Pantaskah Kita Bilang “Merdeka” Hari ini?

Setiap tahun, kata “merdeka” kembali memenuhi ruang publik. Ia hadir dalam upacara, spanduk, pidato, unggahan media sosial, hingga berbagai perayaan yang meriah. Namun, di tengah situasi negara yang penuh kegelisahan, ketidakpastian, dan berbagai persoalan sosial, ada satu pertanyaan yang mungkin terasa tidak nyaman untuk diajukan: pantaskah kita bicara tentang merdeka saat ini?

Pertanyaan ini bukan tentang menolak kemerdekaan atau mengingkari sejarah. Justru sebaliknya, ini adalah upaya untuk memahami kembali makna merdeka dalam kehidupan sehari-hari. Sebab kemerdekaan bukan hanya tentang terbebas dari penjajahan secara fisik. Ia juga menyangkut kebebasan untuk hidup dengan layak, merasa aman, menyampaikan pendapat, mendapatkan kesempatan yang adil, dan memiliki harapan tentang masa depan.

Sponsored Links

Merdeka Tidak Selalu Berarti Merasa Bebas

Secara administratif, kita mungkin hidup di negara yang merdeka. Tetapi secara psikologis, banyak orang menjalani hidup dengan perasaan yang justru jauh dari kata bebas.

Ada yang bekerja keras setiap hari, tetapi terus dihantui kecemasan tentang kondisi ekonomi. Ada yang punya pekerjaan, tapi merasa tidak punya kendali atas hidupnya sendiri. Ada yang aktif di media sosial, tetapi memilih diam ketika melihat sesuatu yang dianggap tidak adil karena takut mendapat serangan atau konsekuensi sosial.

Tekanan untuk sukses, biaya hidup yang meningkat sementara pendapatan nyaris tak bergerak, ketidakpastian pekerjaan, tuntutan sosial, dan arus informasi yang tidak pernah berhenti membuat banyak orang mengalami kelelahan mental. Kita mungkin tidak sedang berperang secara fisik, tetapi banyak orang menjalani perang yang tidak terlihat: melawan kecemasan, rasa tidak aman, perasaan tertinggal, hingga ketakutan terhadap masa depan.

Merdeka Tapi Enggan Dikritik

Masyarakat yang sehat bukan masyarakat yang selalu sepakat. Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang mampu berbeda pendapat tanpa kehilangan rasa kemanusiaan.

Di era media sosial, perbedaan pandangan sering berubah menjadi konflik personal. Orang mudah dilabeli hanya karena memiliki opini berbeda. Percakapan publik berubah menjadi arena saling serang. Akibatnya, banyak orang memilih diam bukan karena tidak peduli, tetapi karena lelah menghadapi konsekuensi sosial dari bersuara.

Jika kemerdekaan hanya dirayakan ketika semua orang mengatakan hal yang sama, maka mungkin kita perlu bertanya kembali: ini merdeka untuk siapa?

Foto: Pexels

Merdeka Tapi Kesepian

Kemerdekaan juga terkait dimensi sosial. Kita tidak hidup sendirian. Kesehatan mental seseorang dipengaruhi oleh kualitas hubungan, rasa memiliki, dan dukungan dari lingkungan.

Namun, kehidupan modern membuat banyak orang semakin terhubung sekaligus semakin terisolasi hingga akhirnya kesepian. Hanya saja orang terlalu gengsi untuk mengakuinya!

Kita punyai ratusan kontak di ponsel, tapi belum tentu punya seseorang yang bisa benar-benar kita hubungi ketika kita sedang berada di titik terendah. Kita bisa melihat kehidupan orang lain setiap hari melalui layar media sosial, tetapi tetap merasa kesepian.

Di tengah situasi seperti ini, merdeka seharusnya tidak dimaknai sebagai kebebasan individual semata, tapi sebuah lingkaran yang saling menjaga dan peduli.

Rasanya, kita perlu mengembalikan makna kemerdekaan pada sesuatu yang lebih sederhana sekaligus lebih sulit: kemampuan untuk hidup berdampingan dengan empati.

Pura-Pura Merdeka dengan Status Palsu

Ada satu bentuk tekanan lain yang sering tidak kita sadari: keharusan untuk selalu terlihat baik-baik saja.

Di media sosial, kita terbiasa merayakan pencapaian. Kita membagikan pekerjaan baru, rangkaian meeting yang bikin terlihat sibuk dan penting, makan di restoran mahal, menginap di hotel mewah, perjalanan baru, dan kehidupan yang terlihat semakin baik. Tapi, di balik itu, banyak orang mungkin sedang berjuang menghadapi masalah yang tidak terlihat.

Mungkin sudut kemerdekaan yang paling penting hari ini adalah kemampuan untuk mengakui bahwa kita sedang tidak baik-baik saja tanpa merasa malu. Merdeka untuk berbagi foto makan di warung nasi pinggir jalan, merdeka untuk upload status “ditolak klien lagi, guys!”, merdeka untuk berani tidak pamer, merdeka untuk mengubah pilihan hidup, merdeka untuk bilang “aku gagal”, merdeka untuk bilang “masa bodoh dengan orang lain, ini hidupku!”.

Jadi, Pantaskah Bicara “Merdeka” Saat Ini?

Mungkin jawabannya: justru sekarang kita harus membicarakannya! Bukan karena dipaksa pemerintah, tapi karena makna kemerdekaan selalu berkembang.

Dulu, merdeka mungkin berarti terbebas dari penjajahan. Hari ini, ia juga berarti terbebas dari ketakutan yang terus menerus, dari ketidakadilan yang dianggap biasa, dari tekanan untuk selalu diam, dan dari kesepian yang membuat kita merasa harus menghadapi semuanya sendirian.

Kemerdekaan juga berarti punyai ruang untuk mempertanyakan arah negara tanpa dianggap sebagai musuh. Punya lingkungan sosial yang memungkinkan kita berbeda tanpa harus saling membenci, beribadah tanpa harus diusir.

Merdeka, mungkin, bukan tentang seberapa keras kita mengucapkannya setiap tahun, tetapi tentang seberapa nyata orang-orang di dalamnya bisa merasakan maknanya setiap hari.