Self-Care Bukan Berarti Bisa Obati Diri Sembarangan, Ini Batas yang Perlu Dipahami

Di tengah tekanan yang semakin besar terhadap sistem layanan kesehatan di berbagai negara Asia-Pasifik, masyarakat dituntut tidak hanya menjadi penerima layanan kesehatan, tetapi juga lebih aktif memahami dan mengelola kesehatannya sendiri. Dalam konteks ini, literasi kesehatan menjadi salah satu kunci agar masyarakat mampu mengambil keputusan yang tepat, termasuk ketika menghadapi keluhan kesehatan ringan.

Momentum International Self-Care Day yang diperingati setiap tahun menjadi pengingat bahwa merawat diri atau self-care bukan sekadar tren gaya hidup. Bagi Asia-Pacific Self Medication Industry (APSMI), self-care yang dilakukan secara bertanggung jawab dapat menjadi bagian penting dalam memperkuat sistem kesehatan, terutama jika dibarengi dengan edukasi publik, akses terhadap produk kesehatan yang aman, dan kolaborasi lintas sektor.

Self-care sendiri mencakup kemampuan individu, keluarga, dan masyarakat untuk menjaga dan meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, hingga menangani kondisi kesehatan tertentu, baik dengan maupun tanpa bantuan tenaga medis.

Dengan literasi kesehatan yang memadai, masyarakat dapat mengambil langkah awal ketika mengalami gangguan kesehatan ringan. Namun, yang tak kalah penting adalah mengetahui batasnya. Artinya, seseorang juga perlu memahami kapan sebuah keluhan masih dapat ditangani secara mandiri dan kapan kondisi tersebut membutuhkan pemeriksaan serta penanganan dokter.

Sponsored Links

Self-Care yang Benar Bisa Perbaiki Finansial

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menempatkan intervensi self-care sebagai salah satu bagian penting dalam upaya mewujudkan kesehatan bagi semua orang sekaligus mempercepat pencapaian Universal Health Coverage (UHC) tanpa hambatan finansial.

Chairman Asia-Pacific Self-Medication Industry (APSMI) Rachmadi Joesoef mengatakan, penerapan self-care yang bertanggung jawab tidak hanya memberikan manfaat bagi individu, tetapi juga dapat berdampak pada sistem kesehatan dan perekonomian secara lebih luas.

“Berbagai bukti menunjukkan bahwa self-care yang bertanggung jawab memberikan dampak positif yang signifikan, tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi sistem kesehatan dan perekonomian,” ujar Rachmadi.

Berdasarkan laporan riset sosio-ekonomi 2026 yang dirilis Global Self-Care Federation (GSCF), self-care yang bertanggung jawab disebut berpotensi menghemat sekitar USD 144 miliar atau lebih dari Rp2.200 triliun per tahun dalam anggaran kesehatan global. Selain itu, penerapannya juga diperkirakan dapat menghemat sekitar 2,2 jam waktu pelayanan dokter dan menghasilkan tambahan 43,6 miliar hari produktif.

Dampaknya pun tidak berhenti pada efisiensi biaya dan waktu. Self-care juga dinilai berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.

Rachmadi menambahkan, manfaat tersebut masih berpotensi meningkat hingga 50 persen pada 2040 apabila didukung kebijakan yang mendorong peningkatan literasi kesehatan, akses terhadap obat bebas atau over-the-counter (OTC) yang terjamin kualitasnya, serta regulasi yang mendukung praktik self-care secara aman dan bertanggung jawab.

Director-General Global Self Care Federation (GSCF) Greg Perry melihat self-care sebagai salah satu pendekatan yang dapat membantu sistem kesehatan menghadapi tekanan finansial yang semakin besar.

“Ketika diintegrasikan secara penuh, self-care memberikan tingkat pengembalian investasi yang sangat tinggi: memberdayakan individu, mendukung komunitas, dan menjadi solusi paling efisien bagi sistem kesehatan global yang tengah menghadapi tekanan finansial,” kata Greg.

Self Care
Penanganan self-care yang benar bisa berikan dampak positif pada sistem layanan kesehatan (Foto: Pexels)

Secara sederhana, ketika seseorang mampu menangani keluhan kesehatan ringan dengan tepat di rumah, kapasitas layanan kesehatan dapat lebih banyak digunakan untuk pasien dengan kondisi yang membutuhkan penanganan medis segera dan kompleks.

Namun, di sinilah literasi kesehatan memainkan peran penting. Self-care tidak dapat dimaknai sebagai kebebasan untuk mengonsumsi obat tanpa pertimbangan. Pengobatan mandiri yang bertanggung jawab tetap membutuhkan pengetahuan dan kehati-hatian.

Masyarakat perlu memahami cara memilih obat bebas yang sesuai, membaca informasi pada label dan kemasan, mengikuti aturan penggunaan, serta mengenali tanda-tanda yang menunjukkan bahwa keluhan kesehatan tidak lagi tepat ditangani sendiri.

“Self-care yang bertanggung jawab dimulai dari literasi kesehatan. Ketika masyarakat memiliki pengetahuan dan kepercayaan diri untuk mengelola gangguan kesehatan ringan dengan tepat, mereka tidak hanya meningkatkan kualitas kesehatan pribadi, tetapi juga membantu sistem layanan kesehatan fokus pada pasien yang membutuhkan penanganan medis kompleks,” ujar Rachmadi.

Menurutnya, peningkatan literasi kesehatan tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara regulator, tenaga medis, industri, akademisi, dan masyarakat agar pemahaman mengenai self-care dapat berkembang secara tepat dan berbasis bukti.

Pembahasan mengenai literasi kesehatan dan penguatan ekosistem self-care juga akan menjadi bagian dari agenda APSMI Self-CARER Bali Summit 2026. Forum regional tersebut akan mempertemukan regulator, pembuat kebijakan, pakar kesehatan global dan regional, serta pemimpin industri dari kawasan Asia-Pasifik.

APSMI Bali Summit 2026 dijadwalkan berlangsung pada 29 Oktober hingga 1 November 2026. Pertemuan ini akan menjadi ruang untuk berbagi pengalaman dan praktik terbaik dalam membangun kebijakan yang dapat mengintegrasikan self-care ke dalam sistem kesehatan nasional.

Di tengah tantangan layanan kesehatan yang semakin kompleks, kemampuan masyarakat untuk merawat dirinya sendiri memang menjadi semakin penting. Namun, self-care yang sesungguhnya bukan tentang menggantikan peran dokter, melainkan tentang memahami kapan seseorang bisa mengambil langkah pertama secara mandiri dan kapan harus menyerahkan keputusan kepada tenaga medis.

Sebab, merawat diri bukan hanya soal tahu cara mengobati, tetapi juga tahu kapan harus mencari pertolongan.