Di tengah ritme hidup yang makin cepat, secangkir hojicha hadir sebagai jeda kecil yang menawarkan rasa hangat sekaligus ketenangan.
Tren minuman teh terus berevolusi. Belakangan, hojicha, teh hijau panggang asal Jepang, pelan tapi pasti mencuri perhatian penikmat minuman di berbagai kota besar Asia. Karakternya yang hangat, rendah kafein, dan cenderung “ringan” di lidah membuatnya terasa relevan dengan gaya hidup urban yang serba cepat, tapi tetap butuh jeda.
Melihat momentum ini, CHAGEE memperkenalkan varian musiman terbarunya, Hojicha Genmai Milk Tea, yang resmi hadir di seluruh gerainya di Indonesia sejak 20 Maret 2026. Produk ini diposisikan bukan sekadar minuman baru, tetapi sebagai respons terhadap kebutuhan konsumen akan pengalaman minum teh yang lebih mindful.
Hojicha sendiri dikenal sebagai roasted tea, teh yang melalui proses pemanggangan sehingga menghasilkan profil rasa yang berbeda dari teh hijau pada umumnya. Pada varian ini, CHAGEE menggunakan daun teh yang dipetik saat periode Grain Rain, fase ketika daun berada pada kondisi paling lembut dan kaya rasa. Prosesnya dilanjutkan dengan teknik triple-roasting untuk menekan rasa pahit sekaligus memperkuat aroma.
Racikan tersebut kemudian dipadukan dengan genmai atau beras panggang, menghasilkan warna teh amber yang jernih, dengan aroma hangat yang khas. Di mulut, rasanya cenderung lembut, sedikit nutty, dan tidak meninggalkan sensasi sepat yang tajam, profil yang kini banyak dicari oleh konsumen yang ingin menikmati teh tanpa rasa “berat”.

Di balik peluncuran ini, ada pendekatan yang lebih konseptual. CHAGEE mengangkat ide bahwa secangkir teh bisa menjadi ruang jeda di tengah rutinitas. Dengan kadar kafein yang relatif lebih rendah, hojicha diposisikan sebagai minuman yang tidak hanya menyegarkan, tapi juga memberi efek menenangkan. Konsep ini mereka sebut sebagai The Art of Lightness.
Pendekatan tersebut tidak berhenti di produk. Selama periode Maret hingga April, CHAGEE juga menghadirkan berbagai aktivasi di Jakarta, mulai dari area pengalaman di dalam gerai, sesi sampling yang dikurasi, hingga pop-up space bertema wellness yang dirancang sebagai ruang rehat di tengah aktivitas harian.
Untuk memperkuat pengalaman ini, mereka turut merilis merchandise edisi terbatas yang masih berkaitan dengan sensori hojicha. Mulai dari sachet beraroma teh, lilin aromaterapi, hingga tote bag dan tumbler dengan ilustrasi khas. Seluruhnya dirancang untuk memperpanjang pengalaman “tenang” dari secangkir teh ke keseharian.
Secara harga, Hojicha Genmai Milk Tea dibanderol di kisaran Rp45 ribu hingga Rp52 ribu di area Jabodetabek, dan sedikit lebih tinggi di Bali. Produk ini tersedia dalam dua ukuran dan masuk ke dalam lini Fresh Milk Tea.
Di tengah menjamurnya minuman berbasis kopi dan teh kekinian, kehadiran hojicha menjadi sinyal bahwa preferensi konsumen mulai bergeser. Bukan lagi sekadar mencari rasa yang kuat atau manis, tapi juga pengalaman yang lebih subtle, lebih tenang, lebih seimbang. Dan untuk sebagian orang, mungkin itu yang justru paling dibutuhkan saat ini.


