Imelda, Driver Tuli Grab yang Buktikan Keterbatasan Bukan Halangan untuk Bekerja

Bekerja sebagai pengemudi ojek online bukan perkara mudah. Selain harus menghadapi lalu lintas dan tuntutan pekerjaan, pengemudi juga dituntut mampu berkomunikasi dengan penumpang. Namun, keterbatasan komunikasi tidak membuat Imelda Situmorang berhenti mencari cara untuk tetap bekerja.

Perempuan 36 tahun itu merupakan salah satu Mitra Pengemudi Tuli Grab Indonesia. Sejak November 2025, Imelda menjalani kesehariannya sebagai pengemudi GrabBike di wilayah Bekasi. Pekerjaan tersebut memberinya sesuatu yang sebelumnya sulit ia dapatkan: keleluasaan untuk mengatur waktu antara mencari penghasilan dan mengurus keluarga.

Kisah Imelda menjadi salah satu cerita yang dibagikan dalam kegiatan Kopdar Spesial Hari Bahasa Isyarat yang digelar Grab di Medan, Semarang, dan Jakarta. Kegiatan tersebut digelar bertepatan dengan Hari Bahasa Isyarat Internasional pada 23 September 2026.

Dalam rangkaian kegiatan itu, Grab memberikan edukasi bahasa isyarat kepada sekitar 650 Mitra Pengemudi sekaligus mendistribusikan 1.000 Rompi “Teman Setara” untuk Mitra Pengemudi Tuli.

Bagi Imelda, kegiatan tersebut bukan sekadar pertemuan antarmitra. Kopdar menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, mengenal budaya Tuli, sekaligus belajar membangun komunikasi yang lebih inklusif.

Sponsored Links

Dari Pekerja Minimarket hingga Jadi Driver Grab

Sebelum menjadi Mitra Pengemudi Grab, Imelda pernah bekerja selama tiga tahun di sebuah minimarket di Bandung. Saat itu, ia menjalani pekerjaan dengan jadwal kerja yang sudah ditentukan.

Kehidupan Imelda kemudian berubah setelah menikah, pindah ke Bekasi, dan memiliki anak. Ia membutuhkan pekerjaan yang memungkinkan dirinya tetap memperoleh penghasilan sekaligus memiliki waktu untuk keluarga.

Kesempatan itu datang dari Komunitas Ojol Tunarungu Indonesia (KOTRI). Dari komunitas tersebut, Imelda mendapatkan informasi mengenai pendaftaran menjadi Mitra Pengemudi Grab.

Suaminya yang juga merupakan Mitra Pengemudi Grab kemudian memberikan sepeda motor yang digunakan Imelda untuk bekerja. Pada November 2025, ia resmi bergabung sebagai Mitra Pengemudi GrabBike.

Imelda Situmorang, Mitra Pengemudi GrabBike, berinteraksi dengan peserta dalam kegiatan Kopdar Grab di Jakarta (Foto: Dok. Grab Indonesia)

“Kalau menjadi driver atau Mitra Grab, saya bisa bebas mengatur waktu untuk bekerja. Saya sendiri biasanya bekerja di area Bekasi, supaya lebih dekat dengan anak saya yang berada di rumah,” ujar Imelda.

Ia dan suaminya kemudian mengatur waktu dan wilayah kerja masing-masing agar dapat bergantian menjalankan tanggung jawab keluarga.

Bagi Imelda, fleksibilitas tersebut menjadi salah satu alasan pekerjaan sebagai mitra pengemudi dapat dijalani bersamaan dengan perannya sebagai seorang ibu.

Berkomunikasi dengan Penumpang Lewat Tulisan dan Gestur

Menjadi pengemudi Tuli membuat Imelda memiliki cara tersendiri ketika berkomunikasi dengan penumpang.

Pada awal bergabung, ia banyak mengandalkan tulisan, ekspresi wajah, dan gestur untuk menjelaskan kondisinya kepada pengguna. Tidak selalu mudah, sebab komunikasi antara pengemudi Tuli dan penumpang membutuhkan pemahaman dari kedua belah pihak.

Namun, pengalaman yang didapat Imelda tidak selalu berakhir dengan kesulitan.

Ada pengguna yang justru memberikan respons positif setelah mengetahui bahwa pengemudinya merupakan Teman Tuli. Senyum, sikap ramah, hingga penilaian positif menjadi bentuk apresiasi yang ia terima setelah menyelesaikan perjalanan.

“Sebelumnya, saya tidak berpikir bahwa seorang Tuli bisa bekerja sebagai pengemudi ojek online. Di Grab ternyata ada ruang bagi pengemudi Tuli untuk berkarya,” kata Imelda.

Pekerjaan tersebut akhirnya bukan hanya menjadi cara baginya untuk memperoleh penghasilan. Bagi Imelda, menjadi Mitra Pengemudi Grab juga menjadi pengalaman bahwa Teman Tuli dapat menjalankan pekerjaan yang sama dan mendapatkan kesempatan yang setara.

KOTRI Jadi Tempat Bertanya dan Berbagi Pengalaman

Perjalanan Imelda sebagai pengemudi Tuli tidak selalu berjalan mulus. Ia pernah mengalami kesulitan berkomunikasi dengan pengguna dan menghadapi penilaian yang tidak diharapkan.

Di tengah situasi tersebut, komunitas menjadi bagian penting dalam perjalanan Imelda.

KOTRI, misalnya, bukan hanya menjadi tempat ia mendapatkan informasi tentang pendaftaran Grab. Setelah bergabung, komunitas tersebut juga membantunya memahami penggunaan aplikasi dan cara menerima pesanan.

Dari sana, Imelda memiliki ruang untuk bertanya, bertukar pengalaman, sekaligus mendapatkan dukungan dari sesama Mitra Pengemudi Tuli.

Dukungan komunitas itu kemudian diperluas melalui kegiatan yang mempertemukan Mitra Pengemudi Tuli dan Mitra Dengar. Salah satunya melalui Kopdar Spesial Hari Bahasa Isyarat yang digelar Grab.

Dalam kegiatan tersebut, para mitra diajak mengenal budaya Tuli sekaligus mempraktikkan cara berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.

“Kegiatan ini menjadi ruang bagi kami untuk saling belajar dan berbagi pemahaman tentang budaya Tuli, termasuk mengenalkan fitur inklusif Grab yang dapat digunakan dalam keseharian. Kalau kegiatan seperti ini diadakan kembali, saya akan ikut lagi karena banyak ilmu baru yang bisa didapatkan,” ujar Imelda.

Rompi “Teman Setara” Bantu Komunikasi dengan Penumpang

Selain edukasi bahasa isyarat, Grab juga membagikan 1.000 Rompi “Teman Setara” kepada Mitra Pengemudi Tuli.

Rompi tersebut dilengkapi panduan visual dan ilustrasi bahasa isyarat dasar. Tujuannya membantu pengguna berkomunikasi dengan Mitra Pengemudi Tuli, termasuk untuk memberikan arahan sederhana maupun menyampaikan ungkapan seperti “terima kasih” dan “sama-sama”.

Bagi Imelda, keberadaan rompi tersebut membuat komunikasi dengan penumpang menjadi lebih mudah.

“Rompi ini membantu memperlancar komunikasi karena memuat informasi visual yang dapat dilihat penumpang, misalnya untuk memberi arahan ke kiri atau kanan, serta menggunakan bahasa isyarat sederhana seperti ‘terima kasih’ dan ‘sama-sama’,” tuturnya.

Dengan adanya panduan tersebut, penumpang tidak hanya mengetahui bahwa mereka sedang menggunakan layanan dari Mitra Pengemudi Tuli. Mereka juga memiliki kesempatan untuk mengenal beberapa bahasa isyarat sederhana yang dapat digunakan selama perjalanan.

Rompi itu pun menjadi semacam jembatan komunikasi antara pengemudi dan penumpang.

Imelda dan Ruang Kerja yang Lebih Inklusif

Kisah Imelda menunjukkan bahwa akses terhadap pekerjaan bagi Teman Tuli tidak berhenti pada tersedianya kesempatan untuk mendaftar.

Ada kebutuhan lain yang ikut menentukan bagaimana pekerjaan tersebut dapat dijalankan, mulai dari fleksibilitas waktu, akses informasi, dukungan komunitas, hingga alat bantu komunikasi yang sesuai.

Grab menyebut kegiatan Kopdar Spesial Hari Bahasa Isyarat dan pembagian Rompi “Teman Setara” sebagai bagian dari rangkaian “Teman Setara: Satu Ekosistem, Semua Bisa Tumbuh”.

Melalui program tersebut, Grab mengajak Mitra Pengemudi, Mitra GrabMerchant, pengguna, dan karyawan untuk memahami kebutuhan penyandang disabilitas serta membangun interaksi yang lebih inklusif.

Inisiatif tersebut juga menjadi bagian dari GrabAccess. Grab menyebut sepanjang 2025, pihaknya telah mendukung lebih dari 6.207 Mitra disabilitas di Asia Tenggara untuk mengakses peluang ekonomi.

Bagi Imelda, dukungan seperti ini diharapkan tidak berhenti pada dirinya. Ia ingin semakin banyak Teman Tuli memiliki kesempatan untuk bekerja dan berkembang.

“Saya berharap rekan-rekan Tuli bisa terus didukung dan tetap menjaga semangatnya. Dan saling mendukung,” ujarnya.

Sejak menjadi Mitra Pengemudi Grab pada November 2025, Imelda tidak hanya menemukan pekerjaan yang lebih fleksibel. Ia juga menemukan ruang untuk membuktikan bahwa bekerja, mendapatkan penghasilan, dan menjadi mandiri tetap bisa dilakukan dengan caranya sendiri.