29

JUN 20

Tim writer GoodLife

Health Talk: Kiat Sehat Pasien Lupus di Masa Pandemi Covid-19

Artikel ini merupakan rangkuman dari IG Live yang diselenggarakan oleh RS. St. Carolus sebagai salah satu kerja sama dengan Goodlife.id

 

Pembicara : Dr. Cindy, M.Biomed, SpPD

Halo Goodpeeps, kamu sering mendengar tentang penyakit lupus? Salah satu penyakit autoimun yang disebabkan karena daya tahan tubuh (imunitas) diri sendiri yang menyerang sel-sel tubuh orang itu sendiri (autoimunitas). Dibanding penyakit autoimun lainnya, lupus dapat memberikan manifestasi paling berat karena sifatnya yang dapat menyerang ke semua organ.

Mengingat sifat autoimunitas tersebut, penyakit lupus perlu mendapat perhatian khusus di masa pandemi Covid-19. Untuk mencegah infeksi Virus Corona, kita dianjurkan untuk meningkatkan daya tubuh kita? Namun bagaimana pada penderita lupus? 

Untuk memberi pemahaman tentang kiat khusus/strategi bagi pasien lupus untuk tetap sehat di masa pandemi Covid-19 ini, Rumah Sakit St Carolus mengadakan bincang-bincang melalui Instagram live dengan dokter penyakit dalam, yaitu dr. Cindy, M. Biomed, SpPD yang dipandu oleh Rima dari tim humas RS tersebut. Artikel ini ditulis dari proses tanya jawab yang dilakukan pada kegiatan talkshow di instagram live. 

 

Penjelasan tentang penyakit lupus

Secara umum dr. Cindy menyebutkan tentang penyakit lupus seperti yang sebagian telah dituliskan di atas. Lupus itu dari bahasa latin artinya serigala. Mengapa dinamakan serigala? Karena penyakit lupus itu sangat susah dikenali. Gejalanya banyak, sangat variatif, dan bisa mirip dengan berbagai penyakit lain karena dapat menyerang berbagai organ dalam tubuh manusia. 

(Image: dr. Cindy, M. Biomed, SpPD)

Ditambahkan oleh dr. Cindy, lupus itu penyakit autoimun, artinya, suatu penyakit yang disebabkan karena daya tahan tubuh diri sendiri yang menyerang sel-sel tubuh orang itu sendiri. Bukan penyakit menular. Lupus adalah penyakit autoimun yang bisa menyerang semua organ, terutama ke sendi dan kulit.

Lupus itu pada umumnya terjadi pada perempuan. Menurut studi WHO, kejadian lupus lebih tinggi pada perempuan, perbandingannya  8 : 1. Jadi pada perempuan 8-9 kali lebih tinggi dibanding pada laki-laki. Perempuan yang terkena penyakit ini umumnya kalangan muda (usia produktif), usia antara 20-30 tahun. 

Sendi yang terkena terutama sendi yang kecil seperti jari-jari tangan, jari-jari kaki, siku, dan lain-lain. Jarang menyerang sendi besar seperti lutut dan tulang belakang. 

Gejala pada kulit adalah timbul kemerahan pada kulit wajah, leher, atau bagian tubuh lain yang terekspos sinar matahari. Kemerahan di wajah sering kali membentuk seperti bentuk kupu-kupu, itulah gejala umum yang paling terlihat pada pasien lupus. Pasien lupus juga sering mengalami demam tidak disebabkan oleh infeksi, rambut rontok, serta sering sariawan tanpa rasa nyeri. 

“Kalau Anda mengalami gejala seperti itu, sebaiknya Anda langsung memeriksakan ke dokter. Bisa ke dokter umum dulu atau boleh ke dokter penyakit dalam. Bila ada kecurigaan ke arah lupus, dokter umum biasanya mengarahkan pasien untuk berkonsultasi ke dokter penyakit dalam. Lalu oleh dokter penyakit dalam dikategorikan lagi apakah serangannya ringan, sedang, atau berat. Kalau serangan berat bisa dirujuk ke ahlinya lagi yaitu penyakit dalam ahli/konsultan rematologi,” kata dr. Cindy.

Dokter Cindy menyatakan bahwa pasien lupus tidak bisa sembuh. Namun, pasien lupus bisa diobati hingga mencapai remisi. Remisi artinya, kondisinya tenang. Sebaiknya pasien lupus dideteksi secepat mungkin, sehingga bisa diberikan obat oleh dokter dengan dosis yang terkecil. Asalkan aktivitas penyakitnya terkendali, atau remisi, pasien bisa melakukan segala kegiatan produktif seperti masyarakat pada umumnya. 

 

Pasien lupus di masa pandemi Covid-19

Terkait sifat penyakit lupus (dan penyakit autoimun lainnya), pandemi Covid-19 ini tentu memberi tantangan berat. 

Dr. Cindy mengatakan, karena dasar dari penyakit lupus ini adalah disregulasi atau gangguan pengaturan daya tahan tubuh. Jadinya pasien lupus bisa sangat lemah daya tahan tubuhnya, apabila pasien ini sedang kondisinya serangan berat, atau belum terdiagnosis sehingga belum terobati. Sebaliknya, bila pasien ini sedang mengkonsumsi obat penekan imun yang dosisnya cukup tinggi, juga memiliki risiko terinfeksi berbagai penyakit (termasuk virus corona), dibandingkan orang lain yang dalam kondisi sehat. 

 

Pasien lupus tetap mengkonsumsi obat di masa pandemi

Dr. Cindy menjelaskan bahwa obat-obat untuk pasien lupus biasanya memang bersifat menekan atau menurunkan respon imun. Namun bila obat dihentikan juga bahaya, karena bagaimanapun kondisi pasien lupus harus di kondisikan menjadi stabil, dengan aktivitas ringan, dan dalam kondisi remisi. 

Dr. Cindy menganjurkan bagi pasien lupus untuk tetap mengkonsumsi obatnya, dalam hal ini tetap dengan konsultasi dokter, karena dosis yang dikonsumsi sangat tergantung pada kondisi pasien lupus itu sendiri.

Di masa pandemi Covid-19 dan penetapan pemerintah pada pelaksanaan PSBB, menurut dr. Cindy, perolehan obat untuk pasien lupus masih aman.

“Perolehan obat bagi pasien lupus saat PSBB ini tidak ada kendala. Kalau kasus pasien remisi, dokter bisa membekalkan obatnya itu 2 sampai 3 bulan, sehingga pasien tidak perlu sering-sering ke rumah sakit, mengingat risiko tertular kalau ke rumah sakit atau keluar rumah,” jamin dr. Cindy.

 

Pasien lupus tidak wajib berjemur

(Photo by Steve Art from Pexels)

Pada talkshow di IG live dengan dr. Cindy ada peserta yang menyakan apakah pasien lupus boleh berjemur untuk mencegah covid-19? Menjawab pertanyaan ini dr. Cindy menjelaskan dengan fakta bahwa berjemur atau tidak bagi pasien lupus memang dirasa kurang tepat. “Pasien lupus dianjurkan menghindari terkena matahari untuk mencegah timbulnya kekambuhan / relaps, dan wajib memakai tabir surya minimal SPF 30 jika hendak keluar rumah. Bahkan dianjurkan membawa dan mengenakan topi, pakaian berlengan panjang, atau payung pada siang hari yang terik untuk  melindungi bagian kulit yang terbuka / terpapar sinar matahari langsung. Sebagai alternatif berjemur untuk imunitas disaat covid pada pasien lupus adalah dengan konsumsi  suplemen vitamin D3 400-500 unit setiap hari,” tegas dr. Cindy.

 

Menjaga kesehatan di saat pandemi

Ketika ditanya bagaimana pola makanan sehat pasien lupus saat pandemi Covid-19 ini, Dr. Cindy menjawab, pada dasarnya pada pasien autoimun mudah terjadi penggumpalan darah, karena itu harus mengurangi makanan junk food, lemak jenuh tinggi, gula tinggi, makanan berpengawet. Makan yang seimbang 4 sehat 5 sempurna, perbanyak buah, sayur, susu, serta vitamin D3.

Mendengar saran dr. Cindy kita mengingat seperti saran untuk menjaga kesehatan secara umum kepada siapa saja.

“Ya memang,” kata dr. Cindy. “Kalau dikatakan bahwa pasien lupus rentan terhadap Covid-19, itu sama rentannya dengan lansia dan pengidap penyakit lain seperti HIV, kanker (dan pasien yang sedang menjalani kemoterapi), diabetes, tiroid, jantung, dan penyakit lain yang mengkonsumsi obat rutin lainnya,” tambahnya.

Sebagai penutup, dr. Cindy menganjurkan kepada pasien lupus, pasien penyakit lain, serta kepada siapa saja untuk tetap menjaga kesehatan di masa pandemi Covid-19 ini, seperti stay at home, rajin cuci tangan, pakai masker yang baik dan benar, tingkatkan konsumsi vitamin C dan D, istirahat yang cukup, makan bergizi, dan tetap berolah raga.

 

Baca Juga:

Tetap Makan Sehat Walaupun Low Budget, Apa Bisa?

Recommended Articles