Parents Suka Pamer Aktivitas Anak: Ketika Anak Berubah Jadi “Proyek” Parenting

Anak ikut klub bola, les piano, kursus bahasa, coding, hingga berbagai kompetisi. Semuanya terdengar positif. Masalahnya bukan pada aktivitas tersebut, tapi ketika semakin banyak kegiatan anak dianggap sebagai bukti keberhasilan orang tua.

Di media sosial, kita melihat orang tua dengan bangga mengunggah anak yang sedang latihan sepak bola, memenangkan kompetisi, atau mendapatkan sertifikat. Tanpa sadar, anak tidak hanya dibesarkan, tetapi juga mulai “dikurasi” dan dipamerkan sebagai pencapaian keluarga.

Budaya achievement kemudian membuat masa kanak-kanak terasa seperti versi mini dari dunia profesional. Anak punya “portofolio”: klub olahraga, kemampuan bahasa asing, musik, lomba, hingga berbagai sertifikat. Semakin panjang daftarnya, semakin mudah orang tua merasa sedang mempersiapkan masa depan anak. Padahal, anak bukan CV yang harus terus diperpanjang. Bermain bebas, berimajinasi, membaca karena penasaran, bersepeda bersama teman, atau bahkan sekadar bosan juga merupakan bagian penting dari proses tumbuh kembang.

Anak berhak untuk menentukan aktivitasnya sendiri (Foto: Pexels)

Persoalannya menjadi lebih serius ketika anak mulai merasa dirinya berharga hanya ketika berprestasi. Jika apresiasi terus diberikan karena menang, mencetak gol, mendapat nilai tinggi, atau tampil mengesankan, anak bisa menghubungkan penerimaan orang tua dengan performanya. Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya berapa banyak aktivitas yang diikuti, tetapi bagaimana orang tua merespons ketika anak gagal. Setelah pertandingan, misalnya, apakah pertanyaan pertama adalah, “Kamu senang mainnya?” atau justru “Kenapa tadi nggak cetak gol?” Pesan dari dua pertanyaan tersebut bisa sangat berbeda bagi anak.

Menariknya, klub bola, musik, atau aktivitas lain sebenarnya bukan masalah. Semua bisa memberikan manfaat bagi perkembangan fisik, sosial, dan emosional anak. Yang perlu dipertanyakan adalah motivasinya. Apakah anak memang menyukainya atau orang tua menyukai status sosial yang melekat pada aktivitas tersebut? Anak mungkin sebenarnya lebih senang bermain bola santai bersama teman, tetapi diarahkan masuk akademi karena dianggap lebih bergengsi. Di sinilah batas antara mendukung minat anak dan memproyeksikan ambisi orang tua mulai menjadi kabur.

Media sosial juga membuat parenting semakin mudah berubah menjadi pertunjukan. Kita melihat medali, pertandingan, sertifikat, dan foto anak yang berprestasi, tetapi tidak melihat saat anak lelah, bosan, menangis sebelum latihan, atau sebenarnya ingin berhenti. Akhirnya, orang tua membandingkan kehidupan sehari-hari anaknya dengan highlight reel anak orang lain. Ketika anak teman masuk akademi bola atau memenangkan lomba, muncul perasaan bahwa anak sendiri tertinggal. Padahal perkembangan anak bukan perlombaan dengan garis finis yang sama.

Sebelum menambahkan aktivitas baru, orang tua mungkin perlu melakukan reality check: Apakah anak benar-benar menginginkannya? Kalau tidak ada yang melihat, apakah kita masih ingin anak melakukan ini? Dan apakah jadwalnya masih menyisakan ruang untuk bermain, beristirahat, bersama keluarga, dan sekadar menjadi anak-anak? Anak juga berhak bosan, berganti minat, gagal, bahkan berhenti dari sesuatu yang ternyata tidak cocok. Memberikan kesempatan kepada anak berarti membuka banyak pintu, bukan memaksanya masuk ke semua pintu yang menurut orang tua terlihat menjanjikan.

Pada akhirnya, anak bukan proyek untuk membuktikan bahwa orang tua telah berhasil menjalankan parenting dengan baik. Ia bukan kesempatan kedua untuk mewujudkan ambisi yang dulu tidak tercapai, bukan pula alat untuk mendapatkan validasi sosial. Tugas orang tua bukan menciptakan anak dengan pencapaian sebanyak mungkin, tetapi membantu anak mengenali siapa dirinya, apa yang ia sukai, dan bagaimana ia merasa aman menjadi dirinya sendiri. Kadang bentuk parenting terbaik bukan menambahkan satu aktivitas lagi ke kalender anak, melainkan berani mengosongkan kalender itu dan melihat apa yang sebenarnya ingin dilakukan anak ketika tidak ada lagi yang harus dibuktikan.