Dulu Kita Mengatur Waktu, Sekarang Kita Diatur Algoritma?

Pernah berniat membuka ponsel hanya untuk membalas satu pesan, tetapi 30 menit kemudian masih berada di layar yang sama?

Kita sering menyebutnya sebagai kurang disiplin, sulit fokus, atau kebiasaan scrolling. Namun, ada persoalan yang lebih besar dari sekadar kemampuan mengendalikan diri: waktu kita kini semakin sering dirancang oleh algoritma.

Dulu, kita menggunakan teknologi untuk mengatur hidup. Kalender membantu menentukan jadwal, alarm mengingatkan aktivitas, dan mesin pencari membantu menemukan informasi.

Sekarang kondisinya berbalik.

Kita membuka aplikasi tanpa benar-benar tahu apa yang ingin dicari. Lalu algoritma memilihkan video berikutnya, berita berikutnya, produk berikutnya, bahkan topik yang sebaiknya membuat kita marah, penasaran, takut, atau tertarik. Kita merasa sedang memilih. Padahal, pilihan yang tersedia sudah lebih dulu dikurasi untuk kita.

Sponsored Links

Bukan Lagi “Apa yang Ingin Saya Lihat?”

Salah satu perubahan terbesar dari kehidupan digital adalah bergesernya pola konsumsi informasi.

Dulu, kita mencari sesuatu. Sekarang, sesuatu datang mencari kita.

Feed media sosial tidak pernah benar-benar selesai. Tidak ada halaman terakhir yang mengatakan, “cukup sampai di sini.” Setelah satu video selesai, ada video lain. Setelah satu story habis, muncul story berikutnya. Setelah satu artikel selesai dibaca, rekomendasi baru sudah menunggu.

Sistem ini memang dirancang untuk membuat pengalaman pengguna terasa relevan. Tetapi semakin relevan rekomendasinya, semakin mudah pula kita bertahan di dalamnya.

Masalahnya, algoritma tidak memiliki kepentingan untuk memastikan kita berhenti tepat waktu. Ia bekerja berdasarkan engagement: berapa lama kita bertahan, apa yang kita klik, apa yang kita tonton sampai selesai, apa yang kita ulang, dan apa yang membuat kita kembali. Dengan kata lain, perhatian kita bukan sekadar kebiasaan. Tapi telah menjadi komoditas.

Algoritma membuat kita tidak mampu mengenal batas kapan harus berhenti (Foto: Pexels)

Kita Kehilangan Batas Antara “Ingin” dan “Disarankan”

Yang lebih menarik adalah bagaimana algoritma perlahan memengaruhi keputusan yang terasa sangat personal.

Kita melihat konten tentang olahraga, lalu direkomendasikan video diet. Setelah itu muncul konten tentang bentuk tubuh ideal. Kemudian muncul produk suplemen, workout plan, hingga konten tentang “kebiasaan orang sukses”.

Dalam hitungan menit, kita bisa berpindah dari ingin sehat menjadi merasa tidak cukup sehat. Begitu juga dengan kehidupan sosial.

Melihat teman berlibur bisa memunculkan keinginan untuk bepergian. Melihat orang lain mendapatkan promosi bisa membuat karier sendiri terasa tertinggal. Melihat pasangan lain terlihat bahagia bisa membuat hubungan sendiri terasa kurang romantis.

Algoritma tidak menciptakan semua kegelisahan tersebut dari nol. Tetapi ia dapat memperbesar dan mengulangnya berkali-kali sampai terasa seperti realitas kita sendiri. Kita akhirnya bukan hanya mengonsumsi konten. Kita mengonsumsi standar hidup orang lain.

Yang Lelah Bukan Hanya Tubuh, Tapi Perhatian

Dari perspektif kesehatan, persoalannya bukan semata-mata berapa jam kita menggunakan ponsel. Yang perlu diperhatikan adalah fragmentasi perhatian.

Bangun tidur mengecek notifikasi. Saat makan membuka media sosial. Ketika bekerja berpindah antara dokumen, chat, email, dan feed. Saat menunggu transportasi, kita kembali membuka layar. Bahkan ketika sudah berada di tempat tidur, otak masih menerima rangsangan baru.

Tubuh mungkin sedang diam, tetapi otak terus berpindah konteks. Akibatnya, kita bisa merasa lelah tanpa melakukan aktivitas fisik yang berat. Kita sulit membaca buku karena terbiasa dengan potongan informasi pendek. Sulit menikmati makan karena tangan ingin mengecek layar. Sulit beristirahat karena setiap jeda langsung diisi konten.

Ironisnya, kita menggunakan teknologi untuk menghemat waktu, tetapi justru kehilangan kemampuan untuk merasakan waktu.

Kita Mungkin tidak Kekurangan Waktu

Kalimat “saya tidak punya waktu” terdengar sangat familiar. Tidak punya waktu olahraga. Tidak punya waktu membaca. Tidak punya waktu bertemu keluarga. Tidak punya waktu tidur lebih awal. Namun, mungkin sebagian persoalannya bukan selalu tentang jumlah waktu.

Bisa jadi kita semakin kehilangan otoritas atas perhatian sendiri. Lima menit di media sosial tidak terasa seperti lima menit karena tidak memiliki titik akhir yang jelas. Satu video berubah menjadi sepuluh. Satu notifikasi menjadi percakapan panjang. Satu pencarian berubah menjadi satu jam.

Waktu tidak benar-benar hilang, tapi dialihkan. Dan sering kali, kita bahkan tidak sadar siapa yang mengalihkannya.

Bukan Berarti Teknologi adalah Musuh

Menyalahkan teknologi juga terlalu sederhana. Algoritma dapat membantu menemukan informasi, membangun komunitas, menemukan inspirasi, bahkan mendukung kesehatan dan produktivitas. Masalahnya bukan keberadaan algoritma, tapi ketika kita tidak lagi menyadari bagaimana ia memengaruhi perilaku.

Karena itu, literasi digital hari ini seharusnya tidak berhenti pada kemampuan membedakan informasi benar dan salah. Kita juga perlu bertanya: Mengapa saya melihat konten ini? Mengapa saya terus menggulir? Apakah saya benar-benar memilih ini, atau hanya mengikuti rekomendasi berikutnya?

Dan yang paling penting: Kalau saya berhenti sekarang, apa yang sebenarnya saya lewatkan? Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi bentuk kecil dari digital agency, kemampuan untuk kembali menentukan bagaimana perhatian, waktu, dan energi kita digunakan.

Mungkin kita tidak perlu menghapus semua aplikasi atau menjalani kehidupan digital yang ekstrem. Kita hanya perlu mulai menciptakan sesuatu yang tidak disukai algoritma, yaitu batas.

Menentukan kapan berhenti. Menyisakan ruang untuk bosan. Makan tanpa layar. Berjalan tanpa harus mendokumentasikan. Membaca sesuatu yang tidak direkomendasikan. Dan sesekali membiarkan waktu berlalu tanpa merasa harus mengisinya.

Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak konten yang berhasil kita konsumsi atau hasilkan dalam sehari. Hidup adalah tentang apakah kita masih sadar memilih ke mana waktu dan perhatian kita pergi.