Setelah hiruk-pikuk Lebaran mereda, ketika meja makan kembali sepi dan notifikasi ucapan selamat mulai berhenti, banyak orang tiba-tiba merasakan mood yang menurun, energi yang terasa lebih rendah, dan perasaan kosong yang datang tanpa alasan yang jelas.
Suasana Lebaran selalu identik dengan rasa hangat: berkumpul dengan keluarga, makanan berlimpah, jadwal yang lebih santai, hingga arus percakapan yang tidak ada habisnya. Namun beberapa hari setelahnya, banyak orang justru merasakan hal yang berlawanan, mood terasa datar, energi menurun, bahkan muncul rasa kosong yang sulit dijelaskan. Fenomena ini sebenarnya cukup umum dari sudut pandang kesehatan, terutama jika dilihat dari cara tubuh merespons euforia yang intens dalam waktu singkat.
Secara biologis, tubuh manusia memiliki sistem kimia otak yang sangat sensitif terhadap perubahan suasana. Selama periode libur panjang seperti Lebaran, aktivitas sosial meningkat, konsumsi makanan manis dan tinggi karbohidrat bertambah, jam tidur berubah, dan tingkat stres menurun. Kombinasi ini memicu pelepasan hormon-hormon “bahagia” seperti dopamin dan serotonin dalam jumlah lebih tinggi dari biasanya. Itulah sebabnya banyak orang merasa lebih bersemangat, lebih santai, dan lebih mudah merasa senang selama libur.
Masalahnya, tubuh selalu berusaha kembali ke kondisi seimbang atau homeostasis. Ketika euforia tersebut berakhir dan rutinitas kembali normal, pekerjaan menumpuk, jadwal tidur berubah lagi, dan interaksi sosial berkurang, kadar hormon yang sebelumnya tinggi ikut turun. Perubahan yang relatif cepat ini dapat memicu kondisi yang sering disebut sebagai post-holiday blues, yaitu penurunan mood setelah periode liburan.

Faktor lain yang sering luput disadari adalah pola makan selama Lebaran. Konsumsi gula sederhana, makanan tinggi lemak, dan porsi makan yang meningkat dapat menyebabkan fluktuasi kadar gula darah. Saat kadar gula naik cepat, tubuh memang terasa lebih berenergi. Tetapi ketika kadar tersebut turun kembali, rasa lelah, lesu, dan mudah tersinggung bisa muncul. Siklus ini sering membuat tubuh terasa “crash” setelah beberapa hari pesta makanan.
Selain itu, ritme sirkadian—jam biologis tubuh—juga biasanya ikut terganggu selama libur panjang. Banyak orang tidur lebih larut, bangun lebih siang, atau bahkan mengalami jadwal tidur yang tidak konsisten. Ketika aktivitas normal kembali dimulai, tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan ulang ritme tersebut. Dalam proses adaptasi ini, rasa mengantuk di siang hari, konsentrasi menurun, hingga mood yang tidak stabil dapat terjadi.
Ada pula faktor psikologis yang tidak kalah penting. Libur Lebaran memberikan jeda emosional dari tekanan sehari-hari. Saat jeda itu selesai, otak harus kembali menghadapi tanggung jawab yang sebelumnya “ditunda”. Transisi mendadak dari suasana santai ke ritme produktif sering menimbulkan sensasi mental yang mirip dengan jet lag emosional.
Kabar baiknya, kondisi ini biasanya bersifat sementara. Tubuh memiliki kemampuan adaptasi yang sangat baik selama diberikan waktu dan kebiasaan yang mendukung. Beberapa langkah sederhana dapat membantu proses ini, seperti mengembalikan jadwal tidur secara bertahap, memperbanyak aktivitas fisik ringan, serta menyeimbangkan kembali pola makan dengan asupan protein, serat, dan air yang cukup.
Paparan sinar matahari di pagi hari juga terbukti membantu menstabilkan ritme sirkadian dan meningkatkan produksi serotonin. Aktivitas sosial ringan—seperti bertemu teman atau berjalan santai—dapat membantu otak kembali memproduksi hormon kebahagiaan secara alami tanpa harus bergantung pada euforia sesaat.
Pada akhirnya, penurunan mood setelah Lebaran bukanlah tanda bahwa ada sesuatu yang “salah” dengan diri seseorang. Justru ini adalah cara tubuh memberi sinyal bahwa ia sedang menyesuaikan diri dari fase euforia menuju keseimbangan kembali. Memahami proses biologis ini membuat kita bisa lebih bijak merawat energi dan emosi setelah masa perayaan berakhir.


