Olahraga di Indonesia kini tak lagi dilihat sebatas urusan pertandingan, medali, atau prestasi atlet. Di balik aktivitas olahraga, ada ekosistem yang melibatkan bisnis, komunitas, brand, hingga masyarakat yang berpotensi menggerakkan roda ekonomi.
Pemerintah pun melihat sektor swasta punya peran penting dalam membangun ekosistem tersebut. Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi salah satu cara untuk membuat industri olahraga Indonesia tumbuh lebih kuat dan memberikan dampak yang lebih luas.
Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir mengatakan, olahraga seharusnya dipandang sebagai sebuah investasi, bukan sekadar aktivitas kompetitif.
“Sport bukan kegiatan, sport itu investasi. Investasi kesehatan, investasi kemanusiaan, investasi ke ekonomi,” kata Erick dalam konferensi pers di Jakarta.
Pernyataan tersebut menggambarkan bagaimana olahraga mulai ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas. Ketika sebuah lomba lari digelar, misalnya, yang bergerak bukan hanya para pelari. Ada brand yang terlibat, komunitas yang terbentuk, pelaku usaha yang mendapatkan peluang, hingga masyarakat yang ikut merasakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.
Gagasan itulah yang coba dibawa melalui Indonesia Sports Summit (ISS) 2026. Ajang yang digelar Kementerian Pemuda dan Olahraga ini mempertemukan pemerintah, pelaku industri, brand, komunitas, dan masyarakat dalam satu ruang untuk membangun kolaborasi di sektor olahraga.
Salah satu keterlibatan sektor swasta hadir melalui MILO yang terhubung dengan penyelenggaraan Milo Activ Indonesia Race (MAIR) Jakarta International 10K. Pengambilan race pack Jakarta International 10K menjadi bagian dari rangkaian kegiatan ISS dan melibatkan hingga 25.000 peserta.
Skala partisipasi tersebut memperlihatkan bahwa event olahraga dapat berkembang menjadi sebuah ekosistem dengan banyak kepentingan di dalamnya. Semakin besar sebuah event, semakin banyak pula titik temu antara olahraga, gaya hidup, komunitas, dan aktivitas bisnis.
ISS 2026 akan berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC) pada 11-13 September 2026. Pemerintah berharap pertemuan tersebut tidak berhenti sebagai agenda seremonial atau sekadar menjadi ajang mempertemukan stakeholder olahraga.
Yang lebih penting adalah bagaimana pertemuan tersebut melahirkan kolaborasi yang bisa berjalan setelah event selesai. Sebab, membangun industri olahraga tidak cukup hanya dengan menghadirkan kompetisi atau event besar. Dibutuhkan ekosistem yang membuat pemerintah, swasta, komunitas, dan masyarakat memiliki kepentingan untuk terus bergerak bersama.
Dengan pendekatan tersebut, olahraga memiliki peluang untuk memainkan peran yang lebih besar: menjaga kesehatan masyarakat, membangun interaksi sosial, sekaligus menciptakan aktivitas ekonomi.


