Unik! Ini Cerita di Balik Penamaan Makanan Khas Indonesia

tumpeng

Sebentar lagi, Indonesia akan merayakan ulang tahun kemerdekaan yang ke-75. Kurang lengkap rasanya merayakan Hari Kemerdekaan RI tanpa tumpeng. Nasi kuning yang dibentuk kerucut dengan aneka lauk yang mengelilinginya ini biasanya disajikan sebagai bentuk perayaan dan ucapan syukur. Tapi pernah gak sih Sahabat Goodlife kepikiran kenapa dinamakan tumpeng? 

Ternyata setiap makanan khas Indonesia ini punya cerita dan sejarah yang unik di balik penamaannya. Sebagian besar sejarah dan penamaan makanan tersebut berkaitan dengan budaya tradisional masyarakat Indonesia.

Berikut ini cerita di balik penamaan makanan khas Indonesia, salah satunya tumpeng. Semoga setelah mengetahui cerita uniknya, Sahabat Goodlife jadi semakin mencintai makanan Indonesia ya. 

Sponsored Links

Pempek

pempek
Foto: pempek

Makanan asli Palembang ini awalnya bernama kelesan yang dalam bahasa Palembang artinya makanan yang tahan lama disimpan (dikeles). Kelesan merupakan olahan ikan yang dicampur dengan tepung tapioka dan kemudian direbus. Jika ingin disantap, kelesan bisa digoreng kembali untuk mendapatkan tekstur yang renyah. 

Sayangnya, orang Palembang tidak begitu mahir untuk menjual kelesan buatannya. Kemudian datanglah orang Tionghoa yang memang terkenal ulet berdagang.

Orang-orang Tionghoa ini yang kemudian menjual kelesan berkeliling kampung. Ketika berkeliling, orang yang ingin membeli kelesan biasanya akan memanggil sang pedagang dengan sebutan Apek atau Pek, yang dalam bahasa Tionghoa artinya panggilan kepada orang yang lebih tua. Karena dipanggil terus-menerus, orang kemudian lebih mengenal kelesan dengan sebutan Pempek.

Pempek menjadi santapan sehari-hari orang Palembang. Hampir di setiap rumah, pasti ada sajian pempek dengan kuah atau cuko yang terbuat dari campuran gula merah, ebi, cabe rawit, bawang putih dan cuka. 

Tak hanya digemari di Indonesia, masyarakat Thailand, Singapura, dan Malaysia bahkan juga menyukainya. Ketiga negara tetangga ini yang paling sering mengimpor pempek dari Indonesia.

Cuanki

cuanki
Foto: Instagram@dapur_bu_mami

Cuanki adalah salah satu makanan khas dari kota Bandung. Seperti makanan asal Bandung lainnya yang dinamai berdasarkan singkatan, seperti batagor singkatan dari bakso tahu goreng, cireng dari aci digoreng, atau cilok kependekan dari aci dicolok, nama cuanki juga berasal dari singkatan, yaitu Cari Uang Jalan Kaki.

Penamaan ini gak lepas dari usaha pedagang cuanki yang menjajakan dagangannya dengan cara memikul gerobak keliling kampung.

Cuanki tidak merujuk pada satu makanan tetapi seporsi makanan yang biasanya terdiri dari bakso, siomay kering, dan tahu putih yang disajikan dengan kuah bening yang diberi bumbu kecap asin, penyedap rasa, dan irisan daun bawang.

Lodeh

sayur lodeh
Foto: Instagram@deadreanni

Ada beberapa versi tentang penamaan Sayur Lodeh ini. Namun salah satu yang paling dipercaya adalah ketika pasukan Mataram, Betawi, dan Cirebon bersatu melawan Belanda di Batavia.

Ketika itu, dapur umum pasukan Indonesia ini dibakar habis oleh tentara Belanda sehingga membuat prajurit kelaparan. Di dalam hutan, tentara Betawi kemudian memasak beberapa bahan makanan yang tersedia di hutan dan ternyata banyak yang menyukainya karena lezat.

Tentara-tentara ini kemudian bertanya, apa nama sayur tersebut. “Terserah lo deh (mau dikasih nama apa),” celetuk tentara Betawi.

Sayur Lodeh adalah sayur dengan kuah santan yang berisi berbagai macam sayuran seperti kacang panjang, labu, nangka muda, kol, dan irisan tempe.

Resep Sayur Lodeh sendiri pernah masuk dalam buku resep Belanda abad ke-19 karena ketika itu, kelezatan Sayur Lodeh juga bukan hanya digemari masyarakat pribumi tetapi juga orang Belanda di Indonesia.

Tumpeng

tumpeng
Foto: Instagram@milokitchen

Konon, tumpeng adalah singkatan dari bahasa Jawa, ‘yen metu kudu mempeng’ yang artinya ketika keluar rumah harus sungguh-sungguh dan penuh semangat. Kalimat ini juga mengandung makna jika manusia harus menjalani hidup penuh dengan kesungguhan, semangat, dan keyakinan agar berhasil kelak.

Dahulu kala, masyarakat Jawa membuat tumpeng sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang dipercaya bersemayam di gunung. Karena itulah, tumpeng berbentuk kerucut yang melambangkan gunung.

Tumpeng biasanya disajikan dengan aneka lauk yang jumlahnya tujuh macam. Alasannya karena dalam bahasa Jawa, angka 7 disebut pitu, yang bisa diartikan sebagai pitulungan atau pertolongan.

Setiap jenis menu juga memiliki makna masing-masing seperti telur yang bermakna kebersamaan, ikan sebagai lambang sebuah keuletan dan perjuangan hidup, ayam sebagai simbol menghindari sifat jelek, sombong, dan ingin menang sendiri.

Sementara untuk sayur biasanya disajikan urat yang terdiri dari kangkung, toge, dan kacang panjang yang dimaknai sebagai pelindung dan pertimbangan yang baik dalam memilih segala sesuatu.

Tumpeng biasanya disajikan pada perayaan atas keberhasilan atau acara istimewa lainnya. tumpeng akan dipotong bagian pucuknya untuk kemudian diserahkan kepada orang yang penting di acara tersebut.

Namun, kepercayaan masyarakat Jawa ada yang menyebut sebaiknya menyantap tumpeng dengan cara dikeruk dari bagian bawah hingga kemudian ke bagian puncak. Hal ini memiliki makna bahwa setiap manusia akan kembali ke Sang Pencipta, yang disimbolkan dengan puncak dari nasi tumpeng.

Wah, cukup unik ya penamaan makanan khas Nusantara Indonesia. Semoga dengan semakin mengenal makanan Indonesia, Sahabat Goodlife bisa semakin mencintai kuliner Indonesia dan ikut melestarikannya dengan cara menyantapnya.

Dirangkum dari berbagai sumber, www.goodnewsfromindonesia.id, www.id.wikipedia.org, buku “80 Warisan Kuliner Nusantara” karya Semijati Purwadaria. 

Visited 104 times, 2 visit(s) today