Sunday Batch: Memadukan Salt Bread dan Tren “Melambat” di Tengah Hidup yang Serba Cepat

Di tengah rutinitas yang semakin padat, ada satu kebiasaan sederhana yang diam-diam kembali dicari: menikmati makanan tanpa terburu-buru.

Bukan sekadar soal rasa kenyang, makanan kini juga menjadi bagian dari cara seseorang mengambil jeda. Secangkir kopi di sore hari, sepotong roti hangat, atau camilan yang dinikmati sambil mengobrol bisa menjadi momen kecil untuk keluar sejenak dari ritme hidup yang serba cepat.

Fenomena ini ikut mendorong berkembangnya tren roti artisanal di Indonesia. Konsumen tidak hanya mencari produk yang praktis, tetapi juga semakin memperhatikan kualitas bahan, proses pembuatan, tekstur, hingga cerita di balik makanan yang mereka konsumsi.

Sejumlah penelitian mengenai makanan handmade menunjukkan bahwa proses pembuatan yang terasa lebih personal dapat meningkatkan persepsi konsumen terhadap keaslian, kualitas, dan nilai budaya sebuah produk. Dengan kata lain, pengalaman menikmati makanan tidak lagi berhenti pada rasa.

Salah satu produk yang tengah mengikuti tren tersebut adalah salt bread, roti dengan karakter gurih dan aroma mentega yang belakangan semakin mudah ditemui di berbagai kota besar.

Sponsored Links

Ketika Roti Bukan Sekadar Roti

Di tengah popularitas salt bread, muncul Sunday Batch, jenama baru yang mencoba menawarkan pengalaman berbeda melalui produk roti yang dibuat dengan pendekatan artisanal.

Sunday Batch resmi membuka gerai pertamanya di Mall Kelapa Gading, Jakarta. Kehadirannya membawa konsep yang cukup sederhana: menghadirkan sensasi “hari Minggu” dalam bentuk makanan.

Ide tersebut bahkan menjadi bagian dari cerita awal jenama ini. “Sunday Batch memang lahir dari ketidaksengajaan di satu sore hari Minggu yang santai. Namun, dalam menghadirkan produk ini secara resmi ke publik, kami melakukannya dengan komitmen penuh,” ujar Sidney Mohede, Co-Founder Sunday Batch.

[kiri ke kanan] Ivan Mario, Co-Founder Sunday Batch; Agnes Dyke, Co-Founder Sunday Batch; Sidney Mohede, Co-Founder Sunday Batch; Andrian Harjanto, Co-Founder Sunday Batch (Foto: Dok. Sunday Batch)

Menurutnya, eksplorasi resep kemudian dikembangkan dengan memperhatikan teknik pembuatan, kualitas bahan baku, dan pengalaman ketika roti tersebut disantap.

Konsep ini menarik karena comfort food pada akhirnya bukan hanya tentang makanan yang terasa enak. Tapi juga berkaitan dengan bagaimana makanan tersebut dikonsumsi dan situasi emosional yang menyertainya. Roti hangat yang disantap sambil berbincang tentu menawarkan pengalaman berbeda dibandingkan makanan yang dimakan terburu-buru di sela perjalanan menuju kantor.

Dari Dough Darlings hingga Sunday Batch

Di balik Sunday Batch terdapat pengalaman panjang di industri kuliner melalui sister brand-nya, Dough Darlings. Jenama donat artisanal lokal tersebut telah beroperasi selama 11 tahun dan berekspansi hingga Doha, Qatar. Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu fondasi dalam pengembangan produk Sunday Batch.

Meski konsep Sunday Batch dibuat lebih santai, proses produksinya tetap mengandalkan teknik pembuatan roti yang terukur. Salah satu perhatian utamanya adalah proses pemanggangan. Adonan dipanggang pada suhu sekitar 180–190°C selama 12–15 menit.

Menariknya, Sunday Batch tidak menggunakan egg wash untuk menghasilkan warna pada permukaan roti. Warna keemasan pada bagian luar justru berasal dari proses pemanggangan dan lelehan mentega yang menghasilkan lapisan golden crust.

Hasil akhirnya adalah bagian luar yang renyah, sementara bagian dalam tetap lembut, buttery, dan sedikit kenyal dengan karakter gurih yang menjadi ciri khas salt bread.

22 Varian untuk Eksplorasi Rasa

Pada pembukaan gerai pertamanya, Sunday Batch menghadirkan 22 varian menu. Sebanyak 19 varian dapat dinikmati untuk dine-in maupun takeaway, sementara tiga lainnya hanya tersedia untuk pengunjung yang menikmati makanan langsung di gerai.

Beberapa menu yang menjadi andalan antara lain Double Chocolate, Triple Cheese, Blueberry, Chocolate Banana, dan Cranberry Cream Cheese. Salah satu hal yang membedakan produk Sunday Batch adalah bentuk beberapa salt bread-nya yang dibuat menyerupai donat atau bagel.

Bentuk tersebut bukan hanya soal tampilan. Menurut Sunday Batch, desain ini memungkinkan distribusi mentega yang lebih merata dan memberikan area kontak yang lebih luas dengan loyang selama proses pemanggangan. Hasilnya adalah tekstur luar yang lebih renyah.

Dengan begitu, pengalaman menikmati salt bread tidak melulu tentang rasa asin dan mentega, tetapi juga permainan tekstur antara bagian luar yang crunchy dan bagian dalam yang lembut.

Ketika Salt Bread Bertemu Sup Hangat

Sunday Batch menyajikan mini salt bread bersama sup hangat yang bisa dicocol. Konsep tersebut membuat roti tidak hanya menjadi makanan pendamping kopi atau camilan, tetapi juga bagian dari pengalaman makan yang lebih lengkap.

Salt bread dengan Cream Mushroom Soup (Foto: Dok. Sunday Batch)

Ada tiga pilihan sup yang ditawarkan, yaitu Sunday Soup dengan karakter rempah dan kaldu gurih, Cream Mushroom Soup yang lebih lembut dan creamy, serta Black Sticky Rice Soup atau sup ketan hitam yang menghadirkan kombinasi gurih dan manis.

Perpaduan roti hangat dengan sup sebenarnya bukan konsep baru. Namun, dalam konteks salt bread, kombinasi ini menawarkan cara makan yang berbeda: lebih perlahan, lebih sederhana, dan lebih dekat dengan konsep comfort food.

Mencari “Hari Minggu” di Tengah Kesibukan

Nama Sunday Batch sendiri membawa gagasan tentang satu hari yang identik dengan istirahat. Hari Minggu biasanya diasosiasikan dengan bangun lebih siang, sarapan tanpa terburu-buru, bertemu teman, membaca buku, atau sekadar duduk sambil menikmati kopi.

Namun, di kehidupan urban, jeda semacam itu semakin sering terasa sebagai sesuatu yang harus “dicari”. Kesibukan pekerjaan, perjalanan, notifikasi, hingga tuntutan untuk selalu produktif membuat waktu istirahat terkadang justru terasa seperti sesuatu yang tidak produktif.

Padahal, kemampuan untuk berhenti sejenak juga merupakan bagian dari gaya hidup yang sehat. Melalui konsep Born from a Lazy Sunday, Sunday Batch ingin membawa gagasan tersebut ke dalam pengalaman menikmati makanan. Bukan dengan mengajak orang melakukan sesuatu yang besar, melainkan dengan menawarkan alasan sederhana untuk duduk, makan, berbincang, dan menikmati waktu tanpa terburu-buru.

Gerai perdana Sunday Batch kini telah dibuka di Mall Kelapa Gading, Jakarta. Mungkin yang dicari dari sepotong roti bukan hanya rasa kenyang. Bisa jadi, yang semakin langka justru adalah kesempatan untuk menikmatinya dengan tenang.