Dulu, rasa takut ketinggalan sering muncul karena tidak ikut dalam sebuah momen. Tak hadir di pesta, tidak tahu tempat nongkrong terbaru, atau melewatkan tren yang sedang ramai dibicarakan. Kini, bentuk kecemasan itu terasa lebih dalam. Bukan lagi sekadar takut ketinggalan sesuatu, tetapi takut tertinggal dari kehidupan orang lain.
Fenomena ini kerap disebut fear of falling behind (FOFB), yaitu kekhawatiran bahwa diri sendiri tidak berkembang secepat orang lain dalam berbagai aspek kehidupan. Karier, pendidikan, kondisi finansial, hubungan, kesehatan, hingga pencapaian personal seolah menjadi perlombaan yang tidak pernah benar-benar selesai.
Jika FOMO atau fear of missing out membuat seseorang berpikir, “Apa yang sedang dilakukan orang lain?”, FOFB membawa pertanyaan yang lebih personal: “Kenapa hidup saya tidak sejauh mereka?”
Perbedaannya mungkin terdengar tipis, tetapi dampaknya bisa lebih melelahkan.
Ketika Hidup Terasa Seperti Perlombaan
Media sosial membuat pencapaian orang lain terlihat begitu dekat. Dalam hitungan detik, seseorang bisa melihat teman yang baru mendapatkan promosi, membeli rumah, menikah, memiliki bisnis, bepergian ke luar negeri, atau menjalani gaya hidup yang tampak lebih sehat dan teratur.
Masalahnya, media sosial hampir selalu memperlihatkan hasil akhir, bukan proses panjang di belakangnya.
Kita melihat seseorang berlari maraton, tetapi tidak melihat latihan berbulan-bulan. Melihat karier yang sukses, tetapi tidak mengetahui kegagalan yang pernah terjadi. Melihat pernikahan yang bahagia, tetapi tidak tahu dinamika hubungan di balik layar.

Perbandingan pun menjadi tidak seimbang. Kehidupan kita yang kompleks dibandingkan dengan potongan terbaik kehidupan orang lain.
Pada titik tertentu, seseorang tidak lagi merasa iri terhadap pencapaian tertentu. Yang muncul justru perasaan tertinggal secara keseluruhan.
Mengapa Fear of Falling Behind Bisa Terjadi?
Salah satu pemicunya adalah budaya produktivitas yang tidak mengenal kata cukup. Ada dorongan untuk terus belajar, bekerja, berolahraga, membangun personal branding, meningkatkan penghasilan, dan mengembangkan diri. Semua aktivitas tersebut pada dasarnya positif. Namun, ketika produktivitas berubah menjadi ukuran harga diri, istirahat justru terasa seperti kemunduran.
Ada pula tekanan sosial mengenai “timeline kehidupan”. Seolah-olah ada usia ideal untuk mencapai sesuatu. Pada usia tertentu harus sudah memiliki pekerjaan mapan, kemudian rumah, pasangan, tabungan, atau investasi. Ketika realitas tidak sesuai dengan ekspektasi tersebut, seseorang mudah menyimpulkan bahwa dirinya gagal atau terlambat.
Padahal, kehidupan manusia tidak berjalan dalam satu jalur yang seragam.
Fear of falling behind juga dapat muncul ketika seseorang terlalu sering menjadikan pencapaian orang lain sebagai tolok ukur. Alih-alih bertanya apakah hidup yang dijalani sudah sesuai dengan nilai dan kebutuhan pribadi, fokus bergeser menjadi apakah diri sendiri sudah cukup cepat dibandingkan orang lain.
Ironisnya, semakin sering membandingkan diri, semakin sulit seseorang menentukan apa yang sebenarnya ia inginkan.
Dampaknya Bukan Sekadar Overthinking
Rasa takut tertinggal dapat mendorong seseorang untuk terus mengejar sesuatu tanpa sempat mengevaluasi apakah tujuan tersebut memang penting.
Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa memicu stres kronis, kecemasan, kelelahan mental, hingga burnout. Seseorang mungkin terlihat sangat produktif dari luar, tetapi secara emosional terus merasa tidak pernah cukup.
Ada juga kecenderungan mengambil keputusan secara impulsif. Mengikuti tren investasi karena takut kehilangan momentum. Mengambil pekerjaan yang sebenarnya tidak sesuai dengan nilai pribadi karena takut kariernya tertinggal. Memaksakan diri mengikuti gaya hidup tertentu karena merasa semua orang sudah melakukannya.
Pada akhirnya, seseorang bisa sangat sibuk mengejar kehidupan yang dianggap “ideal”, tetapi semakin jauh dari kehidupan yang benar-benar diinginkan.
Tidak Semua Keterlambatan Adalah Kegagalan
Salah satu cara menghadapi fear of falling behind adalah berhenti menggunakan kehidupan orang lain sebagai kalender pribadi.
Tidak semua orang harus mencapai hal yang sama pada usia yang sama. Ada yang menemukan karier lebih cepat, ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Ada yang memilih menikah lebih awal, ada yang tidak menikah. Ada yang sukses melalui jalur pendidikan formal, sementara yang lain berkembang melalui pengalaman.
Perbedaan tersebut bukan otomatis menunjukkan siapa yang lebih maju.
Penting juga untuk melakukan digital hygiene, termasuk membatasi konsumsi media sosial ketika mulai memicu perbandingan yang tidak sehat. Bukan berarti harus menghilang dari dunia digital, tetapi lebih sadar terhadap jenis konten yang dikonsumsi dan dampaknya terhadap kondisi psikologis.
Selain itu, tujuan pribadi perlu didefinisikan ulang. Daripada bertanya, “Apa yang sudah dicapai orang lain?”, mungkin lebih relevan bertanya, “Apa yang sebenarnya ingin saya capai, dan mengapa?”
Pertanyaan tersebut membantu mengembalikan kendali dari standar eksternal ke kebutuhan internal.
Sebab, hidup bukan perlombaan dengan garis finis yang sama untuk semua orang. Bisa jadi, yang selama ini terasa seperti “tertinggal” sebenarnya hanyalah perjalanan yang memiliki tempo berbeda.
Dan mungkin, kedewasaan bukan tentang mampu berlari secepat orang lain, melainkan tentang berani berhenti sejenak dan memastikan bahwa arah yang kita tuju memang benar-benar milik kita sendiri.



