Minum Susu Bisa Bersihkan Paru-Paru, Mitos atau Fakta?

Pernah dengar saran, “Kalau sering kena asap rokok atau polusi, minum susu saja supaya paru-paru bersih”?

Nasihat semacam ini cukup akrab di masyarakat Indonesia. Bahkan, ada anggapan bahwa jenis susu tertentu, salah satunya susu steril yang populer dengan sebutan “susu beruang”, bisa membantu membersihkan paru-paru dari asap rokok, debu, sampai polusi udara.

Tak sedikit pula yang menjadikan minum susu sebagai semacam “ritual” setelah terpapar asap rokok. Logikanya terdengar masuk akal: kalau susu baik untuk tubuh, bukankah ia juga bisa membantu mengeluarkan “kotoran” dari paru-paru?

Sayangnya, tubuh manusia tidak bekerja sesederhana itu. Jadi, apakah minum susu benar-benar bisa membersihkan paru-paru? Jawabannya: mitos.

Sponsored Links

Susu masuk ke sistem pencernaan, bukan mencuci paru-paru

Ketika kita minum susu, cairan tersebut masuk melalui mulut, menuju kerongkongan, lambung, lalu diproses dalam sistem pencernaan. Sementara itu, paru-paru merupakan bagian dari sistem pernapasan. Asap rokok dan polutan yang kita hirup masuk melalui saluran pernapasan menuju bronkus hingga paru-paru.

Artinya, susu yang diminum tidak berjalan menuju paru-paru untuk kemudian “mengangkat” sisa asap rokok atau polusi yang menempel di sana. Klaim bahwa susu tertentu bisa membersihkan paru-paru juga tidak memiliki bukti ilmiah yang kuat. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Jalahoaks bahkan pernah mengklarifikasi klaim bahwa Bear Brand dapat membersihkan paru-paru sebagai informasi yang menyesatkan.

Dengan kata lain, minum susu setelah merokok bukan berarti paru-paru kemudian menjadi “lebih bersih”.

Lalu, kenapa mitos ini terasa masuk akal?

Salah satu alasannya mungkin karena kita sering mengasosiasikan susu dengan sesuatu yang “menyehatkan”.

susu
Susu sering dikaitkan dengan menyehatkan paru-paru (Foto: Pexels)

Susu memang mengandung sejumlah zat gizi dan dapat menjadi bagian dari pola makan sehat. Tetapi manfaat nutrisi tersebut tidak otomatis membuat susu menjadi “pembersih” organ tertentu. Ini mirip dengan anggapan bahwa setelah makan terlalu banyak gorengan, kita bisa “menetralisir” tubuh hanya dengan minum air putih sebanyak-banyaknya.

Tubuh memang punya mekanisme sendiri untuk mengolah dan membuang berbagai zat yang tidak dibutuhkan. Namun, bukan berarti satu jenis makanan atau minuman bisa bekerja seperti cairan pembersih yang membilas organ tubuh.

Hal yang sama berlaku pada paru-paru.

Bagaimana dengan anggapan susu bikin banyak lendir?

Ini menarik karena ada satu pengalaman yang mungkin pernah kamu rasakan. Setelah minum susu, sebagian orang merasa tenggorokannya seperti lebih “berlapis”, lebih tebal, atau seperti ada lendir. Sensasi inilah yang kemudian ikut memperkuat anggapan bahwa susu berhubungan dengan lendir di saluran pernapasan.

Padahal, penelitian tidak menunjukkan bahwa konsumsi susu menyebabkan tubuh memproduksi lebih banyak lendir. Sebuah penelitian terhadap orang dewasa yang terpapar rhinovirus juga tidak menemukan hubungan signifikan antara konsumsi susu dan peningkatan produksi lendir atau gejala hidung tersumbat.

Mayo Clinic juga menjelaskan bahwa susu tidak menyebabkan tubuh memproduksi lebih banyak dahak. Sensasi seperti tenggorokan terasa lebih tebal setelah minum susu kemungkinan lebih berkaitan dengan karakteristik fisik minuman tersebut daripada peningkatan produksi lendir yang sebenarnya.

Jadi, merasa ada lendir bukan berarti susu sedang “mengeluarkan kotoran” dari paru-paru.

Kalau begitu, apa yang sebenarnya terjadi pada paru-paru?

Paru-paru bukan organ yang pasif menunggu “dibersihkan”.

Saluran pernapasan memiliki mekanisme pertahanan alami. Lendir, misalnya, merupakan bagian dari sistem perlindungan saluran pernapasan karena membantu menangkap berbagai partikel dan iritan. Lendir tersebut kemudian dibantu oleh mekanisme pembersihan alami saluran napas untuk dikeluarkan dari tubuh.

Karena itu, kalau kamu ingin menjaga paru-paru tetap sehat, pendekatannya bukan mencari minuman yang dianggap mampu “mencuci” paru-paru.

Yang jauh lebih masuk akal adalah mengurangi sumber kerusakannya.

Berhenti merokok, menghindari asap rokok orang lain, mengurangi paparan polusi ketika kualitas udara sedang buruk, menggunakan perlindungan yang sesuai ketika berada di lingkungan berdebu, serta menjaga kebugaran tubuh jauh lebih relevan untuk kesehatan paru-paru dibanding mengandalkan susu tertentu.

Jadi, boleh tetap minum susu?

Tentu saja boleh, selama tubuh kamu dapat mentoleransinya dan konsumsinya sesuai kebutuhan.

Susu bisa menjadi sumber berbagai nutrisi dan bagian dari pola makan sehari-hari. Tetapi jangan memberikan “pekerjaan” yang tidak dimilikinya.

Susu bukan obat paru-paru!

Apalagi jika seseorang merasa sudah “menebus” kebiasaan merokok dengan minum susu setiap hari. Merokok lalu minum susu tidak membuat dampak rokok menjadi nol. Begitu juga setelah seharian menghirup polusi, minum susu tidak otomatis menghapus partikel yang sudah masuk ke sistem pernapasan.

Pada akhirnya, menjaga paru-paru bukan tentang mencari satu minuman ajaib yang bisa membersihkannya dalam semalam. Kadang, cara paling sederhana justru adalah berhenti memasukkan hal-hal yang memang bisa merusaknya. Karena untuk paru-paru, mencegah kerusakan jauh lebih masuk akal daripada mencari cara untuk “mencucinya” setelah rusak.