Semua Orang Kini Terobsesi pada Wellness, Tapi Kenapa Kita Justru Makin Stres?

Dari journaling, matcha, Pilates, hingga digital detox, wellness telah menjadi bagian dari gaya hidup modern. Namun, di tengah maraknya tren hidup sehat, mengapa semakin banyak orang merasa lelah, cemas, dan tertekan untuk menjalani hidup yang lebih baik?

Ada masa ketika menjaga kesehatan berarti makan cukup, tidur teratur, dan berolahraga sesekali. Kini, wellness telah berkembang menjadi sebuah ekosistem gaya hidup yang menawarkan hampir semua hal: meditasi untuk ketenangan pikiran, Pilates untuk tubuh yang lebih bugar, cold plunge untuk pemulihan, suplemen untuk mendukung kesehatan, hingga aplikasi yang memantau kualitas tidur. Semua tampak menjanjikan satu hal: kehidupan yang lebih baik. Namun, di tengah derasnya tren wellness, muncul pertanyaan yang semakin sulit diabaikan: mengapa upaya untuk merasa lebih baik justru bisa membuat kita semakin tertekan?

Sponsored Links

Ketika Wellness Berubah Menjadi Tugas yang Harus Diselesaikan

Wellness pada dasarnya bukan sesuatu yang bermasalah. Memperhatikan kesehatan fisik dan mental, membangun kebiasaan baik, serta meluangkan waktu untuk diri sendiri merupakan bagian penting dari kehidupan yang seimbang. Persoalannya muncul ketika wellness tidak lagi diperlakukan sebagai sarana untuk merawat diri, melainkan sebagai proyek tanpa akhir untuk mengoptimalkan diri.

Bangun tidur harus melakukan morning routine. Makan harus mengikuti pola tertentu. Olahraga harus konsisten. Tidur harus mencapai skor ideal. Waktu luang pun diisi dengan aktivitas yang dianggap produktif bagi kesehatan mental. Bahkan istirahat bisa terasa seperti sesuatu yang harus dilakukan dengan metode yang tepat. Pada titik tertentu, kehidupan sehari-hari tidak lagi terasa sebagai ruang untuk menjalani hidup, tetapi seperti daftar tugas yang harus dituntaskan demi menjadi versi diri yang lebih baik.

Ironisnya, ketika wellness menjadi kewajiban, aktivitas yang seharusnya memberi energi justru berpotensi mengurasnya. Seseorang mungkin merasa bersalah karena melewatkan sesi olahraga, tidak sempat bermeditasi, atau kembali mengonsumsi makanan yang dianggap tidak sehat. Alih-alih merasa lebih terawat, mereka justru terus-menerus merasa kurang.

Wellness Culture dan Tekanan untuk Selalu Menjadi Versi Terbaik Diri

Media sosial turut mengubah cara kita memandang kesejahteraan. Di dalamnya, wellness tidak hanya hadir sebagai kebiasaan, tetapi juga sebagai citra kehidupan yang ideal. Kamar yang rapi, makanan bernutrisi dengan tampilan menarik, tubuh yang bugar, rutinitas pagi yang terstruktur, dan perjalanan untuk mencari ketenangan menjadi bagian dari narasi hidup yang ingin ditampilkan.

Masalahnya, apa yang terlihat di layar sering kali hanya merupakan potongan kecil dari kehidupan seseorang. Kita melihat hasil akhirnya, tetapi tidak selalu mengetahui konteks, sumber daya, waktu, dan kondisi yang memungkinkan gaya hidup tersebut dijalankan. Akibatnya, standar wellness yang seharusnya bersifat personal dapat berubah menjadi standar sosial yang diam-diam kita gunakan untuk mengukur diri sendiri.

Tekanan ini semakin terasa di tengah kehidupan perkotaan yang penuh tuntutan. Setelah seharian bekerja, menghadapi kemacetan, mengejar target, dan mengelola berbagai persoalan personal, seseorang masih merasa harus menjalankan rutinitas wellness agar tidak tertinggal. Bahkan upaya untuk merawat diri bisa berubah menjadi kompetisi yang tidak pernah benar-benar selesai.

Bukan Selalu Kurang Self-Care, Bisa Jadi Masalahnya Ada di Sistem

Salah satu narasi yang sering muncul dalam industri wellness adalah bahwa kita memiliki kendali besar atas kualitas hidup melalui kebiasaan sehari-hari. Ada benarnya. Pola tidur, aktivitas fisik, asupan makanan, dan kemampuan mengelola stres memang dapat memengaruhi kesehatan. Namun, narasi tersebut menjadi problematis ketika seluruh persoalan hidup seolah-olah dapat diselesaikan melalui rutinitas personal.

Bagaimana seseorang bisa tidur lebih awal jika pekerjaannya menuntut lembur hingga malam? Bagaimana seseorang dapat menikmati makanan bernutrisi jika harga makanan sehat sulit dijangkau? Bagaimana seseorang dapat benar-benar beristirahat jika beban kerja terus bertambah dan batas antara kehidupan pribadi dengan pekerjaan semakin kabur?

Tidak semua persoalan kesehatan mental dapat diselesaikan dengan meditasi selama sepuluh menit, membeli jurnal baru, atau mengambil cuti singkat. Terkadang, sumber stres bukan terletak pada kurangnya self-care, melainkan pada kondisi kerja yang tidak sehat, tekanan finansial, relasi yang melelahkan, atau lingkungan sosial yang tidak mendukung. Wellness yang terlalu berfokus pada perubahan individu berisiko mengabaikan faktor-faktor struktural yang ikut menentukan kesejahteraan seseorang.

Merawat diri tetap penting, tetapi merawat diri tidak seharusnya menjadi alasan untuk membebankan seluruh tanggung jawab kesehatan kepada individu.

Wellness yang Dipasarkan sebagai Solusi untuk Segalanya

Pertumbuhan industri wellness juga membawa persoalan tersendiri. Ketika ketenangan, kebugaran, tidur berkualitas, dan kebahagiaan dikemas sebagai produk, muncul kecenderungan untuk menganggap bahwa setiap kekurangan dalam hidup dapat diatasi dengan membeli sesuatu.

Sulit tidur? Ada suplemen dan perangkat pemantau tidur. Merasa lelah? Ada minuman dengan klaim peningkat energi. Sulit berkonsentrasi? Ada aplikasi dan program produktivitas. Tidak percaya diri dengan tubuh sendiri? Ada program transformasi fisik. Tidak ada yang salah dengan menggunakan produk atau layanan yang memang bermanfaat, tetapi konsumen perlu memahami bahwa tidak semua klaim wellness memiliki landasan ilmiah yang kuat, dan tidak semua kebutuhan kesehatan dapat dijawab melalui konsumsi.

Lebih jauh lagi, budaya wellness dapat menciptakan bentuk kecemasan baru: takut tidak cukup sehat, takut menua dengan cara yang salah, takut kehilangan kebugaran, atau takut tidak menjalani rutinitas yang dianggap ideal. Dalam konteks ini, rasa tidak aman bukan sekadar efek samping, tetapi dapat menjadi sesuatu yang terus dieksploitasi oleh pasar.

Pertanyaan pentingnya bukan hanya apakah suatu tren wellness bermanfaat, melainkan apakah tren tersebut benar-benar membantu kita menjalani hidup atau justru membuat kita merasa selalu memiliki kekurangan yang harus diperbaiki?

Kembali pada Makna Wellness yang Lebih Manusiawi

Wellness tidak harus terlihat menarik di media sosial. Ia tidak selalu membutuhkan peralatan mahal, jadwal yang padat, atau rutinitas yang sempurna. Bagi sebagian orang, wellness mungkin berarti berjalan kaki setelah bekerja. Bagi yang lain, ia bisa berarti makan tanpa rasa bersalah, tidur lebih lama, berbicara dengan orang yang dipercaya, atau berani mengatakan tidak pada pekerjaan tambahan.

Ada pula masa ketika hal terbaik yang bisa dilakukan untuk diri sendiri bukanlah menambah kebiasaan baru, melainkan mengurangi tuntutan yang tidak perlu. Tidak semua hari harus produktif. Tidak semua aktivitas harus memiliki manfaat yang terukur. Tidak semua waktu luang harus diubah menjadi kesempatan untuk meningkatkan kualitas diri.

Pendekatan yang lebih sehat terhadap wellness adalah memahami kebutuhan tubuh dan pikiran secara realistis, mempertimbangkan kondisi hidup yang sedang dijalani, serta memilih kebiasaan yang dapat dipertahankan tanpa menambah tekanan. Jika sebuah rutinitas membuat seseorang semakin cemas, merasa bersalah, atau terobsesi dengan kesempurnaan, mungkin sudah waktunya mengevaluasi kembali cara rutinitas tersebut dijalankan.

Pada akhirnya, wellness bukan tentang seberapa banyak hal yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki diri, melainkan seberapa jauh kita mampu menciptakan kehidupan yang benar-benar terasa layak untuk dijalani. Sebab, jika upaya untuk menjadi lebih sehat justru membuat kita lupa bagaimana menikmati hidup, mungkin yang perlu kita pulihkan bukan hanya tubuh dan pikiran, tetapi juga cara kita memaknai kesejahteraan itu sendiri.