Frui! Ajak Generasi Muda untuk Gemar Makan Buah

Di Indonesia, angka konsumsi buah masih dinilai masih kurang dari yang direkomendasikan. Itu sebabnya, Frui! sebagai penyalur buah-buahan di Indonesia berusaha mengajak generasi muda untuk mulai rutin konsumsi buah.

Frui! sendiri sudah memulai operasionalnya sejak 2017 dibawah PT. Agro Prima Sejahtera yang bergerak di industri agrobisnis. 

Menurut keterangan dari akun Youtube Perekonomian RI, rata-rata orang Indonesia hanya konsumsi buah sebanyak 88.5 gram per hari pada 2020. Ini masih lebih rendah dari rekomendasi WHO yaitu 150 gram per hari.

Secara umum, angka konsumsi tersebut memang masih rendah, namun menurut Christian Hardrianto, dari Departemen Marketing & Product Development Frui!, industri buah-buahan justru memiliki pasar yang besar. “Saat ini jumlah generasi milenial dan generasi Z sudah lebih dari 50% jumlah penduduk Indonesia. Tinggal bagaimana kita bisa mengambil hati mereka untuk mau konsumsi buah secara rutin,” terang Christian saat berbincang dengan Goodlife.

Data yang terangkum dari pemerintah menurut Christian adalah data secara umum untuk tingkat konsumsi, jadi tidak mencakup data yang lebih spesifik seperti bagaimana pertumbuhan dan minat konsumsi buah di daerah-daerah tertentu. “Di kota-kota besar seperti Jakarta sebetulnya minat makan buah itu tumbuh,” terang Christian.

Minat untuk konsumsi buah sebetulnya bertambah (Foto: Dok. Frui!)

Menurut Christian, lahan di Indonesia juga masih sangat luas untuk digunakan sebagai perkebunan. Itu sebabnya Frui! memilih untuk memiliki lahan perkebunan sendiri di daerah Lampung selain bekerjasama dengan beberapa petani di Pulau Jawa. “Ini artinya potensi pasar untuk buah-buahan itu masih besar,” terang Christian.

Beberapa jenis buah yang diproduksi di perkebunan Lampung adalah seperti pisang, nanas dan melon yang menurut Christian memiliki nilai produksi yang tinggi. “Misalnya pisang, ini panennya juga cepat dan banyak digemari karena harganya terjangkau dan makannya gampang,” terang Christian. Sementara itu Frui! Juga menjalin kemitraan dengan para petani, khususnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur untuk mengembangkan produk buah seperti alpukat, jeruk Bali dan jeruk biasa.

Saat ini Frui! masih berfokus pada pasar dalam negeri yang menurut Christian masih sangat menjanjikan dan belum menargetkan pasar di luar negeri. “Kami ingin kuat dulu di pasar lokal dulu dan menguatkan kerjasama dengan para petani karena potensi pasar buah di Indonesia sebetulnya masih sangat besar,” terang Christian.

Tingginya potensi pasar buah di Indonesia membuat Frui! fokus dulu untuk pasar dalam negeri daripada ekspor (Foto: Dok. Frui!)
Sponsored Links

Minat Makan Buah dan Sayur di Masa Pandemi

Meskipun pandemi memberikan dampak buruk bagi kebanyakan sektor industri, namun menurut Cristian, pandemi justru memberikan peluang baru bagi Frui!“ Pandemi ini seperti blessing in disguise dimana mulai banyak orang termasuk anak muda yang mulai sadar akan pentingnya makan buah dan sayur untuk jaga kesehatan,” terangnya.

Lalu, bagaimana dengan buah-buahan organik yang kini mulai menjadi tren untuk dikonsumsi? Menurut Christian pengertian buah organik sebetulnya terdiri dari 2 metode. Metode pertama adalah buah-buahan yang benar-benar tidak menggunakan bahan kimia buatan sama sekali mulai dari proses tanam hingga panen. Sedangkan metode yang kedua adalah buah-buahan yang tidak menggunakan bahan kimia hanya pada 2 minggu sebelum dipanen.

“Frui! saat ini menggunakan metode organik yang kedua. Memang masih dikembangkan dengan pupuk buatan dari pabrik, namun komposisinya terus kami kurangi dan 2 minggu sebelum panen tidak ada bahan kimia yang boleh digunakan pada tanamannya,” terang Christian.

Generasi Muda dan Buah-Buahan

Frui! saat ini juga berkolaborasi dengan para petani buah dan sayur terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. “Uniknya, mereka ini umumnya adalah para petani yang usianya masih muda. Ternyata anak muda sekarang mulai tertarik dengan bisnis buah juga,” jelas Christian. “Jadi, sebetulnya buah-buahan ini mulai digemari oleh generasi muda,” tambahnya.

Kondisi ini membuat Frui! meyakini bahwa minat konsumsi buah-buahan sebetulnya sedang tumbuh meskipun secara umum masih dianggap rendah. Keyakinan inilah yang membuat Frui! juga tampil dengan nuansa yang berbeda, yaitu dengan logo yang dihiasi warna-warna cerah yang identik dengan perasaan ceria anak muda. “Ini sengaja kita ciptakan untuk menarik minat konsumen anak muda,” terang Christian.

Itu sebabnya menurut Christian salah satu cara mengambil hati generasi muda adalah juga dengan menyertakan resep-resep makanan dan minuman sehat terkait buah-buahan di website resminya yaitu frui.co.id. 

Kebiasaan generasi muda sekarang yang senang belanja melalui e-commerce juga memberikan peluang untuk pasar buah-buahan. Menurut Christian, tingkat penjualan buah-buahan dari Frui! di pusat belanja seperti supermarket memang cenderung stabil dan tidak mengalami peningkatan, namun pada penjualan di e-commerce permintaannya meningkat terus terlebih setelah adanya pandemi.

“Saat ini orang mulai peduli untuk jaga kesehatan dengan makan sayur dan buah tapi mereka enggan pergi keluar untuk belanja. Itu sebabnya e-commerce ini sangat mendukung pasar buah-buahan di Indonesia,” terang Christian.

Buah musiman seperti durian masih didatangkan dari Malaysia dalam bentuk kemasan frozen (Foto: Dok. Frui!)

Frui! saat ini juga berfokus pada buah-buahan tropis yang memang sudah dikenal di Indonesia, seperti pisang, melon, jeruk, buah naga, nanas, alpukat, apel dan lengkeng. Sementara untuk buah-buahan yang punya masa panen cukup lama, seperti durian saat ini harus didatangkan dari Malaysia.

Konsumsi buah secara rutin memang masih belum dianggap terlalu penting bagi sebagian orang. Padahal dengan makan buah secara teratur kamu bisa mendapat manfaatnya untuk kesehatan dan juga bisa mencegah terjadinya penyakit.

Tertarik untuk mulai konsumsi buah secara rutin? kamu bisa melihat jenis buah-buahan segar dari Frui! melalui akun Instagram @frui.id dan website frui.co.id.  

Visited 4 times, 1 visit(s) today