan sekadar lelah bekerja, tetapi kondisi kelelahan emosional, mental, dan fisik yang membuat seseorang merasa terputus dari pekerjaannya. Banyak orang mulai merasa pekerjaannya tidak lagi bermakna, kehilangan empati terhadap rekan kerja, atau merasa sinis terhadap profesi yang sebelumnya mereka cintai.
Yang sering luput disadari, career FOMO juga dipicu oleh perbandingan sosial yang terus-menerus. Media sosial membuat perjalanan karier orang lain terlihat selalu menanjak: promosi jabatan, proyek internasional, atau pencapaian akademik baru. Tanpa disadari, otak menginterpretasikan informasi ini sebagai standar yang harus dikejar.
Padahal, dari perspektif kesehatan mental, manusia memiliki batas kapasitas kognitif dan emosional. Mengambil keputusan secara sadar tentang mana peluang yang benar-benar relevan jauh lebih sehat dibandingkan mencoba mengejar semuanya.
Beberapa langkah sederhana dapat membantu mencegah jebakan overcommitment. Pertama, belajar memprioritaskan energi, bukan hanya waktu. Tidak semua aktivitas yang terlihat produktif memberikan nilai yang sama bagi perkembangan diri. Kedua, menetapkan batas yang jelas antara waktu kerja dan waktu pemulihan. Otak membutuhkan periode recovery agar tetap optimal dalam jangka panjang.
Terakhir, penting untuk memahami bahwa karier adalah perjalanan maraton, bukan sprint. Keberhasilan yang berkelanjutan lebih sering datang dari ritme kerja yang stabil dibandingkan fase produktivitas ekstrem yang diikuti kelelahan berkepanjangan.
Ambisi tentu bukan sesuatu yang salah. Namun ketika dorongan untuk selalu “ikut semua peluang” mulai membuat tubuh kelelahan dan pikiran gelisah, mungkin itu tanda bahwa yang dibutuhkan bukan kesempatan baru, melainkan ruang untuk bernapas.


